Kisah Mengharukan Santana - Anak Yatim yang Berjualan Kue Untuk Biayai Hidup dan Sekolahnya



Gadis kecil di Malang Jawa Timur ini dengan susah payah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Santana Saharani Utami, sudah 4 tahun, semenjak usianya masih 8 tahun ia sudah berjualan kue di parkiran belakang Mal Olympic Garden (MOG) Malang, Jatim, demi membiayai hidup dan sekolahnya.

Tiap pukul 18.00 Santana berangkat berjualan kue. Walau hanya diterangi lampu mercuri kecil yang dibawanya, ia tetap semangat berjualan setia menunggu daganganya.

Minggu (21/08/16) malam itu, dia mengenakan rok panjang dengan paduan warna putih-ungu dan merah seperti lapis yang dihias bunga. Untuk atasan, dia kenakan kaus lengan panjang warna merah dipadu dengan jilbab warna cokelat bermotif bunga dengan inner (pelapis dalam jilbab) warna hitam. Sehingga, penampilan gadis yang akrab disapa Santana tersebut terlihat cukup modis.

Di samping kanan bocah itu, ada senampan kue basah berupa lumpia, donat, lupis, cucur, dan putu ayu yang berdampingan dengan ikat rambut terbungkus plastik. Dengan ramah, bocah kelas VI SDN Banjarejo 3 Tumpang Kabupaten Malang itu menawarkan dagangannya kepada pengunjung mal yang lewat. ”Kue nya Mas, kue nya Mbak. Ikat rambutnya Mbak,” ucapnya dikutip dari Jawa Pos Radar Malang, Minggu malam (21/8) lalu.

Sedangkan di kanan-kiri Santana penjual jajanan, penjual bunga tak kalah bersemangat menawarkan barang. Begitu pula ada seorang pengemis yang tak pernah lelah menengadahkan tangan.

Malam itu, Santana tidak hanya menawarkan kue atau ikat rambut kepada pengunjung mal. Dia juga sesekali menulis di buku dengan penerangan lampu senter di tangan kirinya. Saat menulis, dia meletakkan bukunya di atas lutut, lalu tangan kanannya menulis dan tangan kirinya menyalakan senter yang sorotnya diarahkan ke lembaran buku.

Baca Juga : Ada Lagi, Kasus Penganiayaan Guru Oleh OrangTua Siswa

Saat ia tahu ada yang mendekat, Santana langsung menawarkan kuenya. Setelah ada yang membeli lima kue yang masing-masing seharga Rp 2.000, Santana mengucapkan terima kasih sembari tersenyum, karena sedikit lagi kuenya habis terjual. ”Terima kasih Mas. Alhamdulillah sudah mau habis,” ujar gadis kelahiran tahun 2004 tersebut dengan wajah girang.

Setelah itu, dia buru-buru menulis lagi. Ternyata malam itu dia sedang mengerjakan PR (pekerjaan rumah) Matematika dari sekolahnya, demikian dilansir radar malang.

Saat ditanya soal aktivitasnya berjualan, Santana tidak pelit cerita. Gadis itu mengatakan, dirinya telah berjualan kue basah di parkiran belakang MOG sejak tahun 2012 atau saat dia duduk di bangku kelas 2 SD.

Namun, pada waktu itu, dia berjualan bersama kakaknya, Yudha Richard Perdata. Setiap hari, dia pulang pergi (PP) Tumpang-Kota Malang dibonceng naik sepeda motor. ”Jadi sudah terbiasa Mas,” ungkapnya.

Santana mengaku hampir tidak pernah libur dalam berjualan. Dalam sebulan, mungkin hanya sehari dia tidak berjualan karena kecapekan. ”Saya pulang sekolah jam 14.00, istirahat, terus salat Magrib, lalu berangkat jualan pukul 18.00. Jam 22.00 saya pulang, biasanya tidur jam 23.00, paginya ya sekolah,” tutur Santana.

Dia menjelaskan, setelah kuenya habis, dirinya tidak bisa langsung pulang, karena harus menunggu kakaknya menjemput sekitar pukul 22.00. Sehingga meski kuenya sudah habis sejak pukul 21.00, dia tetap berada di tempatnya jualan. ”Alhamdulillah hingga saat ini kuenya selalu habis. Bahkan saya juga punya beberapa pelanggan tetap yang tiap ke MOG selalu beli kue saya,” katanya lalu menguap karena menahan kantuk.

