Waow, Banyak Inspirasi dari para Developer Game Tanah Air di Bekraf Developer Day Surabaya



Setelah menyambangi Bandung dan Yogyakarta sebelumnya, Dicoding bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) menyelenggarakan event Bekraf Developer Day di Surabaya pada 4 September 2016 lalu. Acara yang berlangsung di hotel JW Marriot Surabaya berlangsung meriah, dengan jumlah peserta membludak hingga mencapai sekitar 1.200 orang.

Sama seperti acara yang telah dilangsungkan di kota-kota lainnya, Bekraf Developer Day – Surabaya juga membahas empat topik khusus seputar industri digital, yaitu internet of things, aplikasi, web, serta video game. Sesi pembahasan topik yang berlangsung paralel tersebut menghadirkan para pakar dan pelaku industri untuk berbagi pengalaman maupun memberi inspirasi kepada para peserta.

Sesi video game yang dimoderatori oleh CEO dan Founder Arsanesia, Adam Ardisasmita, menghadirkan empat pembicara yang menyampaikan topik berbeda-beda. Topik yang dibahas mulai dari bagaimana menjadi developer game, memilih genre game, hingga tip untuk menyelesaikan sebuah proyek game. Kesemuanya dibawakan oleh para pelaku industri game lokal yang telah berkecimpung di bidang pengembangan game selama bertahun-tahun.

Cara menjadi developer game? Lakukan saja!


Yanuar Tanzil, CEO IPlayAllDay Studio

Topik pembuka dalam pembahasan tentang video game disampaikan oleh Yanuar Tanzil selaku CEO dan Founder IPlayAllDay Studio. Pria yang sudah bersentuhan dengan pemrograman sejak duduk di bangku SMP dan telah merilis berbagai game di web dan mobile ini membagikan tip bagaimana menjadi developer game berdasarkan pengalamannya bertahun-tahun.

“Lakukan saja!” kata Yanuar. “Kamu hanya perlu mulai membuat sebuah game di platform manapun. Tidak ada persyaratan lainnya untuk menjadi seorang developer game.”

Walau untuk menjadi seorang developer game terbilang simpel, tantangan selanjutnya adalah menentukan arah dan jenis game apa yang ingin dibuat. Yanuar menunjukkan demografi industri game saat ini untuk membantu peserta memahami pemetaan jenis game yang terdapat di pasaran.

“Jangan langsung berniat mengembangkan game berskala besar seperti FPS maupun RPG untuk PC, karena jenis game tersebut biasanya membutuhkan bujet besar dan mekanisme yang kompleks. Bila kamu masih dalam skala indie, membuat game kasual untuk platform web atau mobile adalah pilihan yang paling memungkinkan,” kata Yanuar.

Membangun tim developer game yang solid


Maulidan Bagus A. Rasyid CEO Maulidan Games

Maulidan Bagus A. Rasyid selaku CEO Maulidan Games membawakan topik selanjutnya tentang tim developer game. Menurutnya, mengembangkan game seorang diri amatlah sulit karena dibutuhkan berbagai disiplin ilmu untuk membuat sebuah karya yang bagus.

“Pada skala kecil, membuat sebuah game biasanya membutuhkan satu graphic artist dan satu programmer. Seiring dengan perkembangan kompleksitas dan skala dari game yang dibuat, anggota tim juga akan bertambah hingga bisa meliputi project manager, animator, quality assurance, finance, dan sebagainya,” ungkap Maulidan.

Untuk menyatukan semua disiplin ilmu tersebut, diperlukan seorang pemimpin yang bertugas mengepalai proyek pengembangan game. Kepemimpinan dan pembagian peran dalam sebuah proyek game memegang peranan penting untuk mengatur tanggung jawab masing-masing anggota agar tidak tumpang tindih.

Maulidan juga menekankan kesamaan visi dan kesatuan semangat dalam sebuah tim. Dengan berbekal semua hal tersebut, Maulidan Games kini menjadi sangat produktif hingga mampu menghasilkan sedikitnya tiga game setiap bulan.

