Benarkah Bacaan Takbir Idul Adha Tetap Dikumandangkan Hingga tanggal 13 Dzulhijjah dan Seperti ini Bacaanya



Bagaimana sih cara pengucapan atau lafal bacaan takbiran yang benar? Sebenarnya ada dua jenis takbiran, yaitu secara singkat atau secara umum adalah takbiran yang sering kita ucapkan, dan bacaan takbiran yang terlengkap. Pada hakikatnya semua sama saja, tergantung dari kita pribadi ingin menggunakan yang mana. Bacaan takbir yang pendek maupun bacaan takbir yang panjang dan lengkap memiliki arti yang sama, yaitu sama-sama mengagungkan kebesaran Allah SWT.

Sama halnya dengan bacaan tasbih dan bacaan tahmid, bacaan takbir adalah sebagian dari dzikir. Karena dengan bertakbir itu seseorang akan ingat kepada keagungan Allah SWT Sang Pencipta. Oleh karena itu tidak ada larangan dalam bertakbir selama masih dalam batas kewajaran.

Lafadz  Takbiran

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

"Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahuakbar Allaahu akbar walillaahil hamd"

Artinya dalam bahasa Indonesia:
"Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar, Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar Allah maha besar dan segala puji bagi Allah"

Baca Juga : 
Unik Kambing 15 Juta/Ekor untuk Kurban Idul Adha Tahun ini, Wah Sama dengan Harga Sapi
Kita Sering Buruk Sangka Dengan Orang Lain, Karena Belum Tahu 5 Hal ini
Menurut Rasulullah, Inilah Ciri Orang yang Pandai

Lafadz Takbiran yang lengkap

اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَر اَللَّهُ اَكْبَرْ ـ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ ـ اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ
اَللَّهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً ـ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَلاَنَعْبُدُ اَلاَّ اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْـدَهُ وَنَصَرَعَبِدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ . اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ


Yang artinya,

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar..
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd.

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.....
Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa,...
wasubhaanallaahi bukrataw - wa ashillaa.

Laa - ilaaha illallallahu walaa na'budu illaa iyyaahu
Mukhlishiina lahuddiin
Walau karihal - kaafiruun
Walau karihal munafiqun
Walau karihal musyriku

Laa - ilaaha - illallaahu wahdah, shadaqa wa'dah, wanashara 'abdah, - wa - a'azza - jundah, wahazamal - ahzaaba wahdah.

Laa - ilaaha illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil - hamd.

Artinya bacaan takbiran:

Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar.
Tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah dan Allah Mahabesar.
Allah Mahabesar dan segala puji hanya bagi Allah

Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar
Allah maha besar dengan segala kebesaran,
Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya,
Dan maha suci Allah sepanjang pagi dan sore.
Tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan agama Islam meskipun orang kafir, munafiq dan musyrik membencinya.

Tiada Tuhan selain Allah dengan ke Esaan-Nya. Dia menepati janji, menolong hamba dan memuliakan bala tentara-Nya serta melarikan musuh dengan ke Esaan-Nya.
Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar. Allah maha besar dan segala puji bagi Allah.

Anjuran memperbanyak takbir ini sepadan dengan imbalan yang dijanjikan karena sabda Rasulullah saw:

اكثروا من التكبير ليلة العيدين فانهم يهدم الذنوب هدما

Yang artinya : "Perbanyaklah membaca takbiran pada malam hari raya (fitri dan adha) karena hal dapat melebur dosa-dosa."

Takbiran pada Hari Raya Idul Adha dimulai setelah shalat Shubuh di hari Arafah atau tanggal 9 Dzulhijjah dan selesai dibaca setelah Ashar hari keempatnya atau 13 Dzulhijjah.

Namun takbiran pada hari Raya Idul Adha dibagi menjadi 2 macam, yaitu takbir Mutlak dan Muqayyad,

1. Takbir Mutlak

Takbiran yang tidak terikat waktu dapat dilakukan dimana dan kapan saja, selama masih dalam rentang waktu, yaitu dimulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah sampai waktu Ashar pada tanggal 13 Dzulhijjah.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al Hajj ayat 28,
Yang artinya: " ....supaya mereka berdizkir (menyebut) nama Allah pada hari yang telha ditentukan.."

Kemudian dalam Surat Al Baqarah ayat 203,
Yan artinya: "...Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.."

Ditafsirkan menurut Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma,
"Yang dimaksud hari yang telah ditentukan adalah tanggal 1- 10 Dzulhijjah, sedangkan beberapa hari yang terbilang adalah hari tasyriq tanggal 11,12, dan 13 Dzulhijjah" (H.R Al Bukhari secara Mua'alaq)

2. Takbir Muqayyad

Takbiran yang tidak terikat waktu yang dilaksanakan setiap selesai melaksanakan shalat subuh sejak tanggal  9 Dzulhijjah sampai setelah shalat Ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Diantara banyak dalilnya berikut diantaranya,

Dari Umar bin Khattab rahiyallahu 'anhu, bahwa beliau dulu bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah Dluhur pada tanggal 13 Dzulhijjah. ( H.R Ibn Abi Syaibah dan Al Baihaqi dan sanadnya dishahihkan Al Albani)

Kemudian dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai Ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau juga bertakbir setelah Ashar. (H.R Ibn Abi Syaibah dan Al Baihaqi. Al Albani mengatakan : "Shahih dari Ali radhiyallahu 'anhu")

Nah dapat disimpulkan bahwa takbir Idul Adha disyariatkan sejak hari pertama bulan Dzulhijjah secara umum, dan disyariatkan secara khusus sesudah shalat wajib lima waktu dari sejak shalat fajar hari Arafah hingga shalat Ashar di hari Tasyriq.
loading...
Top