Inilah Keunikan Kampung Kuno dari Semarang


masjid kuno At Taqwa, Sekayu adalah kampung bersejarah di Kota Semarang, Jawa Tengah. Masjid berarsitektur Jawa ini memiliki saka (tiang) tunggal penyangga atap model tumpang.

Konon, masjid ini dibangun Kiai Kamal sekitar tahun 1413. Bentuk asli masjid tetap dipertahankan, terutama arsitektur bagian dalam, saat direnovasi tahun 2006.

Tokoh masyarakat Kampung Sekayu, Ahmad Arif (63), mengungkapkan, Sekayu terdiri dari Sekayu Tumenggungan, Sekayu Kepatihan, dan Sekayu Kramatjati.

Dinamai Sekayu karena sekitar masjid dulu merupakan lokasi penimbunan kayu jati dari hutan jati di Grobogan, Kendal, dan sekitarnya. Letak Kampung Sekayu berada di samping Kali Semarang, dahulu kala merupakan jalur lalu lintas perahu dan kapal.

”Ciri khas rumah asli Sekayu, rumah tinggal kuno, terbuat dari kayu jati berarsitektur Indis, gaya campuran rumah Jawa dengan gaya Belanda. Rumah kuno sekarang tidak terlalu banyak,” ujar Ahmad, yang pernah menjadi Ketua Tim Tujuh.

Tim Tujuh dibentuk warga Sekayu untuk mempertahankan keberadaan Sekayu setelah tahun 2008 muncul pembangunan Mal Paragon. Kampung Sekayu telah kehilangan wilayah Rukun Tetangga (RT) 01, meliputi 20-22 rumah, yang sebagian rumah itu khas Sekayu, seperti yang dirangkum dari laman kompas.com.

Ahmad menunjukkan bentuk asli rumahnya. Ruang tamu berdinding kayu jati warna kuning gading itu memiliki pintu kembar, baik untuk kamar maupun pintu depan. Ciri khas pintu jawa Sekayu, di atas pintu ada lubang angin berbentuk cakra.

Dari segi sejarah, ujar Ahmad, Sekayu pernah menjadi pusat pemerintahan (Dalem Kanjengan) setelah pindah dari Bubahan ke Gabahan, kemudian Sekayu, dan akhirnya ke Kanjengan, depan alun-alun Masjid Besar Kauman.

Sebelah barat Sekayu, dibatasi Jalan Pemuda, juga terdapat Kampung Basahan. Dinamai Basahan, menurut ceritanya, karena pernah didiami salah satu panglima pengikut Pangeran Diponegoro, yaitu Sentot Alibasyah Prawirodirdjo. Kampung itu kini hilang, kawasan itu menjadi hotel mewah.


Salah satu warga Kampung Basahan, Sugiarto (67), pernah tinggal di Basahan. ”Rumah saya dibeli investor tahun 2005. Sulit mempertahankan kampung ini karena banyak warga yang bersedia menjual,” ujarnya.

Struktur kampung didesain untuk penguatan ekonomi dan pertahanan warga di zaman Belanda. Ketika itu, Semarang merupakan bandar besar untuk kapal-kapal pengangkut hasil bumi, kampung-kampung itu juga mengarah ke pantai.

Di bagian utara Sekayu terdapat Kampung Depok (Padepokan), tempat bersemadi warga. Ada pula Kampung Kranggan, kata lain dari kanuragan yang merupakan sarana berlatih bela diri. Di dekat pelabuhan terdapat pula Kampung Beteng, kampung pembatas antara bandar dan lokasi permukiman warga lokal.

Selain itu, terdapat pula Kampung Pedamaran, kampung tempat singgah orang-orang yang bertugas menyalakan lampu (damar) Masjid Agung Demak.

Penuh sejarah

Bergeser ke wilayah lain di Kota Semarang, terdapat pula Kampung Bustaman, kawasan padat tempat tinggal warga keturunan Arab-India yang terletak di tepi Jalan MT Haryono (Mataram). Kala Bubakan masih menjadi Dalem Kanjengan, Kabupaten Semarang, lingkungan kampung ini berkembang sesuai pekerjaan warganya.


Di Bustaman, gang-gang terasa sempit, hanya cukup untuk pejalan kaki dan pesepeda. Rumah-rumah warga berimpitan. Bahkan, Gang Gedung Sepuluh yang terdiri atas 10 rumah dihuni lebih dari 100 jiwa.

Padahal, rumah di gang ini rata-rata berukuran 25 meter persegi. Sulit membayangkan satu rumah menampung 10-12 orang selama bertahun-tahun.

