Suami Wafat 3 Tahun, Nenek 73 Tahun Ini Tegar Jalani Hidup Sebagai Tukang Tambal Ban

Hal yang utama dalam mencari nafkah haruslah halal, percuma kan dapat duit banyak tapi membuat hidup kita tidak barokah. Pegangan hidup itulah yang digunakan nenek 73 tahun ini.



BACA JUGA: Asal-usul Dari Slogan "Tertawalah Sebelum Tertawa Itu Dilarang" Ternyata Sangat Mengejutkan

Hitamnya Oli yang mencorengi Wajah Keriput Sudarmi (73) tampak begitu jelas setelah memompa kendaraan milik seseorang yang datang ke bilik tambal ban miliknya. 1.000 hingga 2.000 ia kumpulkan untuk bertahan hidup. Ia juga sering mendoakan para pelanggannya sebelum mesin kendaraannya dinyalakan.

Walaupun mendapat upah yang tidak begitu banyak, Darmi tetap bersyukur atas pendapatannya itu. "Uangnya Rp 2.000, padahal ongkosnya cuma Rp 1.000. Tapi saya kembalikan tidak mau, alhamdulillah terima kasih," kata Darmi, Sabtu (22/10).



Dikutip Wajibbaca dari Indozone, Lapak tambal ban Darmi di Jalan Stadion Selatan, Semarang Tengah, hanya seluas sekitar 2m x 6m. Beberapa bagian bangunan berbahan kayu dan bambu itu telah lapuk.

Dsanalah, perempuan renta itu bekerja dengan berlaskan tikar dan berlantai tanah sambil menunggu pelanggannya. Disana juga terdapat beberapa ban motor bekas dan kaleng bekas berisi uang receh.

Darmi mulai berjuang seorang diri setelah suaminya wafat, 3 tahun silam. "Saya dan suami saya sudah 35 tahun bekerja di sini. Dulu waktu suami saya masih hidup, saya hanya membantu. Suami saya yang menambal," kata Darmi sambil menunjukkan KTP almarhum suaminya yang tersimpan rapi di dompet.

Walaupun diusianya yang tak lagi muda, tenaganya masih kuat untuk mengganti da menambal ban. Namun jika lebih dari itu, Darmi enggan memaksa.

Walaupun begitu, masih aja ada orang yang kabur setelah memakai jasanya. Darmi pun juga mengaku sering mengikhlaskan bensin dagangannya ketika ada orang yang kehabisan bahan bakar.



Sebetulnya, kata Darmi, anak-anaknya telah melarangnya bekerja dan menyuruhnya beristirahat di rumah. Namun, selama dia sehat serta tenaganya masih kuat, Darmi enggan berpangku tangan. "Daripada menganggur cuma makan dan tidur, lebih baik saya bekerja, bisa bantu anak cucu," kata dia.

Minah, warga sekitar, merasa iba melihat Darmi bekerja pada usianya yang renta. Menurutnya, sudah selayaknya Darmi menikmati masa tua di rumah dan meninggalkan pekerjaan berat. Namun, di sisi lain, dia mengaku salut sekaligus terharu melihat semangat dan perjuangan Darmi untuk memperoleh rezeki halal.
loading...
Top