Tragisnya Konflik Suriah Meninggalkan Jejak yang Begitu Menyakitkan Dunia



Sangat mengenaskan, betapa perang tak menyisakan rasa belas kasihan. Peperangan hanya menyisakan jejak yang sangat melekat menyakitkan hati. Banyak tragedi kemanusiaan terjadi, dari mulai anak-anak, kaum perempuan, orang dewasa, orang tua, turut merasakan penderitaan jika terjadi perang. Tak terkecuali apa yang kini tengah terjadi di Suriah.

Konflik Suriah sejak Maret 2011 hingga kini sudah berjalan lima tahun dan tak ada tanda-tanda perang akan berakhir. Belakangan pemboman dari serangan udara di sejumlah wilayah di Suriah justru meningkat dan memakan korban sipil, termasuk anak-anak. Selama konflik lima tahun, PBB mencatat sudah 300 ribu warga Suriah jadi korban tewas. Di antara korban itu ribuan anak-anak tak berdosa, tak tahu apa-apa.

Baca Juga : Masih Dalam Suasana Pesta Pernikahan, Pria Ini Sudah Pukul Istrinya Dihadapan Umum

Dikutip dari merdeka, dapat dikatakan sebagai simbol bahwa sejumlah kisah bocah di bawah ini membuat dunia terhenyak tentang apa yang sedang terjadi di Suriah. Betapa tragisnya nasib anak-anak di tengah perang. Berikut kisah mereka:

1.Aylan dan Galip, bocah pengungsi tewas karena tenggelam



Potret menggemaskan yang terbujur kaku di pinggir pantai Turki itu amat mengenaskan. Dua balita asal Suriah tersebut awalnya hendak mengikuti orang tua mereka hijrah ke Eropa. Galip (5) dan Aylan Kurdi (3) merupakan turunan Kurdi. Keduanya ikut bersama ibu dan saudaranya.

Kekerasan yang mereka alami di Suriah membuat mereka tidak tahan hidup di negara tersebut. Keluarga ini akhirnya memutuskan untuk pindah ke Eropa.

Sayangnya, ketika tiba di Turki, kapal nelayan yang mereka tumpangi tenggelam.

"Kapal itu berisi 13 penumpang, dan tenggelam di perairan Turki," ujar otoritas keamanan pantai Turki, seperti dilansir dari Aljazeera, Kamis (3/9).

Ketika ditemukan Aylan mengenakan kaos berwarna merah dan celana biru. Dia ditemukan di pinggir pantai tanpa pelampung. Sementara itu, kakaknya Galip ditemukan di bagian lain pantai itu.

Foto mayat bocah itu beredar luas di media sosial dan menimbulkan perdebatan soal bagaimana Eropa menangani para imigran.

2.Bocah Suriah yang duduk sendirian di ambulans, membuat hati dunia remuk



Kali ini dunia kembali terhenyak setelah muncul video seorang bocah di Kota Aleppo, Suriah, terluka dan duduk diam sendirian di dalam mobil ambulans setelah berhasil diselamatkan dari reruntuhan akibat serangan udara, seperti dilansir koran the Daily Mail, Kamis (18/8).

Pegiat kemanusiaan dari oposisi Suriah merilis video itu. Seorang dokter di Aleppo mengatakan bocah itu bernama Omran Daqneesh, lima tahun. Dia dibawa ke rumah sakit setelah serangan udara di distrik Qaterji.

Dalam video itu Omran Daqneesh, digendong oleh petugas medis dari reruntuhan rumahnya yang hancur.

Petugas medis menggendongnya masuk ke dalam mobil ambulans dan mendudukkannya di sebuah kursi. Nasib orangtuanya tidak diketahui.

Dalam keadaan tubuh penuh debu, Omran duduk terdiam tanpa alas kaki dengan wajah lugu polos. Dia memakai kaos dan celana pendek. Darah masih terlihat di kening sebelah kirinya. Dia sempat mengusap debu di keningnya itu dengan tangan kiri lalu sadar keningnya berdarah. Tapi dia tidak menangis. Tatapannya kosong.

