Apakah Menyentuh Kucing dengan Tangan yang Basah Termasuk Najis? Ini Penjelasannya



Pertanyaan:

Assalamu’alaikum

Apakah air liur kucing najis? Apakah jika kita menyentuh tubuh kucing yang basah termasuk najis? Bagaimana membersihkannya? Bagaimana hukumnya jika berwudhu dengan air bekas minum kucing?

Terima kasih

Dari: Fulan

Jawaban:

Wa’alaikumussalam

Dilansir dari konsultasisyariah.com dari Kabsyah bintu Ka’ab bin Malik, bahwa beliau menjadi istri salah satu anak Abu Qatadah. Suatu ketika sahabat Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu datang menjenguknya, diapun menyiapkan air wudhu untuk bapak mertuanya. Tiba-tiba datang seekor kucing ingin minta minum air itu. Abu Qatadah-pun membiarkan kucing itu untuk minum. Kabsyah melihat kejadian ini keheranan. Kemudian Abu Qatadah menjelaskan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda tentang kucing:

إنها ليست بنجس، إنها من الطوافين عليكم والطوافات

“Kucing itu tidak najis. Kucing adalah binatang yang sering berkeliaran di tengah-tengah kalian.” (HR. Ahmad, Nasai, Abu Daud, Turmudzi, dan dishahihkan al-Albani).

Dalam riwayat lain dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan:

وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ بِفَضْلِهَا

“Saya melihat Rasulullah berwudhu dengan air sisa minum kucing.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan al-Albani).

Baca Juga : Ketahuilah 13 Perkara yang Akan Membuka Pintu Rizkimu

Ibrahim an-Nakhai mengatakan, seperti yang dinukil az-Zamakhsari:

إنما الهرة كبعض أهل البيت

“Kucing itu seperti bagian dari keluarga.”

Artinya, sama sekali tidak najis badannya dan liurnya.

Dalam asy-Syarh al-Kabir untuk kitab al-Muqni’ dinyatakan:

سؤر الهرة وما دونها في الخلقة، كابن عرس، والفأرة، ونحو ذلك من حشرات الأرض طاهر، لا نعلم فيه خلافًا في المذهب: أنه يجوز شربه، والوضوء به، ولا يكره . هذا قول أكثر أهل العلم، من الصحابة، والتابعين, ومن بعدهم، إلا أبا حنيفة، فإنه كره الوضوء بسؤر الهر، فإن فعل أجزأه

“Liur kucing atau binatang yang lebih kecil darinya, seperti musang, tikus, atau binatang melata lainnya, statusnya suci. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam madzhab hambali, bahwa boleh minum air sisa minuman kucing, boleh juga berwudhu dengannya, dan tidak makruh. Inilah pendapat mayoritas ulama di kalangan sahabat, tabiin, dan ulama setelah mereka, kecuali Abu Hanifah. Beliau menilai makruh berwudhu dengan air sisa minuman kucing. Meskipun jika berwudhu dengan air itu, wudhunya tetap sah.” (Asy-Syarh al-Kabir, 1:312).

Dari keterangan di atas, dengan tegas kita dapat menyimpulkan bahwa liur kucing tidak najis.

Allahu a’lam
loading...
Top