Demi Kejar Pendidikan, Suami-istri Ini Ciptakan Perpustakaan di Angkot

Buku adalah jendela dunia, dengan membaca buku kita bisa mendapat ilmu yang sangat bermanfaat bagi kehidupan kita. Tapi sepertinya membaca buku jarang dilakukan karena berbagai alasan, salah satunya adalah jarak perpustakaan yang jauh dari rumah.



BACA JUGA:  ML Dengan Pacar, Usai Sholat Siswi SMP Ini Berdoa Agar Tidak Hamil. Tapi Sayang Doanya Didengar Oleh Ibunya

Munkin alasan kuno itu sudah tidak berlaku lagi,  karena Pasangan suami istri Elis Ratna Suminar (30) dan Muhammad Pian Sopian (38) telah membuat perpustakaan mini di angkot. Ide itu terwujud atas kepedulian mereka terhadap dunia pendidikan. Bagaimana kisahnya?

Elis menyatakan dirinya lulusan SMA2 Karawang, sementara suaminya lulusan SD dan menikah pada 2007 silam. "Suami saya dari dulu sopir angkot, sedangkan saya dulu jualan cimol," kata Elis saat berbincang dengan detikcom lewat telepon, Senin (17/10/2016).



Dikutip Wajibbaca dari Detik, Elis mengatakan, dirinya dari dulu bercita-cita mempunyai pendidikan yang tinggi. Namun apa daya, keluarganya hidup serba pas-pasan. Dia bisa bersekolah di SMA 2 Karawang hingga tamat pun berkat bantuan guru olahraganya.

Beruntung suami Elis, Pian, mendukung niatnya untuk mengejar pendidikan. Pada 2017, bermodalkan uang Rp 75 ribu, Elis disuruh suaminya masuk universitas terbuka (UT) di Bandung.  "Saya kuliah di UT pas usia lima tahun pernikahan, pas anak sudah satu," ucapnya. Elis merasa sangat terharu waktu itu mendapat dukungan dari suaminya untuk kuliah.

"Dia bilang waktu itu, 'Bu, anak-anak kita akan maju, masa depannya terjamin jika ibunya berpendidikan. Saya mah tugasnya nyari nafkah, nyari uang buat itu semua'. Setiap hari dia antar jemput saya ke tempat kuliah, dia biayain semua dari biaya kuliah sampai ongkos sampai selesai. Itu dari hasil ngangkot," jelas Elis.

Lulus dari Universitas Terbuka, Elis pun bekerja sebagai pustakawati di SDN Cisalak, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung. Dari situ lah dia tergerak untuk menjalankan perpustakaan keliling menggunakan sepeda motor dari satu desa ke desa lainnya. Tak jarang juga dia berjalan kaki ke lokasi yang cukup terpencil.



Dari situ, suaminya kemudian tergerak untuk ikut ambil bagian. Keduanya kemudian menggagas ide membuat angkot pustaka, yakni mengadakan perpustakaan mini di dalam angkot yang dikemudikan suaminya.

Di bagian belakang mobil suaminya dibuat rak kecil berisi buku-buku bacaan. Bukunya beragam, mulai dari novel, cerita fiksi dan ilmiah, buku agama dan lainnya. Buku-buku itu gratis dibaca oleh seluruh penumpang.

Menurut Elis, sejak membuat angkot pustaka, angkot suaminya ramai dibicarakan. Banyak respons postitif yang datang. Para penumpang angkot bisa naik angkot ke lokasi tujuannya sambil membaca buku. Macet di jalan pun jadi tidak terasa. Buku-buku di angkot tersebut setiap hari diganti agar penumpang tidak bosan.

Buku-buku disana juga ternyata koleksi mereka berdua dengan jumlah sekitar 80an buku. Elis merasa sangat bersyukur atas misi dan visi suaminya sama dengannya. Mereka berharap jika masyarakat Indonesia bisa lebih melirik dan membaca lebih banyak buku.

Bahkan dengan semangatnya ini, sang suami yang hanya lulusan program paket B, akan mencoba program paket C hingga akhirnya bisa kuliah sepertinya.
loading...
Top