[FAKTA] Ternyata Pesawat Buatan Indonesia Diminati Banyak Negara


CN295

Satu hal yang membuat miris setelah anda membaca fakta bahwa putra bangsa ini telah mengekspor sebanyak 396 unit pesawat ke berbagai negara di dunia, namun Indonesia masih menerima hibah pesawat dari berbagai negara juga. Contoh saja dari Australia yaitu 4 pesawat angkut C-130H Hercules, lima pesawat F-16 yang dihibahkan Amerika Serikat kepada TNI Angkatan Udara yang datang Rabu (21/09/2016) lalu. Namun ada juga hibah pesawat yang sempat ditolak yaitu dari Korsel.

Memang pemerintah punya strategi tersendiri untuk membina hubungan bilateral. Namun seharusnya sebagai bangsa yang kaya dan cerdas akan SDMnya patutlah kita bangga dengan karya anak bangsa. Faktanya memang PT Dirgantara Indonesia tercatat telah mengekspor pesawat ke 11 negara hingga saat ini. Total pesawat yang diekspor perseroan mencapai 396 unit. Terbaru, PT Dirgantara Indonesia mengirim pesawat NC-212 ke Thailand.

Negara-negara yang telah menggunakan pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia mencakup Thailand, Venezuela, Turki, UAE, Burkina Faso, Malaysia, Korea Selatan, Pakistan, Guam, Senegal dan Filipina. Komposisi mesin pesawat yang dibuat pun sudah didominasi buatan Indonesia.

"Untuk engine dan apionic juga masih impor, tapi overall kita udah bisa bikin sendiri ya di Bandung. Jadi total semuanya kita sudah buat sendiri," ujar Marketing of Communication PT Dirgantara Indonesia Nadira Ghaisani di Indonesia Business & Development Expo 2016, JCC, Jakarta, Minggu (11/9).

Menurutnya, saat ini belum ada yang memiliki keahlian khusus untuk membuat mesin pesawat. Sehingga, PTDI masih harus mengimpor komponen tersebut. "Untuk beberapa bagian kita masih impor, misalnya Airbus, kebanyakan (impor) Airbus," jelasnya.

Dia menambahkan pesawat-pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia yang seluruhnya di didominasi buatan Indonesia yaitu CN-235 dan NC-212. Selain itu, komposisi pesawat yang diimpor biasanya berasal dari Amerika Serikat dan Swedia.

Tak berhenti di situ, banyak negara baru yang melirik pesawat buat anak bangsa tersebut. Berikut rinciannya seperti yang dikutip dari merdeka.com,

1. NC-212i dipesan Filipina & Vietnam



PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menjadi satu-satunya industri pesawat terbang di dunia yang saat ini memproduksi pesawat NC212i. Seluruh proses pembuatan pesawat tersebut dilakukan di Bandung karena Airbus Defence and Space telah menyerahkan sepenuhnya fasilitas produksi ke PTDI mulai dari jig dan tools hingga pergudangannya (Slow Mover Material) yang semula berada di Spanyol telah dikirimkan seluruhnya ke PTDI.

Dalam keterangan perusahaan, PTDI saat ini sedang membuat pesawat NC212i sebanyak 2 unit pesanan dari Filipina dan 3 unit pesanan dari Vietnam. Seluruh proses pembuatan struktur pesawat mulai dari Fuselage, Center Wing, Outer Wing, Outer Flap, Inner Flap, Aileron, Vertical Stabilizer, Rudder, Horizontal Stabilizer, Elevator serta semua Door mulai Pilot Door, Passenger Door, Ramp Door, Forward Door dan Emergency Door itu dikerjakan seluruhnya di PTDI yang akan mendapatkan sertifikasi EASA ditargetkan akhir tahun 2016 atau awal tahun 2017.

"Hal ini menjadi keuntungan bagi PTDI karena peluang pasar NC212i masih menjanjikan serta untuk layanan purnajual pasti dilakukan di PTDI," ucap Direktur Utama PTDI, Budi Santoso dikutip dari merdeka.

Pesawat NC212i adalah pesawat multiguna generasi terbaru dari NC212 dengan daya angkut 28 penumpang, memiliki ramp door, kabin yang luas di kelasnya, sistem navigasi dan komunikasi yang lebih modern, biaya operasi yang lebih rendah namun tetap kompetitif di pasar pesawat kecil. Pesawat NC212i dapat juga digunakan sebagai pembuat hujan, patroli maritim dan penjaga pantai. Pesawat generasi sebelumnya C212 berbagai seri telah digunakan lebih dari 600 unit oleh 38 negara di antaranya yaitu Thailand, Filipina, Afrika Selatan, Spanyol, Uni Emirat Arab, Cili dan Meksiko.

