Menyelami Makna dan Hakikat Sujud yang Sebenar-benarnya



Dari sisi bahasa atau tinjauan linguistik sajada  artinya khadha’a wantashaba, atau tunduk dan tetap dalam keadaan tersebut dengan meletakkan dahi dan wajahnya ke bumi. Jika dikatakan asjada berarti menganggukkan kepalanya dan mencondongkannya sedikit, juga berarti memfokuskan pandangannya pada kening mengarah ke tanah.

Dan segala sesuatu yang merendahkan diri berarti ia telah sujud. Dan jika dikatakan sajada yasjudu berarti meletakkan wajahnya ke bumi. Waqaumun sujjadun sujuudun maksud pernyataan ini adalah sujud penghormatan bukan sujud ibadah, sebab anak Ya’kub tidak menyembah berhala sedikit pun selama hidupnya.

Orang yang melakukan ketundukkan, kepatuhan, ketaatan, membungkukkan badan, mengagungkan disebut dengan saajidun.meskipun pada kenyataannya mungkin ia tidak membungkuk atau merunduk atau bahkan meletakkan dahinya di atas tanah.

Adapun ketika kita membada Al-Qur’an kita dianjurkan memiliki sikap yang istimewa dibandingkan dengan lainnya. Allah berfirman:

“Mengapa mereka tidak mau beriman? Dan apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud”. (al-Insyiqaaq: 20-21).

Sujud dalam ayat itu merupakan metafora (kiasan) tentang ketundukkan dan kekhusyukan yang harus diberikan kepada Al-Qur’an. Sedangkan yang dimaksud dengan sujud pada ayat tadi adalah shalat. Dan disebutkannya sujud dalam ayat tadi dengan sebutan ‘iman’, hal itu menunjukkan ketinggian dan kedudukan shalat yang agung dalam Islam.

Kesimpulannya, nilai sujud itu berasal dari makna-makna yang mencakup makna yang telah disebutkan di atas yang meliputi ketundukan, kekhusyukan, pengagungan, ketaatan dan lainnya. Ketundukan, pengagungan, kekhusyukan dan merendahkan diri adalah indikasi yang menunjukkan penyembahan pelakunya kepada pihak yang dijadikan obyek ibadahnya.

Baca Juga : Ketahuilah Tujuh Wasiat Berharga Rasulullah SAW Kepada Abu Dzar

Dan sujud adalah gerakan besar yang menunjukkan makna-makna ibadah. Sebab, dalam sujud refleksi ketundukan terjadi secara sempurna.

Hal-hal negatif, misalnya kesombongan, akan hilang setelah kening dan hidung menempel ke tanah. Menempelnya kening dan hidung ke tanah, sebuah tempat yang selalu diinjak-injak oleh kaki, adalah kondisi kuat ketundukan dan kepasrahan pelakunya kepada Dzat yang ia sembah.

Sujud tidak boleh diberikan kecuali kepada Allah swt. Karena itu, semua bentuk ketundukan kepada selain Allah adalah batil dan tidak sah.

Kita lihat banyak sekali orang yang bersujud, namun hakikatnya sujud mereka hanyalah sujud sebagai simbol. Suasana ketundukkan, kepatuhan, penghormatan, dan ketaatan hanya tampak dalam sebuah gerakan dan terbatas di masjid atau tempat shalat saja.

Di luar tempat shalat itu barangkali ia akan berbuat maksiat, berdusta, menipu, khianat, zhalim, mengurangi timbangan, hasad, riya, sobong, takabbur dan perbuatan tercela lainnya yang dibenci oleh Allah swt. Sifat-sifat negatif tersebut adalah sifat yang sangat bertolak belakang dengan ruh sujud itu sendiri.

Jika kita melakukan hal demikian, maka seakan kita menipu Allah, padahal hakikatnya kita menipu diri kita sendiri. Dan sikap kita seperti ini disebut oleh Al-Qur’an sebagai orang munafik. Allah berfirman:

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri sendiri sedang mereka tidak sadar”. (al-Baqarah: 9)b

Dan inilah sikap orang munafik yang sengaja hanya menampakkan gerakan (simbol) yang hakikatnya jauh terpisah dari keyakinan mereka. Mereka melakukannya dengan penuh keterpaksaan, tanpa penghayatan, dan tanpa kesadaran hati yang penuh.

