Sssst, Ini 5 Proyek Pemerintah yang Didominasi Para Pekerja China


Jokowi resmikan kereta cepat Bandung-Jakarta. Foto Reuters.

Semua tahu bahwa di negeri ini tinggal berbagai macam suku, agama, maupun RAS yang berbeda-beda. Hal itu memang telah lama terlukis dalam dalam semboyan bangsa yaitu Bhineka Tunggal Ika.

Harusnya memang sebagai bangsa yang beragam ini, kita dapat bersatu saling membantu bahu membahu satu dengan yang lain. Kita tidak perlu mencari salah dan kejelekan dari pihak yang berbeda.

Kali ini sebagai informasi, bahwa beberapa karyawan profesional seperti dokter, pengacara, akuntan, dan sebagainya. Saat ini sudah banyak bekerja di Indonesia karena efek bursa perdagangan bebas.

Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) terkait perkembangan pariwisata dan transportasi nasional Desember 2015 Penduduk mancanegara yang berkunjung ke Indonesia, selama tahun 2015 mencapai 10,41 juta kunjungan. Dalam hal ini penghitungan tersebut belum termasuk yang ilegal melainkan hanya menggunakan visa, bebas visa, serta kartu elektronik (Saphire, APEC Business Travel Card).

Baca Juga : Bikin Nangis, Tertimpa Reruntuhan Gedung, Gadis 3 Tahun ini Selamat Terlindungi Jasad Ayahnya

Jumlah kunjungan tersebut meningkat 3,12 persen dibandingkan perolehan tahun sebelumnya. Jika dipilah, warga negara asing (WNA) tersebut berkebangsaan Singapura 20,80 persen, Malaysia 15,25 persen, Australia 10,73 persen, Tionghoa 9,26 persen, dan Jepang 4,54 persen.

Pembukaan Indonesia agar lebih mudah diakses tersebut membuat WNA asing mudah berbondong-bondong datang. Hal ini tidak diiringi dengan pengawasan di bidang imigrasi untuk menelusuri WNA ilegal.

Akibat maraknya arus tenaga kerja WNA, belakangan menuai masalah. Salah satunya tujuh pegawai kereta cepat dibekuk petugas Pertahanan Pangkalan (Hanlan) saat melakukan pengeboran di sekitar Lanud Halim Perdanakusuma Rabu (2/4) kemarin. Lima di antara mereka merupakan warga negara (WN) China.

Dari pemeriksaan mendalam, TNI AU menyatakan aktivitas pengeboran tersebut merupakan pelanggaran hukum karena tidak mendapatkan izin. Para pekerja asing juga tidak melengkapi diri dengan identitas maupun paspor.

Nah, ternyata banyak proyek-proyek pemerintah yang didominasi para pekerja China. Mulai pekerja legal ataupun ilegal. Dikutip dari merdeka.com, berikut 5 proyeknya.

1.Proyek kereta cepat


Jokowi resmikan kereta cepat Bandung-Jakarta. Foto Reuters.

Patroli Pertahanan Pangkalan (Hanlan) Lanud Halim Perdanakusuma membekuk tujuh pegawai kereta cepat. Lima di antaranya diketahui berkewarganegaraan China, dan sisanya merupakan WNI. Ketujuh orang tersebut dibekuk lantaran tak memiliki izin untuk beraktivitas di kompleks Lanud.

"Setelah dilakukan pengecekan diketahui bahwa kelima WNA China tersebut tidak memiliki clearance (perizinan) dari TNI AU dan tidak dilengkapi identitas atau paspor," ungkap Danlanud Kolonel Pnb Sri Mulyo Handoko di Jakarta, Rabu (27/4).

Saat ditangkap, ketujuh orang tersebut sedang melakukan pengeboran tanah. Namun, aktivitas tersebut dilakukan tanpa berkoordinasi dengan TNI AU terlebih dahulu.

"Pukul 10.00 WIB kelima WN China dan dua WNI tersebut diamankan di kantor Intelijen Lanud Halim Perdanakusuma untuk dimintai keterangan," lanjutnya.



Sementara itu, Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Hanggoro Budi Wiryawan mengaku belum mengetahui lebih jauh soal penangkapan ketujuh pegawainya. Pihaknya masih mencari tahu kabar tersebut.