Petugas medis kemudian kembali menggendong anak lain dan menaruhnya di dalam ambulans sebelum membawanya mereka ke rumah sakit.

Foto dan video Omran yang diambil Rabu malam itu dengan cepat menyebar di Internet. Membuka mata dunia internasional tentang apa yang sedang terjadi di Aleppo.

3.Tim penyelamat menangis selamatkan bayi dari reruntuhan di Suriah



Seorang anggota tim penyelamat terekam kamera sedang menangis ketika dia menyelamatkan seorang bayi perempuan yang tertimbun reruntuhan akibat serangan udara di Kota Idlib Suriah Kamis lalu.

Relawan Helm Putih bernama Abu Kifah menolong bayi malang bernama Wahida Maatouq berusia 30 hari itu setelah dua jam menggali reruntuhan. Dia memeluk bayi itu sambil menangis ketika si bayi berhasil diselamatkan. Mereka kemudian menuju mobil ambulans untuk membawa bayi itu ke rumah sakit sementara.

"Ketika saya menariknya dari reruntuhan saya membayangkan dia adalah putri saya," kata Abu Kifah masih dengan air mata bercucuran di dalam mobil ambulans dalam perjalanan ke rumah sakit.

Abu Kifah dan tiga rekannya berhasil menyelamatkan Wahida dan keluarganya dari puing-puing reruntuhan.

Kelompok Pemantau Hak Asasi Suriah mengatakan sedikitnya 11 warga sipil tewas, termasuk tujuh anak-anak dalam serangan udara di Idlib, dekat Jarjanaz dan Provinsi Hama Kamis lalu.

4.Bocah Suriah tewas usai mengira sebuah bom adalah bola mainan



Baraa Umar masih mengingat kejadian saat bocah empat tahun bernama Iman Muhammad itu dibawa ke rumah sakit buat dirawat.

"Pertama kali saya melihatnya, dia berlumuran darah dan penuh luka. Dia baru dipindahkan dari sebuah rumah sakit lain yang tidak punya fasilitas ruang gawat darurat," ujar Umar, seorang perawat di sebuah rumah sakit di Suriah kepada stasiun televisi ABC News.

"Saya melihat perbannya sudah harus diganti karena saat itu perbannya sudah sangat basah karena darah. Kami mengganti perbannya dan merawat dia. Dia dalam kondisi stabil waktu itu."

Stasiun televisi ABC News melaporkan, Kamis (6/10), bocah malang itu dan dua saudara perempuannya sedang bermain di luar rumah Ahad lalu di Distrik al-Zebdieh, sebelah timur Aleppo. Tak jauh dari rumah, mereka melihat apa yang menurut mereka sebuah bola buat bermain. Iman memungut bola itu. Yang terjadi kemudian bola itu meledak dan melukai ketiga bocah itu.

Bola yang dikira mainan oleh Iman itu adalah sejenis bom klaster, bom yang ketika meledak menghamburkan proyektil-proyektil logam untuk melukai orang atau merusak kendaraan.

Kemarin Iman akhirnya tewas karena lukanya. Dia yang paling kecil di antara dua saudaranya.

"Sewaktu saya tiba dan mendengar dia sudah tewas, saya merasa sangat-sangat sedih karena sebelumnya saya sudah merawat dia dan dia dalam kondisi stabil ketika saya tinggalkan. Saya pikir dia akan selamat. Saya sangat terkejut. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Ini hari yang berat bagi saya," kata Umar.

Keluarga Iman baru saja pindah ke Distrik al-Zebdieh dari distrik lain di kota itu setelah rumah mereka dibom, kata Umar.

"Ibunya tak henti-hentinya menangis, juga kakak laki-lakinya. Ini saat yang sulit bagi mereka."

Tak henti-hentinya tragedi, tapi hanya sedikit yang peduli. Rasanya sesak sekali di dada. Tak peduli apa agama, suku, warna kulit, maupun bahasa mereka. Kalau kebiadapan peperangan seperti itu sudah meledak rasanya tak kuasa menahan sedih yang tak terkira.
loading...
Top