Pasti Anda Malas Tidur Jika Mengetahui 5 Fakta Mengagumkan Ini Ternyata...


Dalam sejarah peradaban manusia, mimpi adalah subjek dari berbagai bidang ilmu. Sains adalah yang paling sering mempelajarinya dengan berbagai penelitian ilmiah yang dilakukan ilmuwan di berbagai belahan dunia. Hal ini menarik karena meski seperti masuk di 'alam lain,' mimpi adalah hal yang secara neurologis nyata.

Meski demikian, banyak yang tidak menyikapi mimpi dengan kajian ilmiah. Banyak orang yang mengaitkan mimpi dengan hal 'klenik' atau dianggap sebagai pertanda bagaimana nasib seseorang ke depannya. dilansir dari merdeka.com, hal ini yang membuat mimpi-mimpi tertentu merupakan 'momok' bagi beberapa orang.


Namun jangan kira sains juga akan menyebut hal yang baik-baik saja. Berbagai penelitian juga menunjukkan berbagai aspek yang kurang menyenangkan dari mimpi. Berikut beberapa di antaranya.

1. Logika mimpi itu benar-benar nyata


Aktivitas otak manusia sangat berbeda antara aktivitas biasa dengan ketika tidur. Hal inilah yang memberi perbedaan mendasar antara realitas dan mimpi.

Hal ini bisa dijelaskan dengan mudah. Pertama, visual cortex utama yang ada di otak Anda tentu sedang tidak bekerja karena Anda sedang memejamkan mata. Meski demikian visual cortex sekunder tetap bekerja ketika tidur, dimana jaringan tersebut menafsirkan sesuatu di luar stimulus visual. Jadi jika otak Anda membayangkan sesuatu, hal tersebut masih akan tergambar jelas.

Sistem limbik yang terdiri dari hippocampus dan fornix, yang merupakan pusat kendali utama dari emosi Anda, justru akan aktif di kala mimpi. Hal ini menjelaskan mengapa mimpi seringkali emosional dan mempengaruhi perasaan.


Sebaliknya, bagian otak yang bernama prefrontal cortex, yang merupakan kendali logika dan rasionalitas, akan tidak aktif ketika tidur. Hal ini menandakan bahwa logika mimpi memang benar-benar ada, namun hanya secara neurologis.

2. Anda bisa mimpi di fase tidur 'non REM'


Tidur manusia terdiri dari lima tahap, di mana ada beberapa tahap sebelum sampai akhirnya sampai pada tahap REM, fase di mana seseorang bermimpi.

Namun sebuah penelitian baru menyatakan bahwa mimpi juga bisa terjadi pada fase tidur non-REM. Di mimpi REM, biasanya kita akan bermimpi tentang beberapa karakter yang kita kenal. Namun di mimpi non-REM, mimpi kita akan kedatangan lebih banyak karakter asing. 

Meski demikian, di tidur non-REM mimpi kita akan lebih tenang, tidak agresif, dan juga tak ada interaksi di dalamnya. Ini akan jadi mimpi yang aneh, yang semua orang pasti mengalaminya.


Jadi jika Anda bermimpi di fase REM, di mana fase tersebut sudah di dekat bangun, mimpi tersebut lebih sering untuk berisi interaksi sosial yang agresif. Fase ini di mana mimpi buruk terjadi dan Anda terbangun karenanya.

3. Rasa sakit bisa dirasakan dalam mimpi


Rasa sakit sebenarnya tak pernah disebabkan oleh mimpi, dan ilmuwan pun setuju akan hal tersebut. Namun penelitian justru membuktikan sebaliknya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa rasa sakit yang kita rasakan di dunia nyata bisa masuk dalam mimpi. Hal sekecil apapun bahkan bisa muncul di mimpi, seperti hanya sekedar kesemutan. 

Makin intens rasa sakit yang diderita, misalnya seperti luka bakar, akan memproduksi mimpi buruk, di mana biasanya si pemimpi mencoba untuk keluar dari rasa sakit yang dia derita di mimpi berdasar apa yang terjadi di dunia nyata. 

Rasa sakitnya pun rasa sakit yang nyata, dan proses keluar dari rasa sakit yang dirasakan di mimpi, adalah sebuah gambaran lain secara metafora yang berbeda di dunia nyata.

Hal ini memperlihatkan bahwa rasa sakit dapat melampaui dunia nyata dan mimpi, bahkan muncul dalam mimpi dalam bentuk tidak tertransformasi. 


Jadi jangan heran jika Anda ingin menghindari sakit dengan cara tidur, namun yang Anda dapat justru mimpi buruk.

4. Hal yang terjadi di dunia nyata bisa 'menghantui' mimpi kita


Berdasar gagasan dari ahli saraf dari Harvard bernama Robert Stickgold, ketika tidur kita bisa memproses informasi. Hal ini membuat bagaimanapun, berbagai hal yang kita cerna akan seringkali berlanjut di alam mimpi.

Dari berbagai eksperimen, sang ahli saraf menarik kesimpulan bahwa karena informasi baru harus diserap oleh berbagai bagian otak yang berbeda agar benar-benar 'menancap' di memori dalam waktu lama, pemrosesan informasi baru juga terjadi di kala tidur. 

Jika tingkat informasi yang ingin kita cerna cukup penting bagi kita, hal ini akan menghantui mimpi kita di kala tidur. berita baiknya adalah, pasca bermimpi otak Anda akan menunjukkan perubahan signifikan dalam penyerapan informasi. 


Hal ini menunjukkan bahwa ketika tidur dan bermimpi, otak Anda juga belajar, meski dengan cara 'berpetualang' di alam mimpi.

5. Mimpi sangat mempengaruhi suasana hati setelah bangun


Mimpi indah membuat hari kita dimulai dengan indah pula ketika bangun. Sama halnya dengan mimpi buruk yang membuat suasana hati kita ikut buruk, seakan-akan kejadian di alam mimpi benar-benar terjadi pada kita. 

Namun hal ini juga terjadi sebaliknya, di mana siang sebelum kita masuk alam mimpi di tidur malamnya, akan mempengaruhi apa yang akan jadi detil di mimpi kita.

Menurut penelitian Stickgold, suasana hati di siang hari sebelumnya sangat berpengaruh pada mimpi. Jika Anda memiliki suasana hati yang buruk, yang mana berarti Anda akan 'membentengi' diri dari pemrosesan informasi yang tak Anda inginkan, akan membuat Anda memasuki mimpi yang buruk. 

Hal ini terjadi karena otak Anda akan 'ngotot' mencerna informasi yang tak Anda inginkan, sebagai tanda bahwa otak tetap akan belajar hal baru meski ketika tidur.



Jadi meski Anda mengalami mimpi buruk, seringkali Anda mendapat pencerahan baru ketika bangun dan mendapat solusi dari berbagai masalah hidup Anda yang kebetulan dialami sebelum tidur.
loading...
Top