Rahasia Panjang Umur Mbah Gotho Hingga Tidak Pernah Masuk Rumah Sakit Dengan Umur 146 Tahun

Sodimejo atau biasa dipanggil dengan sebutan Mbah Gotho masuk kategori orang tertua. Berdasar rekam data administrasi kependudukan KTP, Mbah Gotho lahir pada 31 Desember 1870.

Saat ini dia masih hidup dengan 146 tahun. Apa rahasia panjang umurnya?



Memiliki usia lebih dari seratus tahun tentu saja sebuah anugerah luar biasa. Bertahan hingga usia itu, Mbah Gotho memiliki resep sederhana untuk menjalani hidup.

Seperti yang dilansir oleh regional.liputan6.com "Resepnya itu cuma sabar lan nrimo (sabar dan syukur), " kata Mbah Gotho saat ditemui di rumahnya di Dusun Segeran, Desa Ceeng, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, Jawa Tengah, Selasa 23 Agustus 2016 .

Artikel Terkait Kunci Mbah Gotho "Sabar lan Nrimo" Sebuah Anugerah Bisa Memiliki Umur Hingga 146 Tahun:

Resep itu terbukti ampuh. Meski sudah senja, ia terlihat jarang sakit berat. Seperti disampaikan salah satu cucunya, Suryanto.

"Selama dua puluh tahun saya merawat Mbah Gotho ini tidak pernah dibawa ke rumah sakit. Kalau sakit itu paling cuma masuk angin atau kecapean, " kata Suryanto.

"Kalau soal makanan, Mbah Gotho ini tidak pernah rewel. Makan apa saja pasti mau. Minum es teh masih bisa. Tapi sejak tiga bulan ini harus disuapi saat makan. Harus dimandikan karena sudah benar-benar tua."

Dalam sejarah hidupnya Mbah Gotho memiliki empat istri. Seluruh istrinya ini sudah meninggal, termasuk anak-anaknya. Sepengetahuan Suryanto, Mbah Gotho ini ditinggal istrinya yang terakhir pada 1988.‎

"Jika dihitung-hitung turunan keluarga Mbah Gotho itu sudah empat kali. Anak, cucu, cicit, dan canggah. Anak-anaknya sudah tidak ada. Ini yang ada tinggal cucu, cicit, dan canggah," ucap Suryanto.

Mbah Gotho kini sudah tidak bisa berjalan. Untuk mandi dan makan, ia dibantu cucunya yang bergantian menyambanginya. Kemampuan mendengarnya sudah menurun. Lawan bicaranya harus berkata dengan volume kencang di dekat telinga.

Kemampuan indera penglihatan Mbah Gotho juga sudah menurun. Meski demikian masih bisa menanggapi pembicaraan. Terlebih jika diajak ngobrol tentang masa-masa lalu, mulai dari pengalamannya saat zaman penjajahan ataupun saat ia berburu ikan di sungai
Top