Memilih genre sesuai passion


Cipto Adiguno CEO Ekuator Games

Video game memiliki berbagai jenis genre, seperti role-playing, shooter, action, puzzle, dan lain sebagainya. Tergantung dari desain permainannya, genre sebuah game bahkan bisa menjadi perpaduan dari dua atau lebih genre yang membuatnya menjadi semakin kompleks.

Banyaknya genre video game dengan beragam tingkat kompleksitas terkadang membuat developer kebingungan untuk menentukan jenis game yang ingin dibuat. Menanggapi permasalahan tersebut, Cipto Adiguno selaku CEO Ekuator Games membagikan tipnya.

“Kami di Ekuator Games ingin menghadirkan game yang memberikan dampak kepada pemainnya, memengaruhi pandangannya terhadap suatu hal, serta akan terkenang untuk waktu yang lama. Berdasarkan passion tersebut, kami memilih untuk mengembangkan RPG dengan cerita yang dalam,” ungkap Cipto dikutip dari techinasia.

Baca Juga : Smartphone 'Murah' Berlabel DOCOMO Lagi Booming, Sebenarnya Seperti Apa Sih Ponsel ini?

Mendesain suatu game dengan pertimbangan lain, seperti potensi pasar, preferensi pribadi, atau selera gamer, memang tidaklah salah. Namun, bila semua pertimbangan tersebut bisa disesuaikan dengan passion, niscaya hasil yang akan diperoleh juga akan lebih maksimal.

Utamakan core game dan lakukan pengetesan sedini mungkin


Steve Lie CEO Game5Mobile

Dari semua tahapan dalam mengembangkan sebuah game, fase penyelesaian terkadang menjadi hal yang paling sulit dilakukan. Beragam hal bisa menjadi penyebabnya, seperti tenggat waktu yang terus molor, fitur-fitur yang terus bertambah, hingga hilangnya semangat untuk menyelesaikan proyek game karena suatu hal.

Hal-hal tersebut pernah dialami oleh Steve Lie, CEO Game5Mobile, saat mengembangkan berbagai game. Ia kemudian membagi kiat agar para developer bisa terhindar dari jeratan game yang tidak kunjung selesai.

“Buat core dari suatu game dan lakukan pengetesan ke user sedini mungkin. Bila sebagian besar tanggapan yang diperoleh (dari pengetesan) adalah positif, maka kamu bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya untuk memoles dan menyelesaikan game. Bila tanggapannya negatif, maka kamu perlu merombak lagi desain game,” ungkap Steve.

Bila desain gameplay inti yang dibuat sudah mantap, tim tidak perlu melakukan perombakan besar-besaran lagi. Yang tersisa hanyalah pengerjaan fitur-fitur pendukung serta memoles game agar semakin diminati para gamer saat dirilis kelak.

“Buatlah deadline jangka panjang, dan pecah deadline tersebut ke dalam beberapa target kecil jangka pendek. Anggap penyelesaian setiap target sebagai achievement untuk semakin memotivasi pengerjaan game,” tambah Steve.



Setelah keempat pembicara menyampaikan materi masing-masing, mereka semua dipanggil kembali ke atas panggung untuk menjadi narasumber dalam acara talk show. Acara tersebut menjadi makin seru berkat kehadiran Rudy Sudarto selaku CEO ArtLogic Games yang menjadi bintang tamu spesial.

Para peserta tidak menyia-nyiakan kesempatan bertanya kepada narasumber. Adam yang bertindak sebagai moderator pun tidak dapat mengakomodasi semua pertanyaan peserta karena keterbatasan waktu.

Industri video game lokal ke depannya masih akan berkembang. Menilik betapa besarnya antusiasme para peserta acara yang sebagian besar terdiri dari kalangan mahasiswa, tampaknya arah perkembangan industri kreatif ini akan menuju ke arah yang cerah.

Apakah kalian salah satu dari peserta di JW Marriot kemarin? Pasti sudah banyak inspirasi dan ratusan ide yang didapat nih.
loading...
Top