Begini Cara Minimarket Mencari Untung Tapi UANG HARAM Karena Mencurangi Pembeli



Memang tak semua minimarket berlaku curang untuk mendapatkan profit. Masih ingatkah anda tentang seorang yang mengaku anggota dan memprotes struknya karena tak sesuai dengan harga yang tertera, selengkapnya lihat videonya.


Kendati tak semua minimarket mau pun supermarket bertindak nakal, namun, beberapa di antaranya sengaja mengakali konsumen hingga mampu meraup keuntungan berlipat. Berikut modus operandi mereka dalam mengadali pelanggannya.
Seorang gadis muda bernama Sofia, mendadak uring- uringan saat berbelanja di salah satu minimarket. Ia yang mengambil 8 item barang kelontong, giliran akan membayar di kasir, ternyata ada 6 barang item yang harganya tidak sesuai dengan label harga yang dipajang di rak. Menghadapi komplain itu, sang kasir bersikap tenang.

“ Maaf mbak, harganya memang belum disesuaikan dengan komputer kami,” ujarnya tanpa merasa bersalah.

Karena didera rasa jengkel akut, akhirnya Sofia membatalkan pembayaran seluruh barang yang sudah diambilnya. Ia merasa dikadali, sebab, selama ini setiap belanja, usai mencomoti barang- barang kelontong, dirinya langsung membayar tanpa pernah mencocokkan harga yang ada di rak dengan print out(struk).
“Kalau saya total, selisih harganya mencapai Rp 20 an ribu untuk 6 item barang yang tak sesuai,” kata Sofia.

Baca Juga : [Heboh] Pengguna Taksi Online Dicurangi, Harusnya Bayar Rp 18ribu, Malah Tagihan Rp595 Ribu

Apa yang dialami Sofia, diduga banyak menimpa pada diri konsumen lainnya. Mayoritas, mereka tak pernah melakukan pengecekan silang antara harga yang dibayar dengan label harga di rak. Banyak faktor yang menyebabkan mereka abai, bisa karena terburu- buru, terlanjur percaya, memaklumi penjelasan kasir hingga bersikap masa bodoh dengan kerugian yang tidak seberapa.

Sepertinya modus tak memasang label harga pada barang yang dijajakan memang banyak terjadi. Beragam barang kelontong yang terletak di rak, label harga hanya berada di bawah tumpukan barang. Sedang harga yang sebenarnya ada di komputer kasir. Hal inilah yang sering membuat konsumen tersesat. Sebab, kendati terdapat harga yang sesuai, namun sering ditemukan harga yang berbeda.

Dalih yang dikemukakan kasir pun, selalu sama, yakni mohon maaf harga barang belum terinput di komputer. Sepertinya mereka sudah dilatih berdiplomasi, terbukti, tak ada perubahan pada sikap mau pun raut wajahnya. Seakan, semua sah adanya. Jadi, kalau mau bersikap sebagai konsumen yang cerdas, lebih baik dikonfirmasi dulu barang yang bakal dibeli.

Bagi minimarket yang mengedepankan kejujuran untuk menjaring pelanggan, bisa dipastikan seluruh barang dagangan yang dipajang selalu ditempeli label harga. Begitu pun harga yang tertera juga identik dengan data yang ada di komputer kasir. Sayangnya, entah kenapa banyak yang memilih tidak menempelkan harga di masing- masing barang.

Baca Juga : Jangan Kira Warga Asing Selalu Kaya, WN Malaysia Ini Pakai Kartu Kredit Palsu

Supermarket Lebih Parah

Terkait akal- akalan yang terjadi di minimarket, rupanya juga menjadi mode di supermarket. Celakanya, kalau tak teliti, kerugian yang diderita konsumen, nominalnya lebih besar. Modus operandi di salah satu pusat perbelanjaan di Salatiga, yakni memainkan jumlah item yang dibeli. Di mana, kendati setiap barang memiliki label, namun, giliran tiba di meja kasir, print out yang keluar bisa saja tidak sesuai.

Seorang ibu rumah tangga bernama Dian (30) yang tengah berbelanja di supermarket ternama, usai membayar barang yang dibeli masih sempat membaca deretan daftar barang. Dari 20 item barang senilai Rp 423.000, ternyata ada satu item yang angkanya membengkak. Ia mengambil 1 pak seharga Rp 15.500, oleh kasir dihitung 14 pak. Sehingga harga yang tertera 14 X Rp 15.500 : Rp 217.000 !


Struk pembayaran milik Dian

Karena melihat angka yang tak wajar tersebut, spontan Dian mengajukan protes. Lucunya, tanpa berbelit uangnya langsung dikembalikan. Sembari meminta maaf, sang kasir mengaku khilaf karena salah memencet tombol sehingga angka satu berubah menjadi 14.

“Untung saya menyempatkan meneliti, kalau tidak, ya tetap repot sendiri. Sebab, kalau komplain dilakukan sesudah barang keluar dari supermarket, pasti diabaikan,” gerutu Dian.

Menurutnya, selama ini ia jarang menghiraukan keberadaan print out pembayaran. Semisal di rumah terdapat satu atau dua item barang yang raib, dirinya tidak mempunyai prasangka buruk. “Mungkin saja saya yang teledor, namun dengan adanya kejadian terakhir ini, saya pasti akan lebih teliti,” ungkapnya.

Apa yang menimpa Sofia mau pun Dian, sebenarnya bisa terjadi pada diri siapa pun. Semisal dalam sehari terdapat 50 konsumen yang berhasil terpedaya, maka bisa dihitung sendiri uang haram yang diraup oleh pengelola. Meski tak semua minimarket mau pun supermarket berbuat nakal, sebaiknya kita harus berhati- hati. Jadilah konsumen yang cerdas, dengan membuang waktu barang semenit untuk meneliti struk pembayaran, alamat kita bakal terhindar dari laku culas.
Top