Untukmu Disana, Aku Yakin Kita akan Dipertemukan dengan Bahagia Pada Saat dan Waktu yang Tepat


Ini kata-kataku. Anggap saja aku sedang berusaha menyampaikan apa yang tak mampu dikatakan dengan lisan. Tak semua orang perlu mempercayainya apalagi setuju akan hal ini. Setidaknya mereka paham setiap goresan yang tertoreh di hati.

Adakalanya ketika hatimu sedang berjuang untuk sembuh, Allah akan selalu mengujinya. Bahkan berkali-kali, ia hujamkan rindu ke ulu hati. Padahal Dia tahu, kamu sedang berusaha memantaskan diri, memantapkan hati kembali pada satu tujuan yang paling hakiki. JanjiNya sudah pasti. Namun Allah mengujimu dengan selalu menghadirkan dia yang pernah menjadi harapan. Memutar kembali ingatan-ingatan tentang masa yang pernah membuatmu bahagia.

Bahkan jiwa yang belum utuh tanpa kehadiranmu ini semakin risau dengan mulai bertambahnya hitungan dunia. Mempertanyakan setiap takdir Tuhan. Kamu dimana?

Wajar dan kumengerti mereka yang sedang berbahagia sering melontarkan pertanyaan 'Kapan'. Seolah hidup hanya berhenti pada satu tujuan --Pertemuan dengan jodoh. Lalu diri menjadi terfokus pada satu pilihan; Jodoh. Menjadi buta pada yang paling dekat, seolah mati rasa.

Seringkali ketika mencoba memulai selalu berakhir sebelum sampai. Yah, masa-masa penyembuhan sekali lagi harus hati alami kembali. Tertawa serta guyonan dari mereka yang sudah merasa paling bahagia kerap kali menoreh luka.

Begitulah kehidupan yang sesungguhnya yang Allah inginkan kamu hadapi. Kenapa kamu lagi? Karena Allah tahu kamu mampu.
Kamu mungkin akan berasumsi bahwa aku terlalu sok kuat. 
Tidak. 
Maaf. Aku tidak sekuat itu. 
Terkadang hanya ingin terbiar jatuh. 
Terkadang hanya ingin mengumpat dan mengeluh. 
Tapi, aku tidak ingin kalah pada satu kata ‘LELAH’ aku ingin terus berlari, lalu berhenti dan mendapati hati tertawa setengah mati. Sebab menertawakan kesedihan bukan menangisinya.

Penolakan hanya nama lain bahwa kamu sedang salah jalan.

Aku tidak ingin menanamkan benci pada hati untuknya, untukmu dan untuk siapapun juga. Bagaimana mungkin aku membenci dia yang pernah didalam hati?

Aku lebih memilih mendoakan kebaikan baginya selalu. Agar hatinya kokoh dan kuat kala badai. Yah, Mencintai tak harus menyakiti diri juga hati bukan?

Apakah sekarang aku merasa kosong? Tidak.  Setelah Allah merajai setiap sudut hati. Dia memampukan aku untuk berkarya. Memberi cahaya bagi hati yang lainnya.

Apakah aku merindukannya? Selalu. Tapi setiap tunas rindu itu tumbuh, aku membunuhnya dengan menyebut nama-NYA.

Dan genap ke 120 hari, kamu mungkin tidak akan pernah melihat kepahitan di kerut merut wajah lagi. Sebab perempuan yang pernah jatuh dan patah itu telah memantapkan hati hanya untuk pemilik sejati. Dia tidak sedang kesepian sebab kekasih sejati selalu datang di sepertiga malam.

Mampukan dirimu untuk merelakan dia yang bukan tujuan. Tak perlu risau, jika dia yang Allah takdirkan, tak kan ada yang bisa membantahnya. Jika bukan, Allah pasti mengganti yang baik menurut-Nya. Kamu punya banyak sekali waktu, tidak usah terburu-buru. Pada waktunya semua akan datang sendiri padamu.

Kamu yang sedang menanti. Kamu yang sedang berusaha bangkit kembali. Percayakan satu hal, bahwa sebaik-baiknya kebahagiaan adalah mempercayakannya pada Nya.

Selama hati kita sama-sama siap untuk berjuang bersama. Allah pasti menjodohkan. Namun jika belum menurutNya, setidaknya kita sama-sama berjuang untuk saling memantaskan diri dan memantapkan hati.

Bahkan saat kamu masih berangan dalam doa berkepanjangan, tidak usah mempertanyakan setiap doa yang kamu panjatkan tersebut. Sebab Allah hanya menyatukan ketika Kamu benar-benar siap.

Kini, Berbahagialah wahai hati. Berbenah dirilah,ikhtiar serta berdoa. Sisanya biar semesta yang memutuskan.


Untukmu di sana, teman hidupku nanti.
Top