PTDI dan Airbus Defence and Space (dahulu CASA) sudah bekerja sama sejak 40 tahun silam atau sejak tahun 1976. Sejak kurun waktu tersebut telah ada ratusan pesawat yang telah diproduksi PTDI atas lisensi dari Airbus Defence and Space, di antaranya Cassa 212 yang kemudian untuk yang diproduksi PTDI diubah namanya menjadi NC212. Melalui kerja sama yang telah ditandatangani pada tahun 2012 tersebut, PTDI menargetkan akan membangun 6 (enam) buah pesawat NC212i setiap tahunnya.

2. CN-295 diminati Vietnam



Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut bahwa Vietnam berminat membeli pesawat jenis CN-295 yang diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia.

"Tadi kami melanjutkan pembicaraan rencana pembelian CN-295," ujar JK seusai melakukan pertemuan bilateral dengan Wakil Perdana Menteri Vietnam Trinh Dinh Dung di sela-sela World Economic Forum (WEF) on ASEAN 2016 di Kuala Lumpur, Malaysia, seperti ditulis Antara Kamis (2/6).

Namun Wapres tidak menjelaskan secara teknis tentang rencana pembelian pesawat tersebut, termasuk mengenai jumlah unit.

Perdagangan beras dari Vietnam ke Indonesia juga dibicarakan dalam pertemuan tersebut. Namun JK menegaskan bahwa Indonesia belum memastikan impor beras dari mana pun.

Dalam pertemuan tersebut, JK juga menyampaikan pandangan Indonesia yang sama dengan Vietnam dalam sengketa wilayah perairan Laut China Selatan.

Indonesia tidak termasuk negara yang mengklaim wilayah perairan yang disengketakan oleh Vietnam, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan China itu.

3. N-219 ditaksir banyak negara



Pesawat buatan dalam negeri, N-219, selesai dirancang. Jadwal penerbangan perdana pesawat N-219 produksi terbaru perusahaannya bersama Lapan direncanakan November 2016. Meski demikian, beberapa negara menyatakan berminat membeli burung besi dibekali dua mesin baling-baling itu.

"Yang tertarik banyak. Thailand. Kanada karena memang kerja sama juga sama kami. Kroasia yang bilang kalau pesawat jadi kasih tahu. Tapi kami enggak bisa jual janji dulu yah," kata Dirut PT Dirgantara Indonesia, Budi Santoso.

Pesawat N-219 diperkenalkan di hanggar PT Dirgantara Indonesia (DI) Kota Bandung, Kamis (12/11). Pesawat angkut ringan ini terus disempurnakan sebelum terbang perdana tahun depan.

Selain negara luar yang sudah membidik pesawat berkapasitas 19 orang ini, Indonesia juga merencanakan pemesanan seratus unit. Dikatakan Budi, pesawat ini memang diperuntukkan buat penerbangan perintis.

"Untuk Indonesia mendekati 100 pesawat. Terutama di Indonesia Timur. Peminat bukan untuk sipil saja," ujar Budi.

Menurut Budi, ada beberapa alasan pesawat menelan modal Rp 500 miliar itu memikat banyak pihak. Menurut dia, N-219 dapat lepas landas dari jalur jarak pendek dan tidak melulu beraspal, kemudian bisa pesawat itu bisa dihidupkan tanpa bantuan awak di darat (self starting without ground support unit), memiliki kabin luas di kelasnya, serta dapat terbang rendah dengan kecepatan mencapai 59 knots.

"Selain untuk penumpang, pesawat ini cocok juga untuk patroli maritim. N-219 memiliki kabin terluas di kelasnya. Pesawat ini bisa mengevakuasi orang sakit sehingga pintu dibuat agak besar dan bisa membawa peti mati," ucap Budi.

4. CN-235 diminati Pakistan



Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan, Jenderal Rashad Mahmood berkunjung ke pabrik PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung kemarin, Rabu (21/9). Dalam kunjungan ini, Pakistan menyatakan ketertarikannya untuk membeli CN235-220 MSA/MPA/ASW (Maritime Surveillance/Maritime Patrol Aircraft/Anti Submarine Warfare) buatan anak bangsa.

Pesawat ini mampu mengakomodasi 4 mission console, mendeteksi target yang kecil, dilengkapi dengan FLIR (Forward Looking Infrared) untuk mendeteksi dan mengklasifikasikan target serta mampu merekam situasi di sekitar wilayah terbang untuk evaluasi misi.

