Jadi Diri Sendiri Memang Yang Utama, Tapi Bukan Segalanya !


Hai guys, Tulisan ini khusus bagi kamu yang sedang mempunyai ambisi yang kuat untuk menjadi diri sendiri.

Sampai detik ini nih, masih banyak sekali orang yang salah tangkap mengenai istilah "menjadi diri sendiri". Selama ini argumen itu hanya dijadikan sebuah penerimaan atas kelebihan dan kekurang yang dimiliki oleh masing-masing orang. Pada akhirnya semua orang yang berpegang teguh dalam prinsip itu akan stuck yaaa gitu-gitu ajah tanpa disertai usaha untuk memperbaiki kekurangan dan menambah kelebihan.

“Ini diri gue!”, “Ini aku!”, “Inilah saya apa adanya!”, kerap diucapkan dengan lantang sembari menepuk dada tanpa pernah melihat ke dalam. Ya, ke dalam. Dalam dirinya sendiri, yang sekarang.

Bagaimana jika kemudian pemahaman seperti itu dibantah dengan pertanyaan berikut,

Kalau kamu hanya ingin menjadi diri sendiri, memangnya dirimu yang sekarang itu bagaimana?”

Sebuah pertanyaan telak bukan? Apa jawabanmu?

Menjadi diri sendiri tanpa diikuti upaya mengintrospeksi diri yang sekarang itu sama dengan bunuh diri. Karena itu artinya, kamu sama sekali belum memahami dirimu sendiri. Bagaimana mungkin hendak menjadi diri sendiri sementara kamu belum mengenal betul seperti apa dirimu sebenarnya.

Pertanyaan kritis semacam itu juga layak dilontarkan pada orang yang selalu berkata ‘Ikuti kata hati saja” dalam setiap pengambilan keputusan. Tunggu dulu, hati yang sedang akan diikuti itu dalam kondisi bagaimana? Kalau hati yang akan diikuti itu dipenuhi dengan hal-hal buruk, maka dapat dipastikan hati tersebut akan mengarahkan pada hal-hal buruk pula. Namun akan berbeda misalnya, jika hati yang akan diikuti itu dalam kondisi yang sangat baik, maka arah yang akan diberikan pun akan sangat baik pula.

Menjadi diri sendiri memang penting. Namun dalam batas apa? Bahwa kamu adalah orang Indonesia, itulah dirimu. Bahwa kamu adalah orang Sulawesi, Papua, Kalimantan, Jawa, Sumatera, itulah dirimu. Bahwa kulitmu berwarna hitam atau putih, itulah dirimu. Bahwa kamu adalah orang yang cantik atau tidak cantik, itulah dirimu. Bahwa kamu adalah orang yang berbakat bermain musik, nyanyi, atau berakting, itulah dirimu. Bahwa kamu adalah orang yang berbakat bermain sepak bola, bulutangkis, itulah dirimu. Bahwa kamu adalah orang yang humoris dan bisa menghibur dan membahagiakan banyak orang, itulah dirimu. Bahwa kamu adalah orang yang bersahabat, itulah dirimu. Bahwa kamu adalah orang yang murah senyum, itulah dirimu.

Namun jika menjadi dirimu sendiri adalah dengan gemar berbohong, itu jelas bukan dirimu. Jika menjadi diri sendiri adalah yang gemar mabuk-mabukan, itu jelas bukan dirimu. Jika menjadi diri sendiri adalah dengan keras kepala tanpa pernah mau mendengar nasihat dari orang lain, itu jelas bukan dirimu. Jika menjadi diri sendiri adalah dengan memelihara kebiasaan ingkar janji, itu jelas akan merugikan orang lain.


Kamu tidak perlu berambisi menjadi orang yang terlihat kaya, sementara pada kenyataannya kamu bukanlah orang kaya.

Come on guys, open your mind !!! 

Menjadi Diri Sendiri Dalam Batas Kebaikan

Ketahuilah, tak ada orang yang benar-benar bisa menjadi dirinya sendiri. Pasti ada pengaruh dari luar yang turut membentuk perilaku dan karakter seseorang.
Maka berhati-hatilah ketika kamu bilang ingin menjadi diri sendiri, jangan sampai alasan jadi dirimu sendiri itu tak lebih dari sekadar sebuah pembelaan atas perilaku burukmu sendiri.

Kamu percaya bahwa tiada manusia yang terlahir sempurna, kan? Nah, itulah yang seharusnya dijadikan pijakan. Dirimu sendiri yang sekarang itu belum sempurna. Jangan stuck dengan argumen yang seperti itu. apakah tak ingin mencoba pribadi yang lebih baik lagi, lagi dan lagi ?!

Ingat, jika dengan menjadi diri sendiri justru tidak membawamu pada kebaikan, maka lebih baik menjadi orang lain tapi bisa membawamu ke arah kebaikan.

Jangan jadi orang yang membosankan ! Pelajari hal baru untuk hidupmu dan kepribadianmu.
Selama itu positif, why not ? :)

Top