Fredi, Siswa SMP Kota Malang Dikeroyok Hingga Babak Belur, Hanya Karena Hal Sepele ini


Fredi Septiawan yang jadi korban pengeroyokan di sekitar alun-alun malang

Fredi Septiawan dikeroyok segerombolan remaja hanya karena hal sepele. Siswa kelas 9 yang masih 15 tahun ini sekolah di SMP Muhammadiyah 2 Kota Malang. Hanya karena serempetan kaca spion, ia dikeroyok hingga babak belur. Fredi terluka di wajah, tangan, dan kaki. Wajahnya lebam dan bengkak. Hidungnya mengucurkan darah akibat keroyokan itu. Sedangkan tangan kanannya retak, dan kakinya lecet-lecet.

Fredi dikeroyok oleh lebih dari dua orang yang usianya lebih dewasa dari dirinya. Para pengeroyok diperkikan remaja lulusan SMA. Peristiwa yang ramai diperbincangkan di sebuah komunitas di Facebook itu, terjadi di depan SMAN 4 Malang atau area Alun-Alun Bundaran Tugu, sekitar pukul 04.00 WIB.

Baca Juga : Viral, Siswa SMA 3 Surakarta Membongkar Korupsi di Sekolahnya

Ibu Fredi, Siti Rohmah (41) bercerita. Sabtu (20/8/2016) malam, anaknya pamit hendak berkumpul dengan teman-temannya di sebuah komunitas sepeda motor di Jl Ijen. Sampai pukul 24.00 WIB, sang ibu menunggunya namun karena tidak juga pulang, sang ibu tertidur.

Sampai akhirnya, dia terbangun pukul 05.00 WIB dan melihat anak bungsunya itu belum juga pulang. Di tengah rasa khawatir, sekitar pukul 05.30 WIB, sebuah angkutan kota trayek ADL muncul di depan rumahnya. "Anak saya turun dari angkot itu, dan jaketnya penuh darah. Wajahnya bengkak dan hidungnya mengeluarkan darah," ujar Rohmah, Minggu (21/8/2016).

Sambil kesakitan, anaknya bercerita jika dirinya dikeroyok orang tidak dikenal. Fredi hanya melihat dua orang yang mengeroyoknya dari empat orang yang diduga berada dalam satu kelompok. Fredi dikeroyok karena bersenggolan kaca spion.

Fredi melaju dari arah Jl Kahuripan (arah barat) melaju ke arah Stasiun Malang, hendak pulang ke rumahnya di Jl LA Sucipto Gang Bakti Kelurahan/Kecamatan Blimbing. Dia melaju di sisi utara bundaran Tugu. Sementara itu, arus lalu lintas dari arah timur atau arah Stasiun Malang dilewatkan juga di jalur yang dilewati Fredi.

"Karena kan sisi depan Balai Kota ditutup, katanya ada acara. Jadi semua lewati sisi utara. Terus senggolan gitu lho, pak. Senggolan kaca spion. Tiba-tiba mereka berhenti, terus anak saya dikeroyok dan diinjak-injak," tutur Rohmah kepada Kepala Unit Reserse dan Kriminal Polsek Klojen, Iptu Tjatur, yang mendatangi rumahnya.

Fredi tidak mampu melawan. Dia berusaha menyelamatkan diri dengan berlari ke arah Stasiun Malang yang berjarak sekitar 250 meter. "Anak saya kemudian sembunyi di balik bunga-bunga di depan Stasiun," imbuhnya.

Fredi meninggalkan sepeda motornya yang bernomor polisi N 3515 EU di lokasi pengeroyokan. Ketika hari menjelang terang, Fredi keluar dari persembunyiannya dan mendatangi seorang supir angkot ADL yang mangkal di tempat itu. Fredi menceritakan kisahnya. Sopir yang mengaku bernama Teguh mengantarkan ia pulang sampai ke rumahnya.

Baca Juga : TELADANI Cerita Bupati Kukar ini, yang Copot Kepala Sekolah Ketahuan Merokok

Oleh keluarganya, Fredi langsung dilarikan ke rumah sakit. Pemeriksaan dokter menunjukkan ada keretakan di tangan kanan Fredi hingga harus dibebat. Siang harinya, orang tua Fredi melaporkan peristiwa itu ke Polsek Klojen. Sampai saat ini, sepeda motor milik keluarga itu yang dibawa Fredi juga raib.

Kanit Reskrim Polsek Klojen Iptu Tjatur mengatakan akan menyelidiki peristiwa tersebut. Pihaknya masih mengumpulkan keterangan dari korban, dan keluarganya.

Seharusnya jadi pelajaran juga bagi para orangtua, memang dalam kejadian ini, para remaja pengeroyok itu sangat tidak terpuji dengan tindakan brutalnya. Namun terlepas dari itu, anak yang masih SMP seharusnya belum mempunyai SIM untuk menjalankan motor di jalan raya.
Top