Pernah Terlintas Pertanyaan Ini Dalam Benakmu? Jangan Risau, Itu Tandanya Kamu Sudah Mulai Beranjak Dewasa


Banyak yang mengatakan bahwa kedewasaan seseorang adalah diukur dari bagaimana ia banyak mendapatkan pengalaman hidup dan bukan dari usia semata. Ya, itulah yang biasanya menjadi indikator bahwa seseorang sudah memasuki kedewasaan atau tidak. Banyak yang masih muda, namun pola pikir dan sikapnya sudah seperti layaknya orang dewasa. Namun tak jarang pula orang dewasa yang sifatnya masih kekanak-kanakan meskipun sudah berkeluarga.

Baca juga : Alasan Ini yang Tepat Kalau Dia Si Penyuka Kopi, Patut Menjadi Pasangan Masa Depanmu Nanti!

Dewasa atau tidaknya seseorang lebih ditentukan oleh kondisi mental. Bagaimana caranya menjalani hidup ini serta bagaimana caranya menghadapi sebuah situasi. Jika dulu kita semua masih disibukkan dengan hal-hal yang hany bersifat sementara. Kini kamu sudah tidak punya waktu lagi untuk memikirkan hal seperti itu. Di kepala kini sudah berjubel pertanyaan yang membuat menerawang jauh kedalam dirimu sendiri untuk meminta jawaban.

Berikut ini adalah pertanyaan yang mungkin pernah singgah di pikiran kalian. Jika hal itu terjadi, jangan takut untuk mencari jawaban karena selamat mungkin kamu sudah dewasa.

1. ‘Umur udah segini, tapi perasaan hidupku masih gini-gini aja’


Semakin kamu dewasa, semakin kamu sering mengevaluasi diri. Sesekali ada rasa sesal karena sekian lama waktu berjalan, pencapaian hidupmu belum seberapa. Mungkin sesekali kamu juga iri dengan teman-temanmu yang terlihat lebih mentereng. Rasa minder itu pasti pernah ada. Tapi tak perlu panik, itu wajar, asal jangan terlalu lama. Kamu harus segera membuat rencana.

2. ‘Yang kulakukan ini benar apa salah sih?’


Setelah mengambil sebuah keputusan besar, atau mengambil sikap kepada seseorang, apakah kamu sering bertanya apakah kamu sudah benar? Itu hal yang wajar. Rasa tak yakin pada apa yang dilakukan sendiri itu bukan tanda bahwa kamu kurang percaya diri, melainkan kamu sudah belajar untuk melihat persoalan dari banyak sisi.

3. ‘Persetan. Toh, mereka nggak tahu apa-apa’


Dulu omongan orang adalah hal yang sangat menakutkan. Bagimu, pendapat orang adalah hal yang wajib dipedulikan karena kamu selalu ingin disenangi semua orang. Tapi semakin dewasa, kamu semakin pintar memilah mana yang penting dan tidak. Tidak semua omongan orang perlu didengarkan. Karena hidup ini kamu yang menjalani, dan orang lain tidak tahu apa-apa.

4. ‘Apa sih yang kuharapkan dari kerjaan ini?’


Saat dulu kamu baru menjadi sarjana pekerjaan apa saja kamu terima atas nama cari pengalaman. Tak muluk-muluk berharap gaji tinggi, yang penting cukup untuk membuatmu mandiri dan tidak merepotkan orang tua lagi. Namun kini, kamu mulai mempertanyakan apakah pekerjaanmu itu cukup menjanjikan? Apakah ada jenjang karir yang jelas, dan apakah gaji yang ditawarkan layak? Sederhana saja: sekarang kamu mulai memikirkan masa depan dan hari-hari tua.

5. ‘Buat apa?’


Jiwa yang masih muda seringkali hanya mengikuti kesenangan saja. Ini dan itu dilakukan tanpa memikirkan akibatnya. Belanja barang-barang yang diinginkan tanpa tahu untuk apa. Ini dan itu diiyakan hanya supaya ikut berpartisipasi. Namun bila kini kamu berhenti mengiyakan semua hal dan mulai mempertanyakan segala hal, berarti benar, kamu sudah dewasa. Karena kamu tidak mau melakukan hal yang sia-sia.

Baca juga : Cewek Wajib Peka! Ini Tanda Saat Kamu Dipacarin Hanya Karena Si Dia Kepepet Nggak Nemu Lainnya.

6. ‘Jodoh itu beneran ada nggak sih?’


Dulu kamu percaya begitu saja bahwa semua ada pasangannya. Jadi kamu tak perlu khawatir tidak dapat jatah, karena ada orang yang diciptakan khusus untukmu. Namun, melihat kenyataan kini kamu jadi pesimis sendiri. Bukannya apa-apa, jumlah perempuan dan laki-laki yang tak sama, lalu banyaknya orang yang memutuskan untuk tidak menikah, membuatmu bertanya-tanya: Apa iya ada seseorang yang diciptakan untukmu di luar sana? Bagaimana bila jodohmu adalah orang yang memutuskan untuk tidak menikah selamanya?

7. ‘Ternyata Bapak sama Ibu sudah tua ya?’


Selama ini kamu terlalu sibuk mengejar mimpi. Berangkat pagi-pagi dan pulang malam hari. Berbincang dengan keluarga pun hanya sekadarnya. Kamu yang merantau pulang setahun sekali, menelepon orang tua seminggu sekali. Di satu momen nanti, kamu akan menyadari bahwa di saat kamu sibuk bekerja dan mengejar cita-cita, orang tuamu juga menua. Berapa banyak waktu yang tersisa?

8. ‘Ayah dan Ibu bangga nggak sih padaku?’


Di momen ketika kamu menyadari bahwa orang tuamu semakin menua, mungkin kamu juga bertanya-tanya apakah selama ini kamu sudah cukup berbakti kepada mereka? Apakah kamu sudah bisa menjadi anak yang mereka gadang-gadang saat kecil dulu? Apakah apa yang kamu berikan sudah cukup mereka bangga? Karena meskipun kamu harus menghidupi mimpimu sendiri, kamu tentu ingin menjadi anak yang sesuai dengan harapan orang tua.

Tak perlu takut menghadapi pertanyaan-pertanyaan dalam diri. Pertanyaan-pertanyaan itu justru memaksa kita untuk berpikir kritis dan bersikap dewasa menghadapi segala problematika kehidupan. Sebab kamu memang bukan pohon yang tidak bisa pindah ke mana-mana, ataupun kantong plastik yang ikut saja ke mana angin membawanya. Kamu harus tahu bahwa kamu bisa memilih hidupmu sendiri dan juga mampu mengarungi kehidupan untuk menulis setiap cerita yang baru dalam buku perjalananmu.

Top