Raja Pengganda Uang, Inilah Sosok Dimas Kanjeng Taat Pribadi Dengan Ritualnya Yang Tidak Masuk Akal

Peristiwa penangkapan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang dikenal sebagai “Raja Pengganda Uang”, membuat masyarakat di Tanah Air terkejut. Pasalnya, Dimas Kanjeng yang diduga terlibat kasus pembunuhan bukanlah orang biasa. Ia dikenal sebagai sosok yang memiliki kekuatan metafisika berkat aksinya yang mampu “memproduksi” atau menggandakan uang hingga berkali-kali lipat.

Jangan lewatkan : Seakan Emosi Dengan Pertanyaan Netizen Larissa Chou Berikan Jawaban Ketus Soal Cadar Yang Jarang Digunakan

Dimas Kanjeng ditangkap lantaran diduga terlibat pembunuhan atas santrinya Abdul Gani, warga Semampir, Kecamatan Kraksaan pada April 2016, serta Ismail warga Situbondo pada Februari 2015.
Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Prabowo Argo Yuwono mengatakan, usai ditangkap di Padepokan “Dimas Kanjeng” yang merupakan padepokannya di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Probolinggo. Dimas Kanjeng digiring ke Mapolda Jawa Timur untuk menjalani pemeriksaan penyidik di Ditreskrimum.
Seperti diketahui, Dimas Kanjeng mengelola sendiri padepokan di atas lahan seluas 30 hektare sejak 2002. Di atas lahan itu berdiri rumah mewah yang dihuni Dimas Kanjeng, pendopo dua lantai, masjid, rumah para santri, sekretariat padepokan, dan lapangan voli.
Seperti yang diberitakan makassarterkini.com Hingga saat ditangkap, jumlah santri Padepokan Dimas Kanjeng berjumlah sekitar 10 ribu. Satri-santri tersebut berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, Kalimantan, dan Bali.
Kepopuleran Dimas Kanjeng berawal dari sejumlah video yang diunggah netizen yang memperlihatkan proses ia menghasilkan uang secara gaib. Walaupun kontroversial, video-video itu berandil memancing perhatian publik. Dari sini, ia banyak merekrut simpatisan yang sebagian besar adalah para santri.
Sebelumnya, Dimas Kanjeng cukup populer di Jawa Timur daerah Tapal Kuda hingga bagian barat. Padepokannya sering dikunjungi orang-orang yang terlilit masalah keuangan. Tidak hanya itu, tak sedikit calon legislatif (caleg) gagal yang bertandang ke Padepokan “Dimas Kanjeng” lantaran kehabisan uang untuk dana kampanye.

Baca Juga : Perlahan Terungkap, Perkawinan Mario Teguh dan Ariyani Penuh Kekerasan
Beberapa rumor menyebutkan, jika seseorang yang bertamu ke padepokannya harus menyetor mahar untuk menabung kepada Dimas Kanjeng. Biasanya, para tamu  Dimas Kanjeng memenuhi padepokan bila pria bertubuh gempal tersebut memiliki terhajatan, seperti perayaan hari jadi anaknya. Selain itu, para santri juga harus menyumbang uang secara iklas. Tidak ada pembukuan maupun bukti pembayaran. Semua uang didonasikan secara cuma-cuma.

Seperti yang marak diberitakan di media sosial (medsos), sumbangan itu nantinya bakal digandakan berkali-kali lipat. Namun, untuk mendapatkan “uang penggandaan” tersebut, para santri diwajibkan membeli “Tali Alibaba”, yaitu benang dengan panjang 15 sentimeter yang harus dikaitkan pada lengan santri.
Diberitakan, harga per utas benang Rp 200 ribu. Kalau tidak, uang mahar yang sudah dibayarkan setiap bulan selama bertahun-tahun bakal hangus. Selain itu, setiap malam Jumat, para santri harus kumpul di rumah koordinator untuk istighosah dan setor mahar. Bahkan, ritual ini dilakukan pada bulan tertentu selama satu pekan penuh.
Para santri di padepokan, seperti dilansir sebelumnya, dituntut taat dan rida dengan uang mahar tersebut yang dikatakan milik Yang Mahakuasa.
Praktik yang dijalankan Dimas Kanjeng sudah bertahun-tahun. Pada 2014 lalu, padepokan tersebut sempat mendapat rumor miring terkait dugaan penipua, akan tetapi tudingan itu sulit dibuktikan.
Sebelumnya, video-video Dimas Kanjeng yang diunggah di Youtube mendapat berbagai tanggapan. Ada yang yakin Dimas Kanjeng memang benar-benar dapat “menarik” uang gaib, namun ada juga netizen mengaku tidak percaya. Bahkan ada yang sarkartis mengatakan aksi Dimas Kanjeng rekayasa yang menjurus ke perbuatan sirik dan menyekutukan Tuhan.
loading...
Top