Presiden Jokowi Sayangkan Pengajar SMK Masih Normatif. Harusnya Ada Spesifikasi Pengajaran Untuk Pendidikan SMK



Presiden Joko Widodo menyayangkan sistem pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK yang menurutnya, belum sepenuhnya tepat.

BACA JUGA: Sungguh Miris, Seorang Bayi Tak Berdosa Ditinggalkan Begitu Saja Didepan Masjid Dengan Selembar Surat yang Isinya Ketidak Mampuan Merawat

Mantan Gubernur DKI tersebut mengatakan, tenaga pengajar di SMK saat ini, 70 sampai 80 persen masih diisi guru normatif. Jokowi mendapatkan data itu dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhajir Effendy.

Guru normatif adalah guru yang mengajarkan suatu ilmu secara umum yang karena itu tak berbeda dengan pengajar di Sekolah Menengah Atas atau SMA.

"Kita memiliki sekarang ini, SMK. Sekolah-sekolah kejuruan. Tapi dalam praktiknya, kalau kita mau melihat lebih detail ke lapangan, apa yang keliru dari SMK kita? 70 sampai 80 persen guru-gurunya adalah guru normatif," ujar Jokowi saat berbicara di Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta.

Jokowi mencontohkan, guru-guru normatif yang mengajar di SMK adalah guru mata pelajaran kimia, fisika, matematika dan Pendidikan Moral Pancasila (PMP).

Padahal seharusnya, sesuai dengan label sekolah kejuruan maka SMK seharusnya bisa menjadi lembaga pendidikan yang lebih banyak mengajarkan ilmu spesifik kepada siswa. Jika hal itu bisa dioptimalkan, niscaya akan lahir tenaga-tenaga praktisi muda yang cakap dan berdaya saing.

"Seharusnya di SMK, yang lebih banyak adalah guru-guru yang melatih, membuat jendela, melatih mau bikin bangunan, melatih memperbaiki mesin, melatih assembly (perakitan) mesin," ujarnya menambahkan.

Untuk itu, Jokowi menekankan perlunya SMK menjalin kerja sama dengan dunia industri juga asosiasi-asosiasi profesi yang berhubungan dengan keterampilan yang diajarkan di SMK. Dengan begitu, dunia industri akan bisa mengirimkan tenaga terampil untuk menjadi pengajar di SMK.

Para pengajar di SMK diharapkan adalah orang yang memang berkecimpung di bidangnya, bukan hanya figur yang mengajarkan ilmu pengetahuan umum seperti di SMA.

"Karena kita ingin orang teknik yang ada di pabrik bisa kita pinjam untuk memberikan pelatihan di SMK-SMK kita.”
Top