Ritual Aneh, Serunya Tradisi Perang Nasi Di Ngawi

Ritual yang digelar di punden Dusun Tambakselo, Desa Planglor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi tergolong aneh.

Pasalnya, dalam menjalankan setiap ritual, nasi yang dibawa peserta ritual selalu dimakan dan sebagian digunakan makan bersama. Namun tidak demikian, di kampung yang tergolong berdekatan dengan hutan jati ini.

Di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, ada sebuah tradisi unik yang dilakukan warga secara turun temurun. Tradisi perang nasi. Dalam perayaan tradisi itu, puluhan orang saling melempar nasi yang dikumpulkan di suatu tempat.



Tradisi perang nasi digelar warga Desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, usai masa panen kedua setiap tahun. Warga desa secara sukarela mengumpulkan nasi yang dibungkus daun pisang atau daun jati. Sayur tahu, sayur kentang, mi, serta kerupuk atau rempeyek pun ikut disertakan.

Nasi-nasi yang dibungkus itu dikumpulkan di tempat lapang yang berada di bawah pohon trembesi besar tanpa melepas bungkus.

"Nasi itu dikumpulkan menyerupai tumpeng. Setiap tahun, jumlah kumpulan nasi bisa berbeda. Bisa delapan atau sembilan atau tujuh kumpulan nasi. Semakin banyak kumpulan nasi yang menyerupai tumpeng itu menunjukkan semakin bagus hasil panen warga desa," kata Sukadi, Kepala Desa Pelang Lor kepada viva.co.id.

Usai nasi dikumpulkan, para sesepuh desa berkumpul dan memanjatkan doa. "Tradisi ini sebenarnya adalah tradisi nadran atau bebersih desa. Kami bersyukur atas limpahan rezeki dari hasil pertanian, serta meminta kepada Tuhan, agar tahun depan hasil pertanian tetap bagus," ujar Sukadi.

Jangan Lewatkan :  10 Cara Unik yang Wajib Kamu Coba Agar Sandal Tercintamu Aman dari Sentuhan Maling

Menurut Sukandi, dulu tidak ada prosesi perang nasi atau saling lempar nasi dalam tradisi itu. Perang nasi baru muncul beberapa tahun belakangan ini saja.

"Dulu, tradisi ini berjalan dengan tertib. Bagi warga yang tidak mampu, dibagikan nasi dan lauk usai berdoa. Jika lebih maka nasi itu dibawa pulang. Saya tidak tahu pasti kapan tradisi ini bisa berubah menjadi saling lempar nasi," kata Sukadi.

Menurut cerita yang beredar, terjadinya saling lempar nasi ini disebabkan warga saling berebut nasi karena takut tidak kebagian nasi dalam perayaan. Dari saling berebut itulah menjadi saling lempar, dan tetap dilakukan hingga sekarang.

Selaku kepala desa, ia sudah mengingatkan warga agar tidak saling melempar nasi karena hanya akan menyia-nyiakan saja.

"Tetapi warga sepertinya tidak mempedulikan. Jadi kami ya membiarkan tradisi ini berjalan seperti ini, asal tidak ada dendam atau menimbulkan luka bagi warga," kata Sukadi yang sudah 17 tahun menjabat sebagai kepala desa.

Sementara itu, Agus Fathurahman, salah satu pemuda desa mengatakan, serunya tradisi ini justru pada saling lempar nasi. "Sejak kecil saya sudah ikut saling lempar. Justru serunya di situ. Namun kami tidak ada dendam jika tradisi ini selesai," ujar pemuda 21 tahun itu.

Tidak hanya anak-anak kecil ikut tradisi perang nasi ini, tua muda pun ikut dalam  perang nasi ini. Mereka rela terkena lemparan nasi, maupun tersiram kuah sayur, saat merayakan tradisi yang sudah berjalan ratusan tahun ini.

Namun, tidak semua nasi yang dibawa warga akan terbuang sia-siang. Karena, saat puluhan orang terlibat saling lempar nasi, biasanya para ibu juga sibuk mengumpulkan nasi-nasi yang masih bersih.

Salah satunya adalah Wagini. Setiap tradisi perang nasi, ia selalu mengumpulkan nasi yang masih bagus untuk dibawa pulang. "Ya untuk dimakan. Jika lebih, nasi ini saya jadikan kerupuk. Ya lumayan dari pada dibuang-buang mending saya bawa pulang," kata Wagini sambil menggendong bakul besar berisi penuh nasi.
Top