Inilah Yang Terjadi Saat Pelaku Bom Teroris Dengan Korban BOM JW Marriot Yang Cacat Seumur Hidup

Melawan ketidakadilan bukan dengan ketidakadilan juga. Pun melawan kekerasan bukan dengan aksi kekerasan serupa.



Hal itu menjadi pelajaran penting tatkala mantan teroris dengan korban bom teroris bertemu di Hotel Santika Jemursari Surabaya, pada acara Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Terorisme yang digagas LSM Aliansi Indonesia Damai (AIDA) Jakarta, Minggu (23/10/2016).

Jangan Lewatkan : Miris Anak-anak Asal China, Diculik Lalu Dibuat Cacat dan Dipaksa Mengemis Oleh Gengster

Mantan teroris, Ali Fauzi Manzi (45), duduk satu bangku dengan korban bom JW Marriot, Vivi Normasari (46).

Keduanya memberikan kesaksian tentang tindak-tanduk aksi teror serta pergulatan batin bangkit dari keterpurukan setelah mengalami luka fisik dan psikis akibat ledakan bom.

Penuh emosi, kedua orang yang harusnya bermusuhan ini menceritakan pengalaman-pengalamannya dengan sikap penuh kedamaian bak seorang sahabat akrab.


Illustrasi gambar dari surya.co.id

Ali Fauzi merupakan ahli perakit bom dari Jamaah Islamiah (JI) yang juga adik kandung Ali Imron dan Amrozi.

Pada aksi teror bom di Indonesia mulai dari 1999 hingga 2004, ada peran Ali Fauzi di sana.

Ali Fauzi adalah perakit bom nomor wahid se-Asia Tenggara yang selain merakit, juga mengajarkan teroris membuat bom berdaya ledak tinggi atau setara dengan kekuatan mikronuklir.
Kemampuan Ali didapat setelah menjalani pelatihan militer di Afganistan dan akademi militer Moro Islamic Liberation Front (MILF).

Ali memaparkan sepak terjangya ketika masih aktif menyebar teror, hingga akhirnya memutuskan keluar dan malah membantu Polri terkait seluk-beluk organisasi teroris.

Vivi Normasari duduk santai mendengarkan orang yang secara tak langsung telah membuatnya cacat fisik dan trauma psikis hebat ini berbicara di forum.

Vivi mengatakan awalnya sangat dendam kepada Ali saat kali pertama bertemu setahun lalu.
Rasa dendamnya sangat beralasan. Kedua tangannya cacat permanen. Pun trauma psikis rasa malu tak berkesudahan selama bertahun-tahun dialaminya.

"Waktu pertama bertemu, semua sumpah serapah saya ke alamatkan kepada Pak Ali. Pikiran saya saat itu, orang ini telah merenggut kebahagiaan saya hingga membuat saya cacat dan merasa rendah diri dari kecacatan saya tersebut," kata Vivi.

Perlahan, semuanya berubah. Vivi mulai bisa menerima Ali Fauzi dan keadaan dirinya.
Vivi menuturkan ingin kembali merasakan kedamaian. Namun, ia tak akan bisa merasakan damai jika dirinya sendiri tak mampu berdamai dengan musuh dan keadaannya.

Vivi menyatakan kekerasan tak akan bisa dilawan dengan kekerasan juga.
"Saya ikhlas memaafkan Pak Ali. Yang lebih penting lagi, saya ikhlas memaafkan diri saya sendiri. Pada titik ini, saya akhirnya bisa merasakan damai," sambungnya.

Ali pun menyatakan penyesalannya yang mendalam kepada Vivi. Kesalahan perjalanan hidupnya telah membawa petaka tak hanya kepada Vivi, tapi juga ke korban lainnya.

Memutuskan keluar dari jaringan teroris, Ali mengaku mendapat pencerahan ketika akan membunuh seorang polisi. Saat akan mengeksekusi, Ali tergugah dengan keikhlasan polisi tersebut yang siap mati di tangannya.

"Momen itu mulai mengubah paradigma saya," ujar Ali.

Ali menuturkan konsep jihad yang diusung para teroris tersebut salah alamat.
Dijelaskan, Indonesia dalam keadaan damai, bukan kondisi berperang, sehingga menyalahi syariat mengenai konsep perjuangan jihad.

Para teroris, lanjutnya, merasa ada ketidakadilan yang ditujukan kepada agamanya di belahan dunia lain. Namun, rasa ketidakadilan itu diekspresikan melalui tindakan yang salah, meneror bahkan melukai orang-orang tak bersalah.

"Konsep ijtihad mengenai jihad mereka (teroris) salah fatal," ujarnya.
Menurutnya, potensi teror masih tetap bisa terjadi. Para teroris pun tetap melakukan perekrutan bahkan semakin menyasar anak-anak muda.

Kasus terakhir, penusukan polisi di Tanggerang, Ali menilai hal itu menunjukan regenerasi rekrutmen terus berlangsung.

Pengamat teroris dari Universitas Indonesia (UI), Solahudin, menambahkan di Jatim sendiri masih ada puluhan anggota pecahan JI yang tersebar. Setidaknya, ada empat wilayah di Jatim yang menjadi penyebaran mereka, yaitu Malang, Surabaya, Lamongan, dan Tulungagung.

"Data yang saya miliki, anggota terbanyak ada di Malang. Setidaknya, 40 orang berada di sana," tandas Solahudin.

Direkur AIDA, Hasibullah Satrawi, menuturkan AIDA merupakan LSM yang khusus menangani pendampingan para korban terorisme.

Berdiri 2013 lalu, hasil pendampingan yang dilakukan menemukan fakta bahwa para korban terorisme masih mengalami luka baik fisik maupun psikis.

"Sekitar 200 orang lebih yang kami dampingi. Mayoritas dari mereka masih mengalami luka akibat ledakan bom tersebut, meski sudah puluhan tahun terjadi," tukas Hasibullah.

Ia menyatakan kebanyakan para korban tak mendapat fasilitas kesehatan dari pemerintah selaku pengayom warganya.

Menurutnya, pemerintah tak memiliki SOP jelas mengenai penanganan korban terorisme, baik saat kejadian maupun pasca kejadian.

"Luka itu bahkan akan terbawa seumur hidup, namun negara tak memfasilitasi kesehatan para korban. Belum lagi kehilangan perekonomian dari kehilangan kepala keluarga atau pekerjaan karena mengalami kecacatan, pemerintah belum mengayomi korban-korban ini," ujarnya.

AIDA meminta adanya regulasi mengenai penanganan korban ketika terjadi aksi teror.
"Selama ini, penanganan korban aksi teror masih sporadis, bahkan terkesan di awal kejadian saja. Padahal, yang terberat dijalani para korban adalah sesudah kejadian, karena semuanya pasti terpuruk dari kejadian tersebut," ucapnya.
loading...
Top