Wanita Ini Tuntut Ganti Rugi Rp 130 Juta, Gara-gara Dipaksa Upgrade ke Windows 10



Setahun lamanya Microsoft telah mempromosikan windows 10 kepada para pengguna windows 8.1 dan 7, tepat pada 29 Juli lalu akhir massa promosi mengratiskan windows 10. Sepanjang waktu itu, sebagaimana dirangkum wajibbaca.com dari Cnet, Windows 10 hanya dapat menguasai pangsa pasar sistem operasi sebesar 21,1 persen, menurut data Net Market Share per Juli 2016.

Memang tak semua orang suka dengan cara Microsoft “memaksa” pengguna upgrad ke Windows 10. Bahkan ada seorang wanita yang melayangkan gugatan hukum kepada Microsoft dan menuntut ganti rugi senilai 10.000 dollar AS atau sekitar Rp 132 juta.

Pasalnya, seperti dikutip dari Seattle Times, komputer wanita bernama Teri Goldstein itu suatu ketika melakukan upgrade otomatis ke Windows 10 secara mendadak, tanpa sepengetahuan dia.

“Saya tak pernah dengar soal Windows 10,” kata Goldstein. “Tak ada yang menanyakan apakah saya ingin melakukan update.”

Baca Juga : HEBOH : Bahkan Akun Kreator Pokemon GO John Hake, Dibobol Hacker "Our Mine"

Sudah begitu, proses upgrade gagal pula. Gara-gara itu komputernya berubah jadi lemot, sering crash, dan tak bisa dipakai selama berhari-hari. Padahal, komputer tersebut dipakai dalam pekerjaan Goldstein di sebuah agen perjalaanan.

Setelah layanan pelanggan Microsoft tak bisa memberikan solusi, Goldstein yang kesal pun memperkarakan peristiwa ini dan menuntut kompensasi seperti disebutkan di atas, untuk ganti rugi penghasilan yang hilang dan ongkos membeli komputer baru.

Pengadilan mengabulkan tuntutan Goldstein. Wanita tersebut berhasil mendapatkan uang setelah Microsoft membatalkan rencana untuk melakukan banding.

Kasus yang dialami Goldstein merupakan contoh ekstrim dari akibat perbuatan Microsoft memaksa pengguna Windows lawas melakukan upgrade ke Windows 10.

Raksasa software ini banyak dikritik karena melancarkan notifikasi lewat prompt yang banyak menjebak pengguna sehingga terpaksa melakukan upgrade.

Microsoft sendiri menolak jika dibilang “memaksa” pengguna bermigrasi ke Windows 10 karena masih memberikan pilihan, termasuk opsi untuk roll back ke OS versi sebelumnya apabila tak menyukai Windows 10.

Tehnik pemasaran yang berbeda-beda dari para pengembang system operasi, memang windows dari Microsoft saat ini lebih banyak digunakan para pengguna computer, namun tak ayal semua itu juga ada massanya. Karena saat ini pun banyak pengguna computer yang menyukai system operasi lain misal linux yang tersedia dengan berbagai macam distronya. Well, semua kembali kepada anda sebagai pengguna.
Top