Bunda Jangan Takut: Anak dengan Disleksia dan Autisme Tetap Bisa Sukses



Menjadi orangtua seorang anak yang berkebutuhan khusus, mungkin akan menjadi suatu beban yang berat bagi bunda dan ayah. Hal pertama yang paling ditakuti orangtua adalah masa depan anak mereka. Nah, berbicara masa depan, tentu erat kaitanya dengan pendidikan. Meski orang-orang tertentu terlahir brilian dan bisa sukses tanpa pendidikan formal, tentu tetap ada pelajaran yang diambil dari hal-hal diluar sistem pendidikan formal. Banyak contoh orang sukses hanya bermodal sekolah dasar, atau Bill Gates tak lulus kuliah bisa merancang microsoft dan menjadi miliarder.

Terlepas dari itu tetap saja, pendidikan merupakan modal awal seseorang. Entah itu formal maupun non formal. Nah, orangtua yang mempunyai anak berkebutuhan khusus, misalnya anak dengan autisme dan disleksia, seringkali dianggap belum mendapat layanan pendidikan yang memadai. Dikutip dari kemendikbud.go.id pada2015, dari 1,6 juta anak berkebutuhan khusus baru 164.000 yang mendapat pelayanan pendidikan.

Artinya, baru 10-11 persen siswa dengan autisme dan disleksia yang terakomodasi. Hal ini menyebabkan mereka kesulitan memilih sekolah dan mendapat porsi pendidikan yang tepat.



"Kesalahan orangtua, ketika tahu anaknya didiagnosis disleksia atau autisme, langsung mendaftarkannya ke sekolah internasional. Padahal, anak dengan kondisi tersebut sebaiknya jangan diajarkan bahasa asing dulu," ujar Sumarsono, CEO & Founder Elite Tutors Indonesia, Rabu (7/9/2016), dikutip dari kompas.

Baca Juga : Allah tak Pernah Meminta Sedikitpun dari Kita, Semua yang Telah Dia Berikan

Sumarsono melanjutkan bahwa siswa sebaiknya belajar di sekolah yang menggunakan bahasa tunggal terlebih dahulu. Bahasa ibu pun sebaiknya dilatih secara konsisten ketika di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan bermain agar anak mudah menerima pengetahuan nantinya.

Salah satu alternatif pendidikan serupa sekolah reguler yang dapat dipilih adalah sekolah inklusi. Di sana, siswa berkebutuhan khusus diajar dalam kelas bersama siswa lainnya agar dapat mencontoh langsung dan termotivasi untuk mengoptimalkan potensi mereka.

Meski sekolah tersebut belum cukup memenuhi persyaratan dari segi pengajar. Hal ini dapat diimbangi dengan memberikan pelatihan mengenai metode penanganan siswa dengan autisme dan disleksia untuk para guru.

Sebenarnya, poin utama ketika memberikan pendidikan pada anak dengan autisme dan disleksia adalah tidak memaksakan sekolah formal jika anak dianggap belum siap. Pastikan mereka tidak memiliki masalah kemampuan kognitif, tingkah laku, dan mampu mengikuti tuntutan sekolah.

Menurut ahli psikologi perkembangan anak, Adriana S Ginanjar, orangtua pun harus jeli akan penerimaan siswa di sekolah formal terhadap murid dengan autisme dan disleksia. Pasalnya, tak jarang mereka mengalami penindasan oleh teman-temannya karena dianggap berbeda.

Tak hanya itu, psikolog tersebut juga mengatakan bahwa jumlah siswa di sekolah inklusi masih terlalu banyak sehingga pengajaran tidak terfokus. Idealnya, satu kelas hanya boleh berisi 20 murid, sementara kenyataannya masih terdapat 40 anak dalam satu kelas.

Pembelajaran private


Orangtua tak jarang memilih lembaga pendidikan private atau home schooling agar kebutuhan akademis anak-anaknya dapat terpenuhi. Namun, metode itu juga belum tentu ideal untuk anak dengan autisme dan disleksia.

"Home schooling cenderung membatasi anak untuk bergaul. Anak sebaiknya tetap didorong bersosialisasi sambil dibekali kemampuan adaptasi," kata Sumarsono.

Artinya, anak lebih baik tetap diikutsertakan pada pembelajaran di sekolah bersama siswa seusianya. Les pribadi dapat menjadi solusi agar anak mendapat tambahan pemahaman pelajaran di luar sekolah.

Orangtua dapat memilih les yang memiliki program khusus untuk anak dengan autisme dan disleksia, Elite Tutors Indonesia misalnya. Hal ini ditujukan agar program pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan serta menghindari stres pada anak.

Pada bimbingan eksklusif seperti di atas, contohnya, biasanya merujuk siswa ke klinik spesialis autisme atau disleksia untuk mendapat rekomendasi klinis terkait kemampuan anak secara akademis. Setelah itu, tim pendidik akan membuat program sesuai kebutuhan anak.

Penentuan jangka waktu program tetap disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Contohnya, bimbingan dilakukan sampai murid dapat membaca dengan stabil, lalu perlahan mulai dilepas. Selain itu, jumlah siswa dalam setiap tahun ajaran juga diperhatikan.

"Kami juga memiliki aturan untuk menerima siswa dalam jumlah terbatas, sekitar lima orang per tahun dengan setiap siswa ditangani secara personal, bukan dalam bentuk kelas. Umumnya, mereka masih dalam tingkat gangguan mild—tingkat autisme dan disleksia paling rendah," ucap Sumarsono.

Sumarsono melanjutkan, pembatasan itu dimaksudkan agar tim pendidik lebih fokus dalam membimbing setiap murid. Pengajar pun dipilih berdasarkan pengalaman dan jam terbang.

Tujuannya agar anak dengan disleksia dan autisme dapat menempuh pendidikan sesuai kebutuhan dan mampu mengembangkan bakatnya. Mereka juga diharapkan mampu meraih kesuksesan sama dengan anak lainnya melalui penanganan yang tepat.

Jadi orangtua yang mempunyai anak berkebutuhan khusus jangan terlalu memaksakan anak untuk belajar bahasa asing, ataupun dengan homeschooling yang akan menambah tekanan pada anak. Namun dengan bimbingan eksklusif yang dilakukan perlahan dan disesuaikan dengan kebutuhan anak.
loading...
Top