Dalam keterangan perusahaan yang dikutip dari merdeka.com, Pakistan telah mengoperasikan CN235-220 sebanyak 4 unit untuk pesawat angkut militer dan pesawat angkut VIP. Pesawat terbang CN235-220 generasi terbaru buatan PTDI memiliki beberapa keunggulan, yakni adanya penambahan berat maksimum yang dapat diangkut, sistem avionik yang lebih modern, autopilot, radar pendeteksi turbulensi dan penambahan winglet di ujung sayap CN235-220. Penggunaan winglet akan membuat pesawat lebih stabil dan lebih irit bahan bakar.

"Produk PTDI cukup relevan dan akan memenuhi kebutuhan masa depan tidak hanya untuk Angkatan Laut Pakistan tetapi juga untuk Angkatan Udara Pakistan dan Angkatan Darat Pakistan," jelas Jenderal Rashad Mahmood.

Berikut keunggulan Pesawat CN235-220:
1. Dapat lepas landas dengan jarak yang pendek, dengan kondisi landasan yang belum beraspal. 
2. Mampu mengangkut 49 penumpang termasuk pilot dan co-pilot dan merupakan pesawat multiguna untuk berbagai macam misi, seperti pesawat angkut penerjun, evakuasi medis, pesawat kargo, pesawat sipil maupun pesawat VIP dan VVIP. 
3. Memiliki ramp door yang mampu membawa cargo atau kendaraan di dalamnya. 
4. Memiliki sistem avionik terbaru modern dan Full Glass Cockpit.
5. Multihop Capability Fuel Tank, teknologi yang memungkinkan pesawat tidak perlu mengisi ulang bahan bakar untuk melanjutkan penerbangan ke rute berikutnya.
6. Quick Change Configuration, Retractable Landing Gear, High Wing Configuration.
7. Memiliki harga yang kompetitif dengan biaya perawatan yang murah.
"Kunjungan ini diharapkan untuk mendapatkan kepercayaan dari Pakistan untuk menambah pesawat CN235-220 dengan konfigurasi (MSA/MPA/ASW)," tambah Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Andi Alisjahbana.

5. Presiden Guinea kepincut CN-235


Presiden Republik Guinea, Alpha Conde menyampaikan minatnya terhadap pesawat buatan anak bangsa tersebut. Alpha Conde berkunjung ke PT Dirgantara Indonesia (PTDI) pada Kamis, 4 Agustus 2016 lalu.

Dikutip dari keterangan perusahaan, kunjungan pertama Presiden Guinea ke PTDI untuk melihat proses produksi pesawat terbang dan helikopter yang telah diproduksi dan dioperasikan di seluruh negara ASEAN, Guam, Venezuela, Turki, dan Uni Emirat Arab. Sedangkan negara Afrika yang telah membeli pesawat CN235-220 buatan PTDI yakni Burkina Faso dan Senegal.

"Saat ini 2 unit pesawat militer CN-235 buatan kami telah beroperasi di Burkina Faso, serta 1 unit pesawat Cargo CN235 yang akan segera dikirimkan dan dioperasikan di Senegal," kata Dewan Komisaris PTDI dan Direktur Produksi, Arie Wibowo.

Presiden Guinea dan rombongan melihat proses produksi pesawat di hanggar produksi, dilanjutkan dengan peninjauan ke dalam pesawat CN235-220 MPA (Maritime Patrol Aircraft) yang ada di depan hanggar Delivery Center PTDI.

Presiden Alpha Conde menuturkan kekagumannya pada Indonesia sebagai negara yang dulunya merupakan negara jajahan Belanda kini dapat memproduksi pesawat terbang seperti halnya negara-negara Barat. Ia pun berharap dapat mengikuti jejak Burkina Faso dan Senegal untuk membeli pesawat CN235.

"Kami harap setelah Burkina Faso dan Senegal, Guinea akan menjadi salah satu klien perusahaan ini," jelas Alpha Conde.

Presiden Guinea sangat antusias dengan menanyakan secara detail spesifikasi teknis, harga dan delivery time untuk CN235-220. Dan menyatakan terkagum dengan negara tetangga mereka yakni Senegal yang sudah membeli dan akan mendapatkan CN235 di tahun ini.

Putra bangsa negeri ini memang orang-orang yang cerdas. Bila mendapatkan banyak dukungan, maka tak hanya pesawat. Teknologi-teknologi canggih di berbagai bidangpun dapat diciptakan di negeri ini. Seperti anda tahu, mobil listrik, listrik yang berasal dari tumbuhan, premium dari sampah plastik dan gas elpiji dari air serta masih banyak lagi kepandaian anak negeri ini yang belum mendapatkan dukungan penuh.
Top