Berantem Sama Temen Kantor? Oh No, Coba Langkah Ini Biar Kerjaan Tetap Jalan dan Nggak Galau


Perbedaan pendapat, salah paham, hingga didalangi oleh urusan asmara, terkadang bisa bikin kamu dan teman kantor berselisih paham. Dari yang diam-diaman sampai kadang aksi saling sindir di media sosial. Kalau cuma diantara kalian berdua mungkin tak jadi persoalan, sayangnya kalian bekerja saling sikut dan berbagi ruang dengan puluhan orang lain di kantor. Hal tersebut pasti akan membuat rekan kerja kalian menjadi tidak nyaman. Suasana tegang tentu akan menguar ke seluruh penjuru kantor. So, untuk kamu yang sedang mengibarkan bendera perang, ini ada langkah yang bisa diambil ketika dihadapkan pada perselisihan di lingkungan kerja, agar job kamu bisa lebih lancar.

1. Sampai emosimu stabil, ada baiknya kamu kurangi interaksi jika memang tak ada urusan dengannya selama beberapa waktu.


Terkadang sulit untuk mengendalikan emosi ketika berhadapan dengan seseorang yang sedang bertengkar dengan kita. Melihat wajahnya saja bisa bikin mood-mu rusak seharian. Karenanya kalau kamu merasa belum siap secara batin untuk berhadapan dengannya, baiknya kurangi interaksi dengannya selama beberapa waktu, sampai emosimu stabil dulu.

Namun, mengurangi interaksi beberapa waktu bukan berarti enggan bekerja sama dengannya perkara pekerjaan. Sebagai pribadi yang dewasa kamu harus tetap profesional jika diharuskan berinteraksi dengannya untuk kepentingan pekerjaan. Dengan begini, kamu tak hanya sedang berusaha menghargai dia sebagai rekan kerja, tapi juga berusaha menghargai perusahaan dan rekan kerjamu yang lain.

2. Jangan sekalipun posting perselisihanmu dengannya di media sosial, bersikaplah bijak dengan menutup hal ini rapat-rapat.


Bercerita dengan sahabat tentang perselisihanmu dengan salah seorang rekan kerja, boleh saja. Namun, pastikan jangan sampai ini kamu ceritakan pada temanmu yang biang gosip, karena itu sama saja dengan kamu mengumbarnya ke seisi kantor. Berusahalah untuk sedikit lebih bijak, dengan tidak menyebarkan permasalahanmu dengannya ke media sosial. Jangan posting apapun yang bertujuan untuk menyindir apalagi sekedar nyinyir. Keep calm, guys!

3. Teguhkan hatimu untuk tetap profesional jika menyangkut pekerjaan. Tetap bersikap ramah saat bekerja sama dengannya.


Seperti yang sudah disinggung di poin sebelumnya. Tetaplah profesional ketika berhadapan dengannya menyangkut pekerjaan. Terlebih saat tengah berada di tengah rekan rekan kerjamu yang lain. Hati boleh saja misuh, tapi rona mukamu harus tetap dikendalikan supaya tidak menyebarkan aura negatif di sekitaran. Kamu harus bertekad kuat untuk mengendalikan emosi karena pekerjaan harus tetap beres tanpa kompromi.

4. Merenunglah sejenak, masalah apa yang menyebabkanmu dan dia sampai tak bertegur sapa.


Saat sedang sendirian dan hati relatif tenang, cobalah untuk memetakan masalahmu dengannya. Yakni apa yang menjadi penyebab pasti perselisihanmu dengannya. Salah pahamkah, adanya pihak ketiga yang memprovokasi, mungkin salahmu, salahnya, atau urusan asmara yang belum tuntas terselesaikan. Jangan lupa juga untuk meminta opini kedua dari sahabatmu yang paling bijak, siapa tahu sudut pandangmu selama ini agak kurang tepat. Nah, jika kamu sudah paham apa akar masalahnya, mantapkan hati untuk mengajaknya bicara empat mata.

5. Sikapi dengan bijak perselisihan ini sebagai proses pendewasaan. Beranikan diri untuk memulai obrolan dengannya demi mengibarkan bendera damai.


Jika hatimu sudah mantap untuk menyelesaikan ini dengan cara yang baik, agendakan pertemuan empat mata dengannya. Kalau dia mengatakan belum siap, beri dia waktu sampai dia siap. Kalau kamu dan dia sudah sama-sama siap untuk bertemu, bicarakan masalahmu dan dia dengan dingin kepala. Jika dia ngotot menyalahkanmu, kamu yang harus berjiwa ksatria dengan mengalah. Tak apa meluluhkan ego demi jalan damai. Toh, mengalah tak berari kalah. Kamu justru menang secara hakiki. Namun, kamu sangat beruntung jika kamu dan dia sama-sama pro untuk mengakui kesalahan dan saling memaafkan.

6. Sadari bahwa kamu dan dia berembuk untuk mencari solusi, bukan untuk memenangkan perselisihan. Karena ini bukan soal siapa yang menang dan siapa yang kalah.


Kamu dan dia bertemu untuk meluruskan keliru dan salah paham. Bukan untuk memenangkan pertarungan. Ubah mindset-mu tentang perselisihanmu dengannya, bahwa itu bukan ajang untuk menunjukkan siapa yang benar dan salah, atau siapa yang berhasil mengalahkan siapa. Jika kamu salah, jangan gengsi untuk meminta maaf. Pun, jika dia meminta maaf, terima maafnya dengan lapang dada. Jangan biarkan hatimu dipupuk dendam yang akan menjadi bom waktu.

7. Meski sudah saling memaafkan, terkadang tak bisa semudah itu melupakan perselisihan. Tapi, itu bukan alasan untukmu menjadi pendendam. Berusahalah untuk menerima biar hidupmu tenteram.


Manusia mana di dunia ini yang menginginkan pertengkaran? Ya, kecuali mereka yang punya penyakit batin. Jangan terlalu lama saling mendiamkan, karena itu akan membuat hidupmu nggak tenang. Karena hati mereka yang pendendam, perlahan akan digerogoti oleh benci. Sehingga ke depannya akan sukar melihat indahnya hidup. Memang, memaafkan tak berarti melupakan, tapi berusahalah untuk menerima perselisihan yang sudah terjadi. Toh, itu sudah berlalu. Lagi, kamu dan dia sudah saling memaklumi dan memaafkan. Jangan dendam, nanti hidupmu nggak tenteram.

Semoga perselisihanmu dengan rekan kerja bisa segera diselesaikan. Biar kamu dan dia bisa bekerja dengan tenang hati. Karena kantor bukanlah arena untuk berselisih paham.
Top