Abu Dzar Al Ghifari yang Paling Zuhud. Tak Ada yang Bisa Menyamainya



Abu Dzar Al Ghifari adalah sahabat Rasulullah SAW yang paling zuhud. Tak ada yang bisa menyamainya dalam hal kesederhaannya menempuh kehidupan. Ia adalah orang yang dicintai Rasulullah SAW, seorang penggerak kehidupan sederhana dan bersahaja, selalu menganjurkan untuk tidak mencintai dunia dan harta benda.

Masuk Islam Sendirian Sampai Mengajak Kaumnya


Setelah menempuh perjalanan jauh melewati padang pasir, akhirnya tibalah juga Abu Dzar Al Ghifari di Mekah. Ia berpura-pura menjadi musafir yang ingin thawaf di sekeliling Kabah mengelilingi berkala-berkala besar agar maksud kedatangannya tidak diketahui. Abu Dzar memasang telinga lebar-lebar seandainya ada kabar berita dimana ia bisa menjumpai orang yang paling ingin ditemuinya, Muhammad SAW.

Sampai suatu hari, Abu Dzar bisa mendapati Rasulullah SAW yang kala itu sedang duduk sendiri. Ia menyapanya, “Selamat pagi wahai kawan sebangsa!”

“Alaikas salam, wahai sahabat,” jawab beliau SAW.

Kata Abu Dzar, “Bacakanlah kepadaku gubahan anda.”

Rasulullah SAW menjawab, “Ia bukan syair hingga dapat digubah, tetapi adalah Quran yang mulia.”

“Bacakanlah untukku kalau demikian,” kata Abu Dzar.

Maka dibacakannya oleh Rasulullah SAW sedang Abu Dzar mendengarkan dengan penuh perhatian hingga tidak berselang lama ia pun berseru, “Asyahadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh.” Demikianlah Abu Dzar mengucapkan syahadat.

“Anda dari mana, saudara sebangsa?” Tanya Rasulullah SAW. “Dari Ghifar,” jawab Abu Dzar.

Maka terbukalah senyum lebar di kedua bibir Rasulullah SAW sementara wajahnya diliputi rasa kagum dan takjub. Abu Dzar tersenyum pula, karena ia mengetahui rasa terpendam di balik rasa kagum Rasulullah SAW demi mendengar bahwa orang yang telah mengaku Islam di hadapannya secara terus terang itu seorang laki-laki dari Ghifar.

Ghifar adalah suatu kabilah atau suku yang tak ada taranya dalam soal menempuh jarak. Mereka adalah kabilah yang suka melakukan perjalanan. Maka tatkala ada seorang dari suku Ghifar datang menemui Nabi SAW, beliau berkata,”Sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada siapa yang disukaiNya.”

Abu Dzar adalah satu dari mereka yang memeluk Islam, urutan kelima atau keenam. Kala itu dakwah Islam masih disampaikan secara sembunyi. Meskipun telah menyatakan keislamannya kepada Rasulullah SAW, Abu Dzar masih menyembunyikannya lalu setelah itu meninggalkan kota Mekah untuk kembali kepada kaumnya.

Namun, Abu Dzar bukanlah orang yang bisa tenang-tenang saja melihat kesyirikan. Batu-batu dibelah dan dibuat patung. Ia merasa jengah sampai akhirnya ia bertanya kepada Rasulullah SAW,” Wahai Rasulullah, apa yang harus saya kerjakan menurut anda?”
“Kembalilah kepada kaummu sampai ada perintahku nanti!” demikian dikatakan Rasulullah SAW.

Abu Dzar berkata, “Demi Tuhan yang menguasai nyawaku, saya takkan pulang kembali sebelum meneriakkan Islam dalam masjid.”

Benarlah, pergilah Abu Dzar ke Masjidil Haram. Disana, ia meneriakkan syahadat di hadapan orang Quraisy Mekah atau para perantau asing yang sedang thawaf dengan suara lantang. “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah.” Mereka yang mendengar Abu Dzar berteriak langsung memukulinya.

Kejadian pemukulan ini terdengar di telinga paman Nabi SAW, Abbas. Ia berupaya mencegah orang memukulinya. Menggunakan cara halus Abbas berkata, “Wahai kaum Quraisy, Anda semua adalah bangsa pedagang yang mau tak mau akan lewat di kampung Bani Ghifar. Dan orang ini salah seorang warganya, bila ia bertindak akan dapat menghasut kaumnya untuk merampok kafilah-kafilahmu nanti!” Mereka akhirnya meninggalkan Abu Dzar.