Dikatakannya, setiap malam, dia bisa menjual kue basah sebanyak 30-35 biji. Masing-masing kue seharga Rp 2000. Selain itu, dia juga berjualan ikat rambut sebanyak 20 biji yang masing-masing seharga Rp 7.500. Namun, untuk ikat rambut jarang sekali terjual. Jika terjual, sehari paling hanya satu biji. Kue dan ikat rambut itu dikulakkan oleh kakaknya. ”Saya hanya jual. Nanti uang kulakan saya berikan kakak. Saya ambil untung Rp 500 rupiah per biji kue atau ikat rambut. Jadi untungnya sehari antara Rp 15.000 hingga Rp 17.500,” jelas Santana kepada koran ini.

Dari keuntungannya tersebut, Santana gunakan untuk membayar sekolah Rp 10 ribu per bulan. Selebihnya dia menggunakan uang hasil jualannya untuk jajan di sekolah dan sebagian dia tabung.

Disinggung tentang orang tuanya, Santana mengaku ibunya baru saja meninggal bulan April 2016 lalu, dan dia tidak ingin menjelaskan alasannya. Kemudian ayahnya saat ini sedang bekerja sebagai kuli bangunan di Surabaya dan pulang sebulan sekali. ”Sama bapak nggak papa jualan, ini kemauan saya sendiri. Uangnya bisa buat bantu keluarga,” ujarnya tanpa mau menyebut nama ayah dan ibunya.

Sesekali Santana melihat penjual bunga yang sedang menawarkan bunga di depannya. Bocah yang saat ini tinggal di Desa Banjarsari Tumpang ini mengaku suka sekali dengan bunga. Diakuinya, di depan rumahnya banyak pot bunga. ”Almarhumah ibu saya dulu suka sekali memelihara bunga,” jelas anak terakhir dari 8 bersaudara itu.

Setelah puas melihat penjual bunga, Santana kembali melanjutkan mengerjakan PR di buku. Santana kerap mengerjakan PR dan belajar saat berjualan. Karena memang sebagian besar waktunya di malam hari dia habiskan dengan berjualan kue. ”Kadang pulang sekolah ngerjain PR di rumah. Kalau nggak selesai, ya dikerjain di sini,” ungkap dia.

Apabila PR yang didapat mengharuskannya untuk bekerja kelompok dengan temannya, dia mengaku mengerjakannya saat siang hari. Bila tidak sedang mengerjakan PR, Santana biasa menulis cerita, puisi, hingga menggambar desain baju. ”Saya suka menggambar desain baju. Cita-cita saya jadi desainer kalau besar nanti,” paparnya.

Baca Juga : [Pelajaran Bagi Orang Tua] Karena Dibentak Orangtua, Anak Ini Tubuhnya Dingin, Kaku dan Linglung

Apakah teman-teman atau guru di sekolah mengerti apabila dia berjualan kue di malam hari? Dia menjawab tidak ada yang tahu. ”Teman-teman saya nggak ada yang tau Mas. Lha wong semuanya pada jarang ke MOG,” ujarnya.

Sementara itu, karena sikapnya yang terbuka, Santana mengaku sering diajak ngobrol oleh para pengunjung MOG. Dia tidak sungkan untuk menemani pengunjung yang hanya sekadar ingin mengobrol dengannya. Meski rajin berjualan kue, Santana mengaku aktif di sekolahnya. Dia baru saja mengikuti lomba PBB (peraturan baris-berbaris) untuk memperingati HUT Ke-71 RI se-Kabupaten Malang mewakili sekolahnya.

Ditanya soal sekolahnya, dia mengaku ingin melanjutkan ke SMPN 21 Kota Malang setelah lulus SD. ”Saya suka sama semua pelajaran Mas, nggak ada yang khusus,” paparnya.

Terharu mendengar cerita gadis cilik ini, anak kecil yang memiliki semangat besar. Keterbatasan ekonomi tak membuatnya menjadi pengemis. Tetapi tetap berusaha hidup mandiri dan tampil percaya diri. Semoga Allah selalu memberi kesehatan dan membukakan pintu rezeki kepadanya. Dan semoga cita-cita Santana dapat terwujud. Aamiin.
loading...
Top