Sedih! Tak Punya Rumah, Bocah Ini Tinggal Di Bajaj Selama 11 Tahun Bersama Sang Ayah

Jam pulang, itulah yang ditunggu-tunggu para murid setelah lelah habiskan tenaganya untuk menuntut ilmu di sekolah. Tujuan utama mereka pasti adalah rumah untuk mereka makan, istirahat dan melakukan hal lainnya. Tapi tidak bagi Amat.



BACA JUGA: Bukannya Dikritik, Bula yang Menemukan Uang di ATM Canggu Plaza Ini Justru Dipuji. Ternyata Ia Melaukan Ini!

Muhammad Irwan atau yang biasanya dipanggil Amat (11) adalah seorang anak dari sopir bajaj. Ia setiap hari dijemput oleh ayahnya ketika pulang. Bukannya mengantar pulang, Amat malah tidur di belakang bangku kemudi bajaj milik ayahnya tersebut.

Dengan tas sebagai bantal, Amat pun tidur dengan pulas di ‘kabin’ bajaj yang sempit itu. Bising lalu lintas dan teriknya matahari Jakarta tak mampu mengusik Amat. "Dia kecapekan, pulang sekolah langsung tidur," kata Riwahyudin (54) ayah Amat saat berbincang dengan detikcom di Stasiun Cikini, Jakarta Pusat, Senin (26/9/2016).

Dikutip dari Detik, Di Bajaj itulah sehari-hari Amat tinggal bersama Wahyudin ayahnya. Sudah 11 tahun lamanya mereka tinggal di atas Bajaj. Mereka tak punya rumah. Setiap malam mereka tidur di Bajaj yang mangkal di samping Stasiun Cikini persis di seberang Pasar Cikini.

Di Bajaj yang sempit itu Amat dan Wahyudin tidur setiap malamnya. Amat tidur di kursi penumpang. Sementara sang Bapak terlelap di kursi kemudi.

Setiap pagi sebelum narik Bajaj, Wahyudin mengantar Amat ke sekolahnya di SDN 05 Gondangdia yang tak jauh dari Stasiun Cikini. Tengah hari Wahyudin kembali ke Stasiun Cikini menjemput Amat untuk makan siang dan istirahat.



Menggunakan uang sisa setoran hasil narik Bajaj, Wahyudin dan Amat makan siang di warung-warung di sekitar Stasiun Cikini. "Makan seadanya," kata Wahyudin.

Lalu bagaimana untuk urusan mandi dan mencuci?

"Ya di WC umum. Di Pom bensin atau di pasar. Kalau pagi kan sepi," kata dia.

Baju pakaian Wahyudin dan Amat disimpan di dalam plastik yang disimpan di dalam Bajaj. Plastik baju sekolah dan pakaian sehari-hari dipisahkan dengan warna plastik yang berbeda yakni hitam dan kuning.

Meski di ruang sempit dengan kaki tak selonjor penuh, Amat tertidur pulas di kursi kemudi Bajaj. Dia tak terusik oleh bising lalu lintas, terik matahari atau pun hiruk pikuk Pilgub Jakarta. Mendengar kisah Amat ini, semoga kita bisa lebih bersyukur dan tidak mengeluh.
Top