Kenapa Para Pelaku Pungli dari Oknum Polisi Tak Pernah Ditunjukkan ke Publik? Ini Pembelaanya



Pemerintah sudah menegaskan bahwa pelaku pungli akan ditindak tegas, karena itu saat ini di berbagai tubuh pemerintahan tak terkecuali di polri banyak dilakukan operasi tangkap tangan. Seperti penyamaran yang dilakukan Kapolda Sumsel terhadap anak buahnya: Begini Kronologi Kapolda Sumsel Terobos Lampu Merah, Hingga Dipalak Anggotanya. Dan juga Irjen Suhardi : Kisah Irjen Suhardi yang Menyamar Gunakan Sendal Jepit, Namun Tak Digubris Saat Lapor ke Polsek

Begitupun Polda Metro Jaya, akhir-akhir ini gencar melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terkait pungli di pelayanan publik. Operasi itu tak hanya menyasar di instansi Polri saja, bahkan instansi lainnya seperti, Kementerian Perhubungan ikut juga "digasak".

Dalam operasi di Kemenhub, polisi telah menetapkan tiga PNS menjadi tersangka. Mereka adalah, Endang Sudarmono, Meizy dan Abdu Rasyid. Dari tangan ketiganya polisi menyita barang bukti berupa uang tunai sebesar Rp 130 juta dan sejumlah buku tabungan yang isinya mencapai Rp 1 miliar.

Baca Juga : Ngeri! Ini Daftar Peta Kekuatan Militer AS VS Rusia Bila Perang Dunia III Meletus

Uang ratusan juta beserta tabungan senilai Rp 1 miliar tersebut diduga adalah hasil dari pungli.

Sementara itu, sudah ada 33 oknum anggota Polda Metro Jaya yang tertangkap tangan melakukan pungli di pelayanan publik milik kepolisian. Bahkan, data tersebut merupakan yang paling banyak dibandingkan dengan Polda-Polda lainnya yang ada di Indonesia.

Tak hanya itu, pada Selasa (18/10/2016) kemarin, Propam Polda Metro Jaya baru saja menangkap empat anggota Polsek Metro Gambir karena diduga melakukan pungli.

Kali ini, keempat oknum polisi itu, melakukan pemerasan terhadap tersangka narkoba Anto alias Awi. Mereka meminta keluarga Anto alias Awi menyerahkan uang Rp 300 juta jika ingin anaknya dilepaskan dari tahanan. Meski hanya mampu menyediakan uang sebesar Rp 97 juta, Anto alias Awi akhirnya dibebaskan.

Padahal, Anto alias Awi tertangkap tangan menyimpan 20 butir pil ekstasi saat di diskotek Crown Jakarta Barat.

Baca Juga : Harga BBM di Papua Capai Rp 100.000, Didepan Bos Pertamina Jokowi Marah

Beruntung, Propam mengendus hal itu. Hingga akhirnya setelah Anto alias Awi dibebaskan oleh oknum tersebut, Propam melakukan OTT.

Kini, keempat anggota itu yang berinisial, Iptu S, Aiptu T, Aipda EB, dan Brigadir R tengah diperiksa Propam untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sayangnya, dari puluhan orang yang terjaring OTT, tidak ada satupun yang ditunjukan kepada publik oleh polisi.

Polisi hanya berani merilis barang bukti hasil OTT tersebut kepada awak media. Padahal dalam kasus lainnya yang melibatkan warga sipil seperti, penyalahgunaan narkoba, pencurian, penipuan, perampokan, perampasan dan kasus-kasus lainnya polisi selalu menunjukan para tersangkanya. Meski para tersangka tersebut ditunjukkan ke publik menggunakan penutup kepala.

Bahkan, polisi pernah menunjukan ke publik, narapidana yang kabur dari Rutan Salemba, Anwar alias Rijal dengan didandani layaknya seorang perempuan. Saat itu, Anwar diperintahkan memakai jilbab, kacamata dan bergincu persis ketika ia menyamar menjadi perempuan kala dirinya kabur dari Rutan Salemba.

Menanggapi mengapa para tersangka yang tertangkap OTT tidak pernah ditunjukkan ke publik, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Awi Setiyono menyebut pihaknya tidak memiliki kewajiban dalam hal itu. Untuk itu, pihaknya merasa tak perlu menunjukkan para tersangka OTT kepada publik.

"Tidak apa-apa, tidak ada kewajiban kami untuk itu (menunjukan pelaku ke publik), undang-undang juga tidak mengatur itu," ujar Awi di Mapolda Metro Jaya, Rabu (19/10/2016).

Awi beralasan, dengan merilis kasus anggotanya yang terlibat pungli, itu sudah cukup membuktikan pihaknya transparan kepada publik. Pihaknya pun tidak takut mendapat pandangan miring dari masyarakat karena jumlah anggotanya paling banyak terlibat pungli daripada Polda-Polda lainnya yang ada di Indonesia.

"Sekarang sudah era keterbukaan, buat apa kita jaga image. Kita ingin memperbaiki (pelayanan publik), ini niat yang tulus dari pimpinan untuk lakukan bersih-bersih, jadi untuk apa kita nutup-nutupi," ucapnya.
loading...
Top