"Masih dikonfirmasi," tulis Hanggoro dalam pesan singkatnya dilansir merdeka.com.

2. Pabrik semen


TKA asal Tiongkok yang diamankan petugas.

Sebanyak 18 Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Tiongkok diamankan petugas Imigrasi Serang. Mereka yang bekerja di dermaga PT Cemindo Gemilang, Kabupaten Lebak ditangkap lantaran tidak memiliki dokumen resmi atau ilegal.

Dari informasi, belasan TKA itu diamankan ketika tim dari Kantor Imigrasi Kelas 1 Serang bersama Tim Pengawasan Orang Asing (PORA) Kabupaten Lebak menggelar operasi pengawasan orang asing di dermaga milik produsen Semen Merah Putih.

18 orang TKA ini tengah membangun kantor PT China Harbour Indonesia, sub kontraktor PT Cemindo Gemilang, di kawasan dermaga bongkar muat. Mereka dipekerjakan sebagai tukang las, operator, dan mekanik di dermaga tersebut.

Baca Juga : MIRIS : Di Negeri Sendiri Tenaga Asing Kasar di Gaji 15 Juta, Tapi Kita Digaji 2 Juta

Kepala Imigrasi Serang, Mantono mengatakan, jika ke 18 TKA ini masih dalam proses pemeriksaan. Saat menjalani pemeriksaan, belasan TKA itu menolak diberi makan oleh pihak imigrasi.

"Mereka dikasih makan nolak, kita mah kan sudah menjaga agar tidak menjadi sorotan warga. Padahal, makannya di kasih ikan masa nolak," kata Mantono, Kamis (25/8).

3.PLTU Balikpapan



Petugas gabungan Kodim 0905 Balikpapan dan Kantor Imigrasi Balikpapan mengamankan 23 orang warga negara Tiongkok, dari kawasan proyek PLTU Kariangau, Balikpapan, Kalimantan Timur. Penyebabnya mereka tidak bisa menunjukkan dokumen keimigrasian.

Puluhan warga Tiongkok diamankan sejak Kamis (14/7) lalu itu berawal dari informasi diterima Babinkam. Warga melihat banyak aktivitas warga negara asing diduga berasal dari Tiongkok.

"Kita koordinasikan dengan kantor Imigrasi Balikpapan, karena soal keberadaan WNA, domainnya cenderung ke kantor Imigrasi," kata Dandim 0905 Balikpapan, Kol Inf Heri Setya Kusdiantana, Minggu (17/7), dikutip dari merdeka.com.

Baca Juga : Elvia, Ketua Pengadilan Agama Padang Kepergok Berdua dengan Cowok di Kamar

Tim gabungan Kodim 0905 Balikpapan dan Kantor Imigrasi, diterjunkan ke areal proyek PLTU Kariangau. "Di lokasi, memang benar mereka (kelompok WNA asal Tiongkok), tidak bisa menunjukkan dokumen keimigrasian yang sah. Sehingga dilakukan pengamanan 18 orang WN Tiongkok dari lokasi. Dalam pengembangan, total keseluruhan pekerja WN Tiongkok, berjumlah 26 orang," ujar Heri.

Setelah diusut, satu orang di antaranya kembali ke Tiongkok, dan dua lagi sedang ke Jakarta. Tersisa 23 orang WN Tiongkok yang diamankan di kantor Imigrasi Balikpapan.

Dalam interogasi oleh petugas gabungan, belum bisa dipastikan apakah puluhan orang warga negara asing itu memang sebagai pekerja di proyek PLTU Kariangau.

"Kalau informasi awal masyarakat, ya mereka (WNA Tiongkok) itu pekerja di proyek PLTU itu. Tapi, untuk kepastian lebih jelasnya benar tidaknya mereka bekerja di proyek PLTU itu, dan juga soal kepemilikan dokumen keimigrasian, sedang dalam penyelidikan petugas, terutama pihak kantor Imigrasi," pungkas Heri.

4. PLTU Cilacap



Pembangunan PLTU Cilacap Ekspansi Fase II 1x1.000 MW dimulai hari ini, Rabu (12/10). PLTU yang merupakan bagian proyek 35.000 MW ini akan dibangun oleh Indenpendent Power Producer (IPP) PT Sumber Segara Primadaya (S2P) dengan pemegang saham PT Sumberenergi Sakti Prima (SSP) dan PT Pembangkit Jawa Bali (PJB).