Sungguh sebuah kerugian yang sangat besar yang akan diderita oleh mereka yang hanya merefleksikan sujud pada tempat-tempat shalat, di atas sajadah, masjid-masjid atau rumah-rumah. Padahal hakikatnya Allah selalu hadir di mana pun kita berada dan dalam kondisi apapun.

Jika kita membatasi diri untuk tunduk, patuh, taat, dan mengagungkan Allah hanya pada tempat-tempat dan waktu-waktu tertentu, maka Allah pun akan membiarkan kita menjalani kehidupan ini dalam keadaan susah, gelisah, selalu merasa terancam, sempit dan jauh dari kebahagiaan yang sesungguhnya. Allah berfirman:

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (Thaahaa: 124)

Ibnu Abbas menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan penghidupan yang sempit adalah siksa dan adzab yang sangat pedih yang akan dirasakan oleh mereka yang berpaling dan enggan men-tauhid-kan Allah.

Baca Juga : Apakah Hadits Menggerakan Telunjuk Saat Duduk Tasyahud Itu Tidak Shahih ?

Kehidupan yang sempit ini akan dirasakan oleh setiap orang yang berpaling dari mengingat Allah di dunia sebelum di alam kubur dan dilanjutkan di akhirat. Sehingga mengingat Allah menjadi keharusan bagi kita, tanpa melihat batas apapun. Kita berkewajiban untuk menghadirkan Allah dalam jiwa kita. Allah berfirman:

“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah”. (Nuh: 13)

Atau mengapa kamu tidak mengingat Allah dengan kebesaran-Nya? Dia ada di mana-mana, kapan saja, dan situasi apa saja? Mengapa kamu bersikap demikian?

Baca Juga : Apakah arwah itu bisa saling bertemu dengan sesamanya maupun dengan manusia yang masih hidup?

Dan dalam ayat lain Allah berfirman, yang isinya mencela mereka yang tidak menghadirkan ketakutan kepada Allah:

“Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: ”Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita” Sesungguhnya mereka menganggap besar diri mereka dan mereka benar-benar sanatn melampaui batas (dalam melakukan) kezhaliman”. (al-Furqaan: 21)

Orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan-(Nya) yaitu mereka yang tidak takut kepada Allah. Sebab, takut kepada Allah merupakan kesempurnaan pengakuan terhadap kerajaan dan kekuasaan Allah serta takut akan kehendak Allah yang sangat luas tanpa batas.

Sudah menjadi kepastian bahwa melupakan penghambaan dan penyembahan, yang hal tersebut merupakan kewajiban seorang hamba, akan membawa dampak yang sangat fatal bagi kehidupannya.

Perasaan takut dari seorang hamba, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Halimi, bisa timbul karena beberapa sebab:

1. Perasaan yang timbul dari ketidakberdayaan seorang hamba dikrenakan ia tidak mampu berbuat apapun jika Allah berkehendak sesuatu kepadanya.

Ini hampir mirip dengan takutnya seorang anak kepada orang tuanya. Atau takutnya seorang rakyat kepada pimpinannya.

2. Takut yang timbul dari rasa cinta. Yang diharapkan di sini agar setiap hamba hendaknya menghadirkan ketakutan kepada Allah pada setiap waktu.

Ia khawatir jika Allah menyerahkan segala urusannya kepada dirinya sendiri dan menutup segala jalan atau sebab kemudahan baginya.

Inilah rasa takut yang biasanya dimiliki oleh seorang hamba yang telah berbuat baik kepada tuannya.

3. Rasa takut yang timbul dari ancaman. Rasa takut inilah yang disinggung dalam Al-Qur’an:

“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah”. (Nuh: 13)

Artinya, jika kita benar-benar merasa takut kepada Allah, jika kita benar-benar mencintai Allah dan jika kita benar-benar merasa tidak berdaya di hadapan ancaman dan teguran-Nya, niscaya kita akan takut.

Dan perasaan takut ini akan mendorong kita untuk tunduk dan patuh atas segala perintahnya.
loading...
Top