MIRIS : Anak - Anak SD ini, Tiap Hari Seberangi Sungai Buaya untuk Pergi ke Sekolah



Seorang lelaki paruh baya duduk dipinggir sungai. Am Damanik (35) siang itu ia berada di tepi Sungai Buaya, warga Desa Manggis Dusun Tiga, Kecamatan Serbajadi, Serdangbedagai ini sedang menunggu anaknya pulang dari sekolah.

Meski telah terbiasa melihat anaknya datang dan pergi kesekolah, tetap saja air mukanya terlihat gelisah. Am memang tidak seperti para orangtua pada umumnya yang menunggu anak mereka sepulang dari sekolah.

Dia menunggu dengan hati tidak menentu karena anaknya, Sania Pratiwi (10), yang duduk di kelas 4, harus menyeberangi sungai tersebut. Sungai yang "tabiatnya" tidak pernah bisa ditebak.

"Kalau seperti sekarang, kan, kelihatan tenang. Nggak dalam juga. Paling-paling cuma sepinggang anak-anak. Tapi kondisinya bisa berubah tiba-tiba. Arusnya jadi deras. Ini yang selalu kita takutkan. Makanya, tiap pergi dan pulang sekolah saya sering menunggui anak di sini," katanya dikutip dari tribun medan.

Baca Juga : VIDEO : Karena Kemiskinan Ibu dan Anak ini Tinggal di Hutan Hanya Makan Dedaunan

Sania cekatan menyeberangi sungai. Barangkali karena sudah terbiasa. Begitu pun, perlu waktu hingga 15 menit baginya untuk menggapai tangan ayahnya. Sebelumnya di seberang, dia dan sejumlah kawannya yang bersekolah di SD Negeri 101979 yang terletak di Desa Bandarkuala, Kecamatan Galang, Deliserdang, membuka seragam mereka. Sembari berjalan selangkah demi selangkah, seragam itu dijunjung di atas kepala.

Sania, seperti juga anak-anak lain di Desa Manggis, terpaksa menantang bahaya, tiap hari bertaruh nyawa sekadar untuk bisa sampai ke sekolah, karena memang sekolah inilah yang terletak paling dekat dengan desa mereka. Jaraknya sekitar 5 kilometer.

"Sebenarnya ada SD lain. Yang tidak perlu nyeberang sungai. Tapi jauh sekali jaraknya. Ada lima belas kilometer lebih. Jadi memang lebih dekat ke Bandarkuala," ucap Am.

Beberapa waktu lalu, desa mereka mendapatkan bantuan dari pemerintah lewat Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Bantuan tersebut berupa tali tambang yang sampai sekarang masih membentang melintang di atas Sungai Buaya. Tali untuk operasional getek (rakit sederhana).

"Kami bikin getek dari bambu. Cuma memang tidak selalu bisa jalan. Tidak ada yang khusus menyeberangkannya. Jadi kalau kebetulan ada orang dewasa yang bisa bawa getek, anak-anak ini naik getek. Kalau nggak ada, ya, terpaksa menyeberang," kata Am.

"Jadi kalau boleh kami warga di sini minta sama pemerintah untuk dibangunkan jembatan. Nggak usah yang bagus-bagus kali pun gak apa-apa. Yang penting bisa dipakai menyeberang dan kami para orang tua nggak was-was lagi kalau anak-anak kami pergi ke sekolah," ujar Am.

Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi (Infokom) Deliserdang, Haris Binar Ginting, mengatakan baru mendengar ada anak sekolah yang harus menyeberang sungai untuk sampai ke sekolah. Dikemukakannya, karena lokasi merupakan perbatasan Deliserdang dan Serdangbedagai, Ginting mengatakan pihaknya akan berkomunikasi dan berkoordinasi lebih dulu dengan pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sergei.

Baca Juga : Bikin Nangis, Siswa Kelas 2 SD Ini Belajar di Bawah Lampu Jalan

"Wilayah tempat tinggal warganya itu di Serdangbedagai, tapi sekolahnya di wilayah kami. Dari sisi ini, saya kira, mereka (Serdangbedagai) yang harus lebih proaktif. Kita membuka diri, kok, untuk komunikasi dan koordinasi. Umumnya kalau ketemu kasus seperti ini, kan, demikian penanganannya," kata Ginting.

Ditanya perihal pengadaan jembatan, Ginting menyebut kemungkinan ke arah itu tidak tertutup. "Nanti kita koordinasikan bagaimana caranya. Bisa saja, misalnya, jembatan itu dibangun dengan anggaran bersama, patungan, antara Deliserdang dan Serdangbedagai," ujarnya.

Pemkab Deliserdang sendiri, sebut Haris Ginting menambahkan, tidak pernah menolak kemajuan untuk pembangunan. Selama ini banyak warga bukan Deliserdang yang dibantu oleh Pemkab karena berbagai persoalan.

Baca Juga : MAKIN MIRIS : Video, Anak-Anak SD Trenggalek ini ke Sekolah Bawa Motor Sendiri

"Contohnya kemarin ada warga Medan yang terlantar, ya, kita bantu. Yang jelasnya kedua Pemkab harus bangun komunikasi," ucapnya.

Kepala Bagian Humas Pemkab Serdangbedagai, Indah Dwi Kumala, tidak dapat dihubungi. Beberapa kali dikontak ke nomor telepon selularnya tidak tersambung. Demikian juga dengan Bupati Serdangbedagai, Soekirman. Kontak maupun pesan pendek yang dikirimkan ke nomor telepon selularnya tidak mendapatkan respon.

Semoga anak-anak ini cepat mendapatkan bantuan fasilitas ke sekolah, jadi orangtua mereka tidak perlu khawatir lagi anak-anaknya harus menyebarangi sungai yang lebar itu.
Top