Pada hari berikutnya, Abu Dzar melihat dua orang wanita sedang thawaf berkeliling berkala-berkala Usaf dan Nailah sambil memohon padanya. Ia menghadang wanita itu dan menghina para berkala. Kedua wanita itu memekik dan orang-orang berdatangan. Lagi-lagi Abu Dzar dipukuli. Saat Abu Dzar siuman, ia belum kapok dan berseru, ”Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah!”

Demikianlah watak dan tabiat Abu Dzar. Baginya kebenaran itu dinyatakan secara terbuka dan terus terang. Namun, lantaran waktunya belum pas, Rasulullah SAW akhirnya menyuruh Abu Dzar untuk pulang dahulu kepada keluarganya. Abu Dzar mendapatkan kembali keluarganya dan menceritakan pertemuannya dengan Nabi SAW. Seorang demi seorang kaumnya masuk Islam. Abu Dzar juga mendakwahi suku Aslam.

Hari-hari berlalu sampai saatnya Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Rasulullah SAW telah menetap di Madinah bersama kaum Muhajirin dan Anshar. Sampai suatu hari datanglah sebuah rombongan kafilah memasuki Madinah. Ternyata itu adalah rombongan Abu Dzar bersama kaumnya yang telah memeluk Islam. Melihat rombongan yang berbondong-bondong itu, naka sekali lagi Rasulullah SAW bersabda, ”Sungguh Allah memberi hidayah kepada siapa yang dikehendakiNya.” Tidak hanya suku Ghifar yang masuk Islam, suku Aslan pun mengikuti. Padahal suku ini dulunya adalah para perampok.

Sambil memandang rombongan suku Ghifar Rasulullah SAW berkata, ”Suku Ghifar telah di ghafar (diampuni) oleh Allah. Lalu beliau melihat suku Aslam dan berujar, ”Suku Aslam telah disalam (diterima dengan damai) oleh Allah.”

Mengenai Abu Dzar, Rasulullah SAW bersabda, ”Takkan pernah lagi dijumpai di bawah langit ini orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar.”


Upeti

Pada suatu hari Rasulullah SAW mengemukakan kepadanya pertanyaan berikut, ”Wahai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu bila menjumpai para pembesar yang mengambil barang upeti untuk diri mereka pribadi?”

Jawab Abu Dzar, ”Demi yang telah mengutus anda dengan kebenaran, akan saya tebas mereka dengan pedangku!”
Sabda Rasulullah SAW, ”Maukah kamu aku beri jalan yang lebih baik dari itu? Ialah bersabar sampai kamu menemuiku.”

Waktu berlalu, Rasulullah SAW pergi mendahului, diikuti sahabatnya, Abu Bakar Asshidiq. Abu Dzar masih diliputi ketenangan ketika kekhalifan dipimpin oleh Umar bin Khattab, al Faruqul adhim, demikianlah gelar yang diberikan Rasulullah SAW kepada Umar sebagai pemisah antara yang haq dan yang bathil.

Akan tetapi, setelah kekhalifan Umar berlalu, jiwanya mulai terusik. Mulailah ia melihat apa yang diwasiatkan Rasulullah SAW, mengenai orang-orang yang senang mengumpulkan harta. Kekayaan mulai melimpah, harta rampasan, jabatan dan daerah kekuasaan. Rasanya ia akan segera keluar dan menghunus pedangnya kepada orang-orang yang mulai tidak menjalani syariat Islam. Namun, teringatlah ia akan pesan Rasulullah SAW, bersabar sampai ia menemui beliau.

Maka, disarungkannya kembali pedang itu. Ia teringat Firman Allah SWT:


”Dan tidaklah ada haq bagi seorang mu’min untuk membunuh mu’min lainnya kecuali karena keliru (tidak sengaja)” QS Annisa 92

Baginya, membangun masyarakat beragama bukanlah membangun kerajaan. Menjadi rahmat karunia bukan azab kesengsaraan, mengajarkan kerendahan hati bukan kesombongan, persamaan bukan pengkastaan, kesahajaan bukan keserakahan, kesederhanaan bukan  keborosan, kedamaian dan kebijaksanaan dalam menghadapi kehidupan. Maka dihadapinyalah keadaan itu bukan dengan pedangnya, namun melalui lisannya.

Semboyan hidup Abu Dzar yang ia ungkapkan:


Beritakanlah kepada para penumpuk harta yang menumpuk emas dan perak.
Mereka akan disetrika dengan setrika api, neraka akan menyetrika kening dan pinggang mereka di hari kiamat.