Direktur Pengadaan PLN, Supangkat Iwan Santoso mengakui pengerjaan proyek ini masih cukup banyak mengundang tenaga kerja China. Setidaknya, sepertiga pekerja berasal dari Negara Tirai Bambu tersebut.

"(Tenaga kerja) expert tentu dari China, sebagian juga dari PJB. Mungkin untuk awal dari China sepertiga, lumayan besar," ucap Iwan ketika ditemui saat acara groundbreaking di Cilacap, Jawa Tengah.

Baca Juga : Polling Museum Lilin: Jokowi Lebih Diinginkan Dibanding Hillary Clinton, Donald Trump dan Messi

Menurut Iwan, pembangunan pembangkit ini nantinya akan menyerap 4.000 tenaga kerja. Namun, dia tidak bisa memastikan ada berapa pekerja China saat puncak pembangunan tersebut.

"Pada puncaknya bisa lebih dari 4.000. Memang kita berusaha membatasi (tenaga kerja asing), tapi ada transisi. Target jauh lebih penting, tapi lokal didorong semaksimal mungkin," katanya.

Sebelumnya, Bupati Cilacap, Tatto Suwarto Pamuji berharap pembangunan PLTU ini akan mengurangi angka pengangguran di daerahnya. Dia meminta perusahaan penggarap proyek ini yaitu PT Sumber Segara Primadaya (S2P) merekrut pekerja lokal.

"Saya minta rekrut tenaga kerja lokal, untuk menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) agar Cilacap maju. Jangan sampai masyarakat Cilacap jadi penonton saja."

5. Tambang emas



Dua dari tujuh warga negara asing (WNA) asal Tiongkok yang ditangkap petugas Imigrasi Palu dan Divisi Imigrasi Kanwil Hukum dan HAM Sulawesi Tengah, telah diterbangkan ke Jakarta untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

"Mereka diberangkatkan dari Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu pada pukul 07.00 WITA, dikawal seorang petugas Imigrasi Palu I Nyoman Nariana," kata Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Imigrasi Palu, Sunaryo, Senin (2/5), dilansir merdeka.com.

Berdasarkan hasil pemeriksaan petugas penyidik Imigrasi Palu, kedua warga Tiongkok bermasalah ini terbukti menyalahgunakan visa kunjungan karena mereka justru bekerja.

Pelanggaran lain yakni visa yang mereka kantongi sudah kadaluwarsa atau over stay selama 70 hari.

"Itu sesuai hasil pemeriksaan tim penyidik kami," kata Sunaryo.

Kedua WNA itu bernama Yin Shanhua lahir pada 4 Juni 1960, dan Wen Xing Chang lahir 9 September 1956.

Baca Juga : Waow: Pemeriksaan di Bandara Supadio Kalbar Suruh Buka Celana Dalam dan Bra, Wanita ini Sampai Menangis

Mereka ditangkap petugas di lokasi tambang emas di Kelurahan Poboya, Kecamatan Palu Timur. Saat ditangkap, mereka tidak mengantongi dokumen keimigrasian.

Selama di Palu, keduanya diamankan di ruang detensi (rudensi) Kantor Imigrasi Kelas I Palu.

"Setibanya di Jakarta mereka akan diserahkan ke penyidik Direktorat Jenderal (Dirjen) Imigrasi yang selanjutnya akan mendeportasi mereka," jelas Sunaryo.

Sementara lima warga Tiongkok lain yang juga ditangkap petugas gabungan dari Imigrasi dan Divisi Imigrasi Kanwil Hukum dan HAM Sulteng, di salah satu perusahaan jasa ketenagalistrikan di Palu telah dibebaskan.

Lima WNA Tiongkok yang ditangkap dan telah dilepas kembali oleh Imigrasi Palu, karena tidak bersalah bernama Wang Tiejun (44), Jin Zhng Yong (33), Wu Hai too (30), Li Shen Lei (29), dan Yu Long (26).

"Mereka dibebaskan karena tidak terbukti melanggar UU Keimigrasian," tutupnya seperti dilansir dari Antara.

Top