Misteri Kasrin Tukang Becak yang Naik Haji Bermula dari Secarik Kertas

Kisah yang aneh tapi nyata menghebohkan warga Dukuh Gembul, Desa Sumberejo, Pamotan, Rembang, Jawa Tengah. Kasrin, tukang becak yang biasa mangkal di depan Masjid Jami' Lasem ramai menjadi perbincangan usai mengaku berhaji meski namanya tak tercantum dalam daftar calon haji di Kantor Kementrian Agama setempat.

Dikutip dari tribun jateng, saat rumah Kasrin didatangi, wartawan disambut dengan baik oleh anak Kasrin.

"Monggo mlebet, pinarak (silakan masuk, duduk, red)," ucap Istiqomah (32), anak bungsu pasangan Kasrin dan Jumiati (54).



Rumah Kasrin berbentuk joglo hanya berdinding kayu, sebagian telah berlubang di sana-sini. Lantainya masih plester semen, tak lagi mulus. Terdapat tandon air berwarna biru berukuran cukup besar di halaman.

Usai duduk sejenak, Istiqomah mulai bercerita perihal ayahnya yang berangkat haji secara misterius. Bermula sekitar delapan bulan lalu sang ayah tiba-tiba menunjukkan sebuah copy surat tulisan tangan.

Surat tersebut menerangkan Kasrin telah didaftarkan berangkat haji oleh seseorang bernama Indi, beralamat di Desa Ngemplak, Lasem. Kepada keluarga, Kasrin mengatakan Indi adalah pelanggan setianya selama ia menarik becak sejak 21 tahun terakhir.

"Diterangkan, bahwa bapak sudah didaftarkan haji pada 2007 lalu, dan akan berangkat pada tahun 2016," terang Istiqomah.

Saat ditanya soal paspor, visa dan kelengkapan lainnya, kala itu Kasrin bilang semuanya telah diurus oleh Indi. "Bapak hanya bilang, kabeh wes ono seng ngurus (Semua sudah ada yang mengurus, red)," ucapnya.

Baca Juga : AJAIB KASRIN SI TUKANG BECAK! Naik Haji Hilang di Rembang Muncul di Mekkah

Lantaran penasaran, Siti Rokhanah (36), anak sulung Kasrin, sekitar dua bulan lalu mendatangi Kantor Kemenag Rembang untuk mencari tahu apakah bapaknya terdaftar sebagai calon jemaah haji. Hasilnya, kata Siti, nama ayahnya tak termasuk 791 calon jemaah haji yang akan berangkat.

Usai dari Kantor Kemenag, Siti menanyakan perihal keberangkatan ke tanah suci kepada Kasrin.

"Saat saya tanya begitu, bapak hanya ngendikan (bilang, red) mbok ikhlasne bapak budal ora mbok ikhlasne ya tetep budal (Kalian ikhlaskan bapak berangkat tak kalian ikhlaskan bapak juga tetap berangkat, red)," tuturnya.

Mendengar jawaban Kasrin, Siti dan saudara lainnya meminta ayahnya mempertemukan Indi dengan pihak keluarga. Permintaan itu ditolak Kasrin. "Bapak hanya bilang, sampai kiamat pun kalian tidak akan tahu, yang tahu sosok Bu Indi itu hanya bapak," ucap dia.

Beberapa saat jelang keberangkatan pada Selasa (23/8/2016) malam, Kasrin berpamitan kepada saudara dan para tetangga. Saat keberangkatan Kasrin diantarkan beramai-ramai menuju Masjid Jami Lasem. Di masjid tersebut, rombongan haji dari Kecamatan Lasem, ditemani para pengantar, telah berjubel menunggu keberangkatan bus yang ditumpangi menuju Asrama Haji Donohudan, Boyolali. Saat itu Kasrin tak mengenakan seragam sebagaimana jemaah haji lain. Ia hanya mengenakan baju koko warna putih, celana dan peci berwarna hitam.

Beberapa saat usai tiba di Masjid Jami Lasem, Kasrin yang kala itu dikerumuni para pengantar berpamitan membeli rokok, namun tak kunjung kembali. Tak lama kemudian anak bungsu Kasrin, Istiqomah, telah melihat ayahnya berada di atas bus rombongan haji asal Kecamatan Sarang yang melaju dari arah timur.

"Bapak tersenyum dan dada-dada kepada saya, tapi yang lain tak melihat," tuturnya.
Kala itu tas yang disiapkan untuk baju ganti dan keperluan Kasrin lain juga tak dibawa. "Tasnya kan saya yang bawa, masih, ditinggal begitu saja," sambung Istiqomah.

Keanehan lain muncul keesokan harinya, saat siang itu Kasrin menelepon keluarga mengabarkan bahwa ia telah berada di dalam pesawat, terbang menuju tanah suci bersama anggota jemaah haji lain.

"Saya dengan suara bahwa ada pramugari menawari makan siang, padahal seharusnya kalau pesawat sudah terbang kan bisa telepon-teleponan," ucapnya.

Saat sampai di tanah suci, Kasrin masih rajin menghubungi keluarga, memberi kabar tentang keberadaannya.
"Terakhir telepon tiga hari lalu, usai makan siang. Katanya di sana ia juga berada di pemondokan (maktab) bersama dengan jemaah haji asal Sarang," sambung Istiqomah.

Selama kepergian Kasrin, keluarga setiap malam menggelar pengajian untuk mendoakan agar yang bersangkutan diberi kelancaran dan selamat sampai kembali pulang.

Kepala Kantor Kemenag Rembang, Atho'illah, mengatakan pada tahun ini terdapat 791 anggota jemaah haji yang terdaftar di Kantor Kemenag Rembang.

Dari jumlah tersebut, menurut dia, tak terdapat nama Kasrin. Ia memastikan Kasrin tak berangkat haji melalui pendaftaran di Kantor Kemenag setempat.

"Ditanya beliau berangkatnya bagaimana, saya juga belum bisa menjawab. Yang jelas, dari 791 daftar jamaah di sini, tak ada nama beliau," kata Atho'illah.

Disinggung apakah ada kemungkinan Kasrin berangkat dengan mendaftar melalui Kantor Kemenang di wilayah lain, Atho'illah juga tak dapat memastikan.

Apakah Kasrin termasuk rombongan jemaah haji ilegal yang saat ini sedang ramai diperbincangkan, juga tak dapat dipastikan. "Kalau mendengar cerita yang beredar, sepertinya ini di luar logika," ucap Atho'illah.
Untuk memasuki pesawat terbang bersama calon jemaah haji lain, seseorang harus menunjukkan paspor, visa, dan persyaratan lain yang telah ditentukan.

Kecil kemungkinan Kasrin terbang satu pesawat dengan calon jemaah haji lain asal Rembang. "Logikanya seperti itu, tapi kan belum dapat dipastikan dikonfirmasi langsung ke beliaunya," tuturnya.

Menurut Atho'illah untuk menelusuri dan meluruskan cerita-cerita yang saat ini ramai diperbincangkan, pihaknya akan mendatangi kediaman Kasrin, setelah yang bersangkutan pulang dari tanah suci.

"Ya nanti kalau beliau sudah pulang, kembali ke rumah, kami akan menemui beliau, mendengar langsung cerita dari beliau seperti apa," imbuh dia.

MasyaAllah, kalau Allah sudah berkehendak maka tak ada apapun di dunia ini yang dapat menghalangi. Hingga saat ini kisah Kasrin ini masih menjadi misteri.
Top