Nikah Dini, Keren dan Mantap?


Pernikahan dini sih boleh, tapi nggak sedini ini juga kali guys

Benarkah? 
- “Kalau bisa nikah muda, kenapa tidak? Kalau bisa jadi mahmud, kenapa tidak?”
- “Nikah sebelum mapan, kenapa tidak? Agar istri dan anak tau arti perjuagan."

Mantap ya? Keren ya? Ya mantap – mantap keren. Ah, yang bener?

Pernikahan dini, memang merupakan sesuatu yang mantap dan keren. Mantap, ya siapa yang tidak mau menjalin cinta dan kasih dalam usia muda yang lebih lama. Yang tidak mau, perlu ditanyakan ‘kejantanan dan kebetinaannya’ (normal). Keren, ya artinya cepat laku. Yang cepat laku kan keren, ihhhhh.. yang tidak laku mah memalukan, apalagi sudah seperempat abat, huh minta ampun dehhh . Ho ho ho,

OK, dech kamu laku, laris manis malahan. Tapi, usahakan lakunya jangan sebentar, yoo Mas n Mbae! Pertahankan, kalau jadi mahmud menyenangkan! Pertahankan, kalau berjuang bersama, mendidik arti perjuangan!. Kalau tidak, malah memalukan. Janda dan Duda deh loe!. Setuju?

Ya, itulah pendapat sebagian orang yang
1. Mungkin memang telah matang dan benar-benar siap untuk menjalani rumah tangga dengan segala bentuk keperluan, dan juga dari segi mental dan ilmu.
2. Atau mungkin hanya orang-orang yang berpikiran praktis, sesuai khayalan akan hidup dari muda hingga tua bahagia bersama.
3. Bisa juga ingin saling mengikat kekasih.
4. Hanya ingin terhindar dari maksiat dan dosa secepatnya.
5. Cuma ikut-ikutan malu, kalau nggak nikah. Tetangganya pada nikah dini.
6. Celakanya masih banyak alasan nggak masuk akal lainya.
    - misal baru kenal seminggu udah nikah, (karena cantik atau ganteng)
    - gara-gara bertemu di pasar, dibeliin baju baru, dianggep baek, mau diajak nikah
    - dan masih banyak alasan lainya

Menikah memang merupakan kebutuhan kita semua sebagai manusia normal. Dalam menikah, kita akan mendapati dua hal yaitu hak dan kewajiban. Hak sebagai suami, kewajiban sebagai suami dan hak sebagai istri, kewajiban sebagai istri. Tujuan menikah adalah berkeluarga. Hal ini sesuai dengan ciri –ciri mahluk hidup dalam Biologi yaitu berkembang biak. Bagaimana Jika menikah tanpa berkembang biak? Nah itu, status sebagai mahluk hidup dipertanyakan.

Menikah dengan persiapan yang matang tentu akan terasa mengasyikan dan memuaskan. Mayoritasnya begitu, karena memang sudah dipersiapkan dan merasa mampu. Jika calon pengantin, sudah memperkirakan rintangan apa saja yang terjadi ketika mengarungi bahtera rumah tangga, tentu tidak akan kaget dalam menjalaninya. Yang harus kita tahu, berkeluarga itu bukan hanya ada enaknya saja, tapi ada juga tidak enaknya. Enaknya dalam bentuk ‘hak’ dan tidaknya dalam bentuk ‘kewajiban’. Jadi, jika kita nikah dengan persiapan, pasti kita tau bagaimana memperoleh hak yang baik dan bagaimana menjalan kewajiban yang baik.

Ini baca dulu : Inilah Godaan BERAT Saat Kamu Mendekati Hari Pernikahan

Menikah tanpa persiapan, sering membuat pengantin tidak siap. Ya namanya juga tanpa persiapan, ya kemungkinan tidak siapnya pasti besar. Yang perempuan, masih tinggal dirumah mertua tapi lagaknya sudah seperti Nyonya besar. Bukannya bangun pagi terus memasak, ehh malah bangun jam 10 siang dan protes lagi masakan mertuanya ‘sayurnya kurang aseemm’dan Suaminya bukannya menegur malah mengiain ‘ia bener kurang asemm’. Hah? Huekkzz... Woyyy kampret loe berdua.

Pernikahan dini memang lagi ‘Boomingg’.Jika ada acara pasar malam saja, pasti nyusul musim kawan. Kawin lari. Ditanya pada si perempuan apakah sudah kenal lama sama suaminya, dianya jawab “baru kenal malam minggu kemarin dipasar malam”. Hah? La trus gimana ceritanya, kok bisa kawin? “saya liat ganteng, dia beli in saya baju baru, trus dianya ngajak kawin, sayanya mau”. Sekali lagi, hahhh? Harap maklum, umurnya masih dini.

Karena banyaknya pernikahan dini, jadi banyak juga janda dan duda dini. Kasihan. Jangan ditanya, alasannya tepat misalnya :

- ada yang suaminya gak bisa beli baju lebaran sesuai model, dianya malu mau silaturahmi ke rumah ibu
- ada yang suaminya gak mampu beli in paket smartphone nya, dianya gak bisa browsing wajibbaca.com
- ada yang mertuanya cerewet buaanggett, ngajarin ngurus rumah tangga
- ada yang gak bisa masak
- dan masih banyak alasan tepat lainya

Waduh yang ini kan kacau. Si suami juga gak nasehatin atau cari pendapat sama orang tua malah ngomong ‘ya udah pulang kerumah buyut loe, kamu saya talak tiga’ dan ada juga karena pusing langsung di tempeleng ‘Duerrrrr’. Nah loe, Mas itu anak orang bukan Bola Volly.

Ya memang sudah jodohnya segitu "kata orang". Ia kalau belum punya buah hati. tapi kalau sudah, bagaimana? Telantar dong tu anak. Terus kalau begitu akhirnya : mana mantapnya? Mana kerennya? Mana perjuangannya? Mantapnya jadi Duda dini, kerennya jadi Janda dini dan pejuangannya anak terlantar.

Kalau sudah gini bagaimana? Itu artinya bukan keren dan kamu dipastikan masuk golongan 2 sampek 6 di atas. Nikah dini memang bagus, tapi pandang kesiapanmu, secara materi, ilmu dan mental kamu. Setuju nggak pembaca?
Top