Setiap kali ia pergi kemanapun dan bertemu dengan pembesar yang serakah, kepada mereka, diulangilah semboyan hidupnya itu. Abu Dzar terutama melancarkan usaha lisannya di gudang kekayaan yaitu Syria. Disana ada Muawiyah bin Abi Sufyan yang memerintah di wilayah paling subur. Muawiyah adalah seorang pemimpin dermawan yang membagi-bagikan harta tanpa perhitungan untuk mengambil hati orang-orang terpandang di sana. Maka pergilah Abu Dzar ke Syria.

Berita mengenai kehadiran Abu Dzar yang memimpin gerakan hidup sederhana ini tentulah disambut gembira rakyat jelata di sana. ”Bicaralah wahai Abu Dzar, bicaralah wahai sahabat Rasulullah!” demikian pinta mereka.

Ia memandang kepada masyarakat jelata yang banyak berada di antara bangunan mewah.”Saya heran melihat orang yang tidak punya makanan di rumahnya, kenapa ia tidak mendatangi orang-orang itu dengan menghunus pedangnya?” Tapi, cepat-cepat diingatnya pesan Rasulullah SAW.

Maka, dinasehatilah rakyat jelata itu. Ia menjelaskan bahwa mereka sama tak ubah seperti sisir yang setiap bagiannya berserikat dalam rezeki. Tak ada kelebihan seseorang dari lainnya kecuali dengan taqwa. Seorang pemimpin serta pembesar dari suatu golongan haruslah yang pertama kali menderita kelaparan sebelum anak buahnya, sebaliknya yang paling belakang menikmati kekenyangan setelah mereka.

Bukan melalui peperangan. Abu Dzar membentuk dalam sebuah komunitas masyarakat sebuah usaha untuk membuat pendapat umum dan menyampaikannya kepada para pemimpin atau pembesar.
Bertemu Muawiyah
Pada suatu kali, ia bertemu dengan Muawiyah dan para pembesar serta mengatakan, ”Apakah tuan-tuan yang sewaktu Al Quran diturunkan kepada Rasulullah SAW, apakah beliau ada di lingkungan tuan-tuan? Benar, Al Quran itu diturunkan kepada tuan-tuan, dan tuan-tuanlah yang mengalami sendiri berbagai peperangan.”

Abu Dzar melanjutkan, ”Tidakkah tuan-tuan jumpai dalam Al Quran sebuah ayat?” Lalu ia membacakan surat At Taubah 34-36.

”Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkan di jalan Allah, bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih. Yaitu, ketika emas dan perak dipanaskan dalam api neraka, lalu disetrikakan ke kening, ke pinggang dan ke punggung mereka, sambil dikatakan, nah inilah yang kalian simpan untuk diri kalian itu, maka rasailah akibatnya.”

Saat itu Muiwiyah berkata, ”Ayat ini diturunkan kepada ahlul kitab.”
Abu Dzar berteriak, ”Tidak!” Serunya, ”Bahkan ia diturunkan kepada kita dan kepada mereka.”

Abu Dzar memintanya untuk melepaskan gedung, tanah serta harta kekayaan itu dan tidak menyimpannya untuk diri masing-masing kecuali sekedar keperluan sehari-hari.

Berita mengenai pembicaraan Abu Dzar bersama Muawiyah ini menyebar dari mulut ke mulut. Semboyan Abu Dzar untuk menasehati orang-orang mulai tersebar, yaitu, ”Sampaikan kepada para penumpuk harta akan setrika api di neraka!”

Kala itu Muawiyah dilanda kekhawatiran. Ucapan Abu Dzar dikhwatirkan akan mempengaruhi orang-orang untuk memberontak. Maka ditulisnyalah surat kepada khalifah Ustman ra, ”Abu Dzar telah merusak orang-orang Syria.”

Ustman ra akhirnya meminta kembali Abu Dzar balik ke Madinah. Khalayak ramai melepas kepergiaannya kembali ke Madinah. Suatu pemandangan yang belum pernah disaksikannnya.


Tidak Berniat Memerangi Khalifah


Kembali ke Madinah, Ustman meminta Abu Dzar untuk tetap tinggal di sana. Ustman ra juga merupakan khalifah yang bijaksana yang dengan pemikirannya ia berusaha memimpin umat Islam kala itu dengan seadil-adilnya.

”Tinggallah di sini disampingku. Disediakan bagimu unta yang gemuk yang akan mengantarkan susu pagi dan sore,” kata Ustman ra. Jawaban Abu Dzar adalah, ”Aku tak perlu akan dunia tuan-tuan.”

Orang banyak menganggap pandangan Abu Dzar akan kesederhanaan bertentangan dengan kepemimpinan para khalifah. Maka terkejutnya ia kala sebagian orang menyebar fitnah. Saat itu datanglah seorang perutusan dari Kufah memintanya untuk mengibarkan bendera pemberontakan terhadap khalifah.

”Demi Allah, seandainya