Ditelantarkan Anak-anaknya Nenek Berusia 83 Tahun Ini Harus Rela Berjualan Kacang Goreng di Plasa Tertua Palembang

Menikmati kebahagiaan di masa tua didampingi anak cucu mungkin hanya menjadi impian bagi Tinem. Perempuan lanjut usia itu itu harus menjalani hari-harinya dengan kesendirian dan kesepian.



Karena hidup sebatang kara, nenek Tinem juga harus membiayai kebutuhan hidupnya berjualan kacang goreng setiap harinya. Seperti yang dilansir dari Liputan6.com berkesempatan menemui nenek Tinem di kawasan parkiran salah satu plasa tertua di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel).

Saat bertemu pertama kali, tergambar keletihan di wajah nenek berusia 83 tahun itu. Meskipun begitu, nenek Tinem tetap ramah melayani para pelanggan yang datang menghampirinya dan membeli beberapa bungkus kacang gorengnya.

Nenek Tinem duduk di perbatasan lorong masuk dan keluar kawasan parkiran plasa. Sesekali, ia melihat sekelilingnya dan berakhir di tumpukan bungkusan kacang gorengnya yang masih banyak belum terjual. Padahal, ia sudah hampir lima jam menjajakan dagangannya.

Dengan suara sedikit parau, nenek Tinem bercerita tentang kesehariannya berjualan kacang goreng dan rutinitasnya setelah pulang berdagang.

"Nenek berangkat dari rumah pada pukul 10.00 WIB dan pulang sekitar pukul 17.00 WIB. Dari rumah, nenek naik becak dan nanti pulangnya juga dijemput becak langganan juga," ujar dia.

Sebelum berangkat ke lokasi dagangannya, nenek Tinem mengambil dagangan kacang goreng dari tetangganya. Biasanya, ia memanggul sekitar 200 bungkus kacang goreng menggunakan bakul rotan. Ia dibantu tukang becak langganannya mengangkut barang dagangan.



"Kalau laku banyak, biasa bawa pulang uang sekitar Rp 30.000. Tapi alhamdulillah, setiap hari laku jualan nenek," tutur dia.

Di sela perbincangan, tiba-tiba nenek tertunduk lesu dan menyandarkan kepalanya di tumpukan jualannya. Nenek Tinem mengeluhkan kepalanya terasa sakit dan ingin cepat pulang ke rumah. Namun, nenek Tinem harus menunggu becak langganannya datang menjemputnya.

Tidak hanya mengeluhkan sakit kepala, penyakit katarak di matanya juga semakin menjadi-jadi. Rencananya dalam beberapa hari ke depan, dirinya ingin datang lagi ke salah satu pusat layanan kesehatan di dekat rumahnya.

Disela waktu istirahatnya, nenek Tinem mengambil gorengan yang dibungkus kertas koran di dalam bakul rotannya. Ada dua potong gorengan yang memang dibawanya khusus untuk mengganjal perutnya.

"Nenek makan ini saja. Tadi sudah dibelikan orang nasi, tapi cuma nenek makan sesuap. Mari makan nak," ucapnya sambil menawarkan gorengan tersebut. 
Top