Gang-gang sempit itu digunakan pula untuk aktivitas warga memasak, duduk ngobrol, atau orang membersihkan sepeda motornya.

Salah satu warga Bustaman, Sugiono (44), antusias menunjukkan kepada pengunjung potongan kayu jati bekas tiang listrik yang dibangun Belanda pada 1936.

Tiang itu awalnya berdiri di tengah gang sehingga dibongkar dan sisa potongan dimanfaatkan sebagai penanda kampung. Bustaman juga dikenal sebagai Kampung Kambing, mengacu pada kelihaian warga mengolah dan memasak daging kambing.

Ada pula sumur tua warga yang tidak pernah surut atau keruh airnya meski kawasan Kampung Bustaman sebenarnya daerah langganan banjir rob.

”Air sumur di musim kemarau pun tetap agung (penuh) dan jernih. Jika menjelang Ramadhan, ada tradisi gabyuran (perang air) diikuti warga, tua dan muda, juga pengunjung yang turut serta,” ujar Sugiono.

Di Bustaman inilah Kota Semarang memiliki kekayaan kuliner. Selain berdagang, warga Bustaman sudah lama dikenal sebagai pusat penyediaan hewan kurban serta penjual gulai bustaman. Ini tiada lain berkat tangan dingin Ki Bustam, pendiri kampung ini sejak 1814.

Tengok Bustaman

Pegiat pelestarian Kampung Bustaman, Hari Bustaman (63), menuturkan, sejak 2015, warga sudah menetapkan tradisi Bustaman sebagai kegiatan wisata.

Nama kegiatan itu Tengok Bustaman, yang berlangsung selama sepekan. Pada Tengok Bustaman, pengunjung dapat mengikuti tradisi gabyuran, menikmati kuliner gulai bustaman, dan menyaksikan tradisi tari.

”Dengan menjadi kampung wisata, kesadaran warga melestarikan kampung makin bergairah. Kampung tidak lagi kumuh, kotor, dan kesannya tidak terawat. Kalau banyak tamu pengunjung, warga terus berbenah,” kata Hari.

Di Kota Semarang, ada pula Kampung Kauman, yang berkembang seiring dengan berdirinya Masjid Besar Kauman semasa Ki Ageng Pandan Arang pada awal abad ke-15 Masehi. Dalam sejarahnya, Kauman merupakan kampung otonomi. Mayoritas mereka yang tinggal adalah warga keturunan Arab.

Kauman tidak hanya menjadi pusat budaya Islam, tetapi telah menjadi simbol pusat perdagangan maju. Di Kauman terdapat Pasar Johar yang legendaris dengan struktur tiang pasar berbentuk cendana karya arsitek Belanda, Thomas Karsten.

Kauman juga melahirkan tradisi dudgeran yang kini masih terus dilestarikan sebagai penanda awal puasa Ramadhan. ”Kauman sudah lama menjadi kampung yang memadukan konsep sosio-religi berbasis ekonomi,” ujar tokoh masyarakat setempat, M Tachsin (40).

Kauman, terutama di sepanjang Jalan Kauman, juga merupakan pusat bisnis untuk kebutuhan oleh-oleh perjalanan haji, pusat perkulakan perangkat tempat ibadah, seperti karpet, sajadah, dan pusat perdagangan atribut militer dan satuan pengamanan (satpam).

Paguyuban

Dengan keragaman budaya kampung kuno (asli) Semarang ini, menurut Hari Bustaman, sejumlah tokoh dari beberapa kampung asli Semarang sepakat membentuk Paguyuban Kampung Asli Semarang.

Tujuannya, saling mendukung guna meningkatkan kampung dengan segala kekayaan budaya supaya layak sebagai wisata sejarah dan budaya.

Pengamat sejarah dan budaya kampung asli Kota Semarang, Wasino, dari Universitas Negeri Semarang, mengemukakan, kampung-kampung asli Semarang sarat nilai sejarah seperti halnya Kampung Pecinan. Ketika Belanda membangun Kota Lama, warga pribumi membangun permukiman otonomi.

Wilayah Semarang Tengah mempunyai paling banyak kampung asli, seperti Kampung Gabahan, Kranggan, Jagalan, Purwodinatan, Pekunden, Pindirikan, dan Batik.


Pemerintah Kota Semarang dapat menata kampung asli mulai dari perbaikan jalan, sarana umum, ruang terbuka, hingga merehab rumah warga yang masih kumuh. Gang-gang sempit justru punya daya tarik bagi wisatawan agar mereka berjalan kaki menikmati daya tarik kampung asli. 

Top