Mirisnya Indonesiaku, Para Siswa SD ini Musti Lewati Jembatan dari 2 Batang Bambu untuk ke Sekolah


Lantaran jalan amblas dan terputus siswa di Mamasa Sulawesi Barat nekad menantang maut di bibir jurang demi pergi ke Sekolah

Di zaman yang sudah modern ini, tak bisa kita pungkiri masih banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam keterbatasan. Baik keterbatasan fasilitas karena kurang bagusnya pembangunan, maupun kebutuhan hidup yang serba kekurangan.

Seperti yang terjadi di Sulawesi Barat ini, hujan deras selama beberapa hari terakhir menyebabkan salah satu ruas jalan yang menghubungkan ibu kota Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, dengan sejumlah desa di sekitarnya terputus sejak tiga hari terakhir.

Tebing di samping jalan desa yang menghubungkan Desa Mambulilling dengan Desa Buntu Buda ambles ke jurang sedalam lebih dari 100 meter.

Baca Juga : Pemprov DKI Tawarkan Warga Tangkap Tikus dan Akan Dibeli Rp 20.000,-/ekor. Simak Mekanismenya!

Demi bersekolah, para siswa di dua desa ini pun menempuh jembatan darurat dari bambu yang menghubungkan kedua sisi jalan yang ambles. Potongan-potongan bambu disambung hingga membentuk jembatan darurat dan ditancapkan di lereng bukit.

Akibat longsor, jaringan pipa PDAM yang melintas di puncak Gunung Buntu terputus dan dua unit rumah yang ada di sekitar tebing jalan nyaris tertimpa longsor, sementara satu rumah lainnya kini terancam ambruk lantaran lantai tanah tempat rumah ini berdiri kian habis tergerus ke jurang.

Meski demikian, warga juga khawatir tebing lainnya terancam longsor dan menimpa warga dan pengguna jalan yang melintas di lokasi.

Sekumpulan siswa SDN 008 Buntu Ada, misalnya, tetap berjalan meniti jembatan darurat itu meski dengan kaki gemetaran. Tak sedikit siswa yang tidak berani dan memilih batal ke sekolah karena takut terjatuh ke dalam jurang dan tertimpa longsor dari gunung di sebelahnya.

Hengki, salah satu siswa yang bersekolah di SDN 008 Buntu Buda, mengaku nekat melintas di atas bentangan bambu di bibir jurang demi bersekolah. Hengki mengaku setiap hari stres dan waswas saat bergangkat maupun pulang sekolah lantaran harus melintasi jembatan bambu yang membutuhkan nyali besar.

"Saya berharap jalan ini segera diperbaiki agar siswa tidak ketakutan melintas lagi," kata Hengki.

Yuliana, salah seorang warga yang berdomisili di tempat itu, mengaku waswas tinggal di rumahnya saat ini karena tebing jalan di kedua sisi rumahnya setiap saat terancam longsor susulan.

Yuli mengaku setiap malam terpaksa mengungsi ke rumah sanak keluarga bersama suami dan anak-anaknya karena khawatir rumahnya ambles ke dalam jurang dan tertimpa longsoran gunung di sebelahnya.

Baca Juga : Kisah Sedih Minah, Nenek yang Hidup dari Sisa Ceceran Beras di Pasar Cipinang

"Kalau malam kami pergi mengungsi ke rumah kerabat kami karena takut jangan sampai longsor lagi," kata Yuliana.

Ibu rumah tangga ini hanya bisa berharap pemerintah bisa segera turun tangan membenahi kerusakan jalan yang sudah bertahun-tahun mengancam keselamatan warga dan pengguna jalan di lokasi ini.

Sejumlah orangtua siswa juga mengeluh dan khawatir anak-anak mereka akan jadi korban bencana lantaran kondisi jalan di lokasi ini tak kunjung dibenahi pemerintah, sementara jalan ini menjadi satu-satunya akses jalan desa yang bisa dilalui warga.
Top