Kiai Maman: Pelaku Pemboman Gereja Oikumene Samarinda Tidak Memahami Pengertian yang Benar akan Jihad


H Maman Imanulhaq selaku Ketua Lembaga Dakwah PBNU (LDNU) menyayangkan kembali terjadi aksi peledakan bom yang kali ini di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur.

Menurut anggota DPR RI ini peledakan bom di Gereja ini makin menambah panjang derita kita dan kekhawatiran kita akan masa depan Indonesia yang damai.
Apalagi menurut anggota Komisi VIII DPR RI pelaku memakai kaos dengan kalimat Jihad.

"Ini tentu harus menjadi perhatian kita bersama masih banyak orang yang tidak memahami pengertian yang benar akan jihad," tegas Kiai Maman seperti yang dilansir dari laman Tribunnews.com.

Kiai Maman tegaskan, jihad seharusnya dimaknai kritis, ilmiah, rasional dan itu dimulai dari ijtihad atau belajar sungguh-sungguh.

"Para pelaku yang menghancurkan gereja dan yang menjadi korban adalah anak-anak itu, adalah orang-orang yang tidak pernah menggunakan rasionya untuk berpikir soal agama," ujar Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini melalui sambungan teleponnya kepada Tribunnews.com.

Kiai Maman menjelaskan agama hadir, untuk nilai-nilai kemanusian.

Agama hadir untuk memberikan nilai perdamaian, bukan menebar kebencian dan dendam. Apalagi mengorbankan orang-orang tidak berdosa.

"Kita berbeda agama, berbeda keyakinan. Namun itu menjadi alasan untuk kita saling menghancurkan, saling menegasikan."

"Perbedaan harus ditempatkan pada konteks yang lebih luas yaitu lita‘arafu, yakni saling kenal mengenal, saling mengarifi, saling mengasihi," pesan Kiai Maman.

Oleh sebab itu Kyai Maman mengimbau kepada seluruh rakyat Indonesia dan umat manusia umumnya, untuk memahami kembali nilai jihad.

Yakni, imbuh Kiai Maman, jihad harus diletakkan pada konteks kerja keras kita melakukan perubahan di atas dunia ini.

"Dan itu dimulai dari bagaimana kita menggunakan rasionalitas kita serta Mujahadah, rasa laku batin kita," ujar Kyai Maman.

Orang-orang yang melakukan kekerasan dan aksi teror seperti di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, menurutnya, sesungguhnya tidak mengerti akan makna jihad itu sendiri.

Sebelumnya, Ketua Komisi VIII DPR Ali Taher Parasong mengutuk ledakan diduga bom di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur. Ali Taher mengatakan sikap intoleransi dalam peristiwa tersebut tidak sejalan dengan NKRI.

"Apapun motovasinya. Kita sangat menyayangkan. Oleh karena itu, saya mengutuk keras atas pemboman gereja dan tempat ibadah manapun karena itu sangat bertentangan dengan prinsip kehidupan bernegara apalagi dilandasi oleh Ketuhanan Yang Maha Esa," kata Ali Taher disela-sela Rapimnas PAN, Hotel Bidakara, Jakarta.

Ali mengingatkan semua pihak harus memelihara kemajemukan Indonesia. Ia mengatakan kemajemukan merupakan ciri khas Indonesia.


Ali menuturkan perbedaan pendapat dapat diselesaikan melalui kelompok sosial termasuk DPR dan pemerintah. Oleh karena itu, Ali berharap pihak penegak hukum segera mengusut tuntas motivasi serta latar belakang kasus pemboman gereja itu.

Top