Penyesalan Mendalam Seorang Ayah yang Tak Bisa Hentikan Air Mata, Saat Tahu Isi Surat Anaknya



Orangtua adalah sosok yang akan banyak dicontoh oleh anak. Oleh karena itu sebagai orangtua harus dapat menjadi contoh yang baik sekaligus pengayom bagi anak-anaknya. Utamanya seorang ibu. Seorang anak selayaknya membutuhkan sosok ibu di dekatnya.

Namun apa yang terjadi jika sosok ibu tersebut justru sudah terlebih dahulu dipanggil oleh yang kuasa? Tentu hanya rasa rindu mendalam untuk bertemu dengan sang bunda yang akan ia rasakan.

Baca Juga : Bunda Jangan Takut: Anak dengan Disleksia dan Autisme Tetap Bisa Sukses

Sebuah kisah yang sangat menyentuh, seorang bocah yang rindu pada almarhumah ibunya, dikutip dari Tribun Solo. Membuat kita terbawa saat membacanya.

Pagi itu anakku masih tidur.
Aku membuatkannya sarapan nasi goreng sebelum berangkat kerja.
Ia masih terkantuk-kantuk saat aku memberi tahunya bahwa sarapan sudah siap.
Berperan sebagai orangtua tunggal membuat aku lelah.

Sepulang kerja aku langsung baringkan tubuhku di kasur.
Namun betapa kagetnya aku saat ada sebuah mangkok yang pecah karena aku tiduri di atas kasurku.
Aku begitu marah, sehingga langsung saja aku ambil rotan dan aku pukul anakku yang sedang asyik bermain.

Setelah selesai, anakku masuk dalam kamar.

Aku menyesal, pipiku mulai dibasahi air mata dan aku pergi menangis di dalam kamar mandi.
Usai menunaikan Sholat Isya, secara diam-diam aku mengintip ke kamar anakku.

Dia menangis bukan karena sakit di punggungnya, tapi karena dia melihat foto almarhum ibu yang dikasihinya.
Kemudian aku menyapukan obat di punggungnya yang sakit itu lalu memeluk dan membujuknya untuk tidur.
Setahun berlalu setelah kejadian itu, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. 

Tapi, ketika dia mulai masuk sekolah taman kanak-kanak, satu insiden buruk kembali berulang.
Ketika aku di kantor, ibu gurunya menghubungi aku dan mengatakan bahwa anakku sudah beberapa hari tidak masuk sekolah, padahal aku mengantarnya setiap pagi.

Hal itu tentu saja membuat aku marah.
Aku sengaja pulang awal untuk mendapat penjelasan dari anakku.
Tapi sesampainya di rumah, ia ternyata tidak ada.
Setelah lama mencari, rupa-rupanya dia main game di warnet.

Perasaan yang tidak terkendali membuat aku memukulinya dengan parah, dia hanya diam dan mengatakan, " Aku minta maaf ayah".

Beberapa hari setelah itu, anakku pulang ke rumah memberitahu bahwa di sekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis.

Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamar untuk berlatih menulis. Andai saja istriku masih ada, ia pasti bangga melihatnya. Karena aku pun juga bangga dengannya.

Hanya selang beberapa hari aku mendapat panggilan dari Kantor Pos, bahwa anakku mengirim puluhan surat tanpa alamat.

Setelah aku mengambilnya, aku mencoba mendapat penjelasan dari anakku.
Ketika itu aku menangis ketika dia mengatakan surat itu untuk almarhum ibunya.
Kemudian ia masuk ke dalam kamar dan mengatakan, " Maafkan aku ayah" .

Aku hanya menghela nafas panjang, mataku tertarik melihat sebuah amplop dengan tulisan " untuk ibu tersayang".
Aku membuka dan membacanya dengan perlahan-lahan.
"Ibu, hari ini aku kena marah dari ayah karena menaruh mie instan di bawah selimutnya. 
Ketika itu aku sangat lapar jadi aku ingin memasak nasi, tapi aku ingat pesan ayah, aku dilarang menggunakan barang-barang berbahaya di rumah.
Oleh sebab itu aku menyiram mie dengan air panas, satu untuk aku dan satu untuk ayah.Punya ayah aku taruh di bawah selimutnya, takut mienya dingin. 
Tapi ayah memarahiku karena aku lupa mengatakan menaruh mie untuk ayah di bawah selimut.
Ibu aku sudah masuk sekolah, aku sangat merindukanmu.
Hari ini kami membuat pertunjukan bakat dan bu guru mengundang ibu-ibu murid untuk hadir dalam pertunjukan itu, tapi ibu sudah tidak ada.
Aku tidak ingin menghadirinya, aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi. 
Untuk menyembunyikan kesedihan, aku pergi main game di toko komputer, ayah kemudian menemukanku dan memarahi serta memukulku.
Ibu, setiap hari aku melihat ayah sangat merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu ia begitu sedih. 
Aku ingat kami berdua sangat merindukanmu, tapi aku mulai melupakan wajahmu, bisakah ibu muncul dalam mimpiku malam ini?"

Sepanjang membaca surat itu, air mataku tak bisa berhenti mengalir.

Aku kemudian mendatangi kamar anakku.

Jelas isak tangisnya terdengar dari luar, aku mendekatinya dan meminta maaf serta memeluknya dengan penuh kasih sayang. 

Ya Allah, sungguh kisah yang sangat menyayat hati. Betapa sang anak ini merindukan sosok ibu yang sangat dicintainya.
loading...
Top