Banyak Pasangan Tak Siap, Makanya Perhatikan Hal ini Sebelum Menikah



Menikah, bukan cuma butuh kesiapan fisik, tapi mental emosional calon ibu dan ayah juga harus disiapkan. Apakah Anda berdua siap dengan segala perubahan baru yang menyertai suatu kehamilan dan kehadiran anak? Hal ini mengingat faktor emosi sangat berpengaruh terhadap kondisi kehamilan dan janin yang akan Anda kandung.

Kondisi emosi ibu hamil yang tidak stabil terbukti berdampak buruk bagi tumbuh kembang janin. Tahukah, kalau ibu stres, maka janin pun ikut stres. Sumber stres bisa berasal dari dalam diri sendiri, atau dari lingkungan keluarga, ataupun orang terdekat.

Jadi sejak dini cobalah atasi pekerjaan atau persoalan yang membuat stres. Lebih baik lagi bila Anda tidak memendam sendiri sumber stres tersebut, tapi membicarakannya bersama pasangan. Pada dasarnya, relasi suami-istri berbeda dengan relasi ibu dengan anak laki-lakinya atau ayah dengan anak perempuannya.

Banyak pria yang menganggap istri sebagai pengganti ibu yang akan melayani dan mencukupi semua kebutuhannya tanpa pamrih. Sementara itu, banyak wanita mengharap suami seperti ayah yang selalu siap memberi perlindungan dan rasa aman.

Baca Juga : Menjawab Atas Netizen yang Kontra Terhadap Pernikahannya, Begini Kata Alvin Faiz

Relasi suami-istri harus berjalan seimbang. Keduanya harus saling memberi dan menerima. Setiap saat, suami maupun istri membutuhkan dukungan kuat untuk mengembangkan pribadi dan menjalankan perannya dengan baik. Selain masa pra konsepsi, sikap saling mendukung ini juga dibutuhkan selama masa kehamilan.

Bila ada dukungan suami yang positif, istri akan menjalani kehamilannya dengan tenang dan bahagia. Kesiapan psikis lain yang harus dicermati pada masa prakonsepsi adalah masalah finansial dan kematangan mental-emosional. Tak dapat diragukan lagi kehadiran seorang anak akan mengubah kondisi finansial pasangan suami istri. Anak akan membutuhkan biaya untuk merawatannya demikian pula dengan biaya kesehatannya.

Itulah sebabnya sebelum konsepsi, Anda berdua harus melakukan peninjauan kembali keadaan keuangan secara bersama-sama. Bagi pasangan yang memperoleh penghasilan ganda atau suami-istri bekerja, masing-masing berhak mempertanyakan kepada perusahaan, hak-hak apa yang mereka peroleh selama masa kehamilan, saat melahirkan, dan masa-masa perawatan anak yang rutin, seperti imunisasi.

Selanjutnya, cobalah untuk menghitung rinci biaya pemeriksaan rutin selama hamil dan biaya melahirkan. Pastikan siapa yang akan menanggung semuanya. Dari pihak suami atau istrikah? Pelajari juga peraturan perusahaan tentang hak cuti melahirkan, serta pendapatan yang akan dibayarkan kepada ibu selama menjalani cuti melahirkan.

Pikirkan pula kebutuhan bayi jika ia sudah dilahirkan kelak seperti tempat tidur bayi, kereta bayi, ember bayi, pakaian bayi, dan lain sebagainya. Ini sekurang-kurangnya akan memberi gambaran rencana keuangan keluarga Anda. Bila ternyata Anda berdua secara finansial sudah siap, itu berarti Anda berdua telah selangkah lebih maju. Kesiapan psikis lainnya yaitu mental-emosional. Setelah fokus pada pekerjaan dan menikah, manusia dewasa berada pada tahap perkembangan untuk melahirkan generasi penerus dan membimbing generasi tersebut.

Baca Juga : Nikah Dini, Keren dan Mantap?

Pada tahap ini komitmen tidak lagi hanya demi terjaganya hubungan suami-istri, melainkan juga komitmen untuk mengorbankan waktu dan memberi perhatian pada bayi yang baru lahir. Dalam membangun keluarga, saat anak sedang dipersiapkan kehadirannya, kematangan emosi punya peran penting. Karena, manusia merupakan kesatuan jiwa dan raga yang akan menjadi rumah sementara bagi tumbuh kembang janin. Dan selanjutnya kesatuan jiwa-badan manusia ibarat taman bagi anak-anak untuk bertumbuh dan berkembang. Lalu, kematangan emosional seperti apa yang diperlukan untuk merawat sang bayi? Para orang tua diharapkan belajar bersikap toleran terhadap tuntutan bayi, toleran terhadap stres, frustasi dan perasaan tidak berdaya, serta belajar bertanggung jawab.

Hal ini sangat diperlukan, karena kehadiran anak akan mengurangi keintiman. Acara-acara spontan berduaan tidak dapat lagi dilakukan, mengingat si kecil punya caranya sendiri yang tidak dapat diganggu gugat. Matang secara emosi berarti juga suami istri harus rela bila masing-masing bukan lagi menjadi pusat perhatian, karena pusat perhatian akan beralih kepada sosok bayi yang ada pada mereka. Sebelum konsepsi, berikanlah ruang bagi calon bayi Anda dalam pikiran Anda.
Bayangkanlah kehadirannya, termasuk wajah, watak, dan namanya. Angankan pula seperti apa Anda nantinya setelah menjadi orang tua. Proses mental ini berguna untuk mempersiapkan psikologi Anda sebagai calon orang tua. Sehingga pada saat kehamilan tiba, Anda siap menerima bayi Anda, dan mengenalnya sejak masih dalam kandungan. Nah, jika kamu berdua sudah memahami masalah penting ini maka silahkan menikah. Jika belum, anda perlu banyak berdiskusi dengan orang tua atau guru anda yang dapat dipercaya.
Top