Tertawakan Orang Kentut Termasuk Tindakan Jahiliyah?

Ketika ada seseorang yang kentut, pernahkah kita menertawakannya? Coba pikir, hal apa yang membuatnya lucu? Apakah kamu juga tertawa ketika kamu sendiri yang kentut? Tentu tidak ada yang lucu, lalu untuk apa kamu tertawa?



BACA JUGA: Bumi Tolak Jasad Kemal Ataturk Setelah Membuat 26 Kebijakan Menentang Islam

Hal ini sebenarnya karena kita bahagia melihat seseorang yang tertimpa kesususahan dan seolah-olah membuat semua orang tau, sehingga orang tersebut akan malu. Tahukah kamu, ketika kita menertawakan orang yang kentut, kita akan mengalami hukuman yang begitu berat. Apakah itu?

Dikutip Wajibbaca dari Islampos, Ternyata menertawakan orang yang kentut merupakan tindakan jahiliyah. Dalam Tuhfatul Ahwadzi, Syarh Sunan Turmudzi, Al-Mubarokfuri mengatakan, bahwa ketika zaman Jahiliyah, jika dalam suatu majelis ada yang kentut, maka mereka beramai-ramai menertawakannya. Namun kemudian Rasulullah melarangnya.

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan, “Umumnya orang akan menertawakan dan terheran dengan sesuatu yang tidak pernah terjadi pada dirinya. Sementara sesuatu yang juga dialami dirinya, tidak selayaknya dia menertawakannya. Karena itulah, Nabi Muhammad SAW mencela orang yang menertawakan kentut. Karena kentut juga mereka alami. Dan semacam ini (menertawakan kentut) termasuk adat banyak masyarakat,” (Syarh Riyadhus Sholihin, 3/120).

Ini merupakan adab bersosial dalam Islam. Melalui Rasulullah, Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan kita agar tidak mengejek kondisi yang dialami oleh orang lain, sementara kita juga mengalaminya. Seperti halnya kentut, dimana kita sendiri juga berpotensi mengalami hal serupa.

Dari sahabat Abdullah bin Zam’ah Radhiyallahu ‘Anhu menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah menyampaikan khutbah. Beliau menceritakan tentang kisah unta Nabi Sholeh yang disembelih kaumnya yang membangkang. Beliau menafsirkan firman Allah di surat as-Syams.

Kemudian beliau menasihati agar bersikap lembut dengan wanita, dan tidak boleh memukulnya. Kemudian beliau menasihati sikap sahabat yang tertawa ketika mendengar ada yang kentut.

“Mengapa kalian mentertawakan kentut yang kalian juga biasa mengalaminya,” (HR. Bukhari 4942 dan Muslim 2855).

Kemudian Imam Ibnu Utsaimin juga menyebutkan satu kaidah, “Ini merupakan isyarat bahwa tidak sepantasnya bagi manusia untuk mencela orang lain dengan sesuatu yang kita juga biasa mengalaminya,” (Syarh Riyadhus Sholihin, 3/120).

Nah itulah alasannya, gak kebayangkan jika itu terjadi padamu? Cukup ucapkan saja maaf ketika kita kentut dan bagi yang mendengarnya cukup diam saja.
Top