[Ngobrol dengan Ibu Penjual Gado-gado] "Lebih Pedas Omongan Ibu ini Daripada Gado-Gadonya" kata Bayu



Siti Khodijah, penjual gado- gado yang akrab disapa dengan Ibu Ijah. Siang itu ia meninggalkan gerobak gado-gadonya begitu saja di pinggir jalan.

Datanglah seorang pria yang ingin membeli gado-gado Ibu Ijah di tepi jalan dekat Beji, Depok, Jawa Barat itu.

Baca Juga : 14 Dosa ini Bisa Timbul Hanya dari Kepala Wanita

Ada cerita yang begitu menghentak hati pria ini saat bertemu Ibu ini. Hingga cerita yang dia tulis berkembang hingga ke laman Malaysia, Sinar Harapan.

Ibu Ijah saat itu meninggalkan gerobaknya begitu saja di pinggir jalan untuk menunaikan sholat.

Kala itu, penjual buah rambutan di sebelahnya memberitahu Ibu Ijah pergi sholat Zuhur.

"Setelah 15 menit kemudian dia muncul. Bu Ijah akan minta maaf kepada pelanggan yang menunggu," cerita Bayu Gawtama melalui laman Islampos.

Menurut Bayu, dia bertanya kepada Ijah meskipun sebenarnya sudah tahu ke mana wanita itu menghilang tadi.

"Saya tanya, 'pergi sholat Bu?'. Kemudian dia jawab, 'Ya, Mas. Kaya juga tidak, sholat juga tidak, rugilah saya'," katanya.

Wuih sebuah tamparan bagi Bayu, jawaban kedua ini malah terasa bagai sebuah pukulan untuk Bayu, setelah ia melontarkan pertanyaan.

"Saya tanya lagi, 'Tak takut kehilangan pelanggan?' Dia jawab,

Jawaban Kedua Lebih Pedas

'Memanglah, tiap kali saya pergi shalat, akan ada enam atau tujuh pelanggan yang datang. Tapi kalau rezeki saya, mereka akan datang kembali. Kalau tak datang balik itu berarti bukan rezeki sayalah'. Jawaban ini pukulan kedua buat saya," ujar Bayu.

Bayu merasakan jawaban kedua itu lebih pedas dari gado-gado yang dibuat perempuan itu.

"Jelas keyakinan dia dalam hal rezeki itu jauh lebih tinggi dibandingkan keyakinan saya yang masih ragu-ragu ini," kata dia.

Bayu mengakhiri kisahnya dengan satu nasihat yang harus dipikirkan bersama. " Sekaya apa dirimu sampai sanggup meninggalkan sholat?," tanya dia.

Wah, ini juga sebuah tamparan telak bagi kita semua yang selama ini belum mendahulukan urusan akhirat daripada urusan duniawi.
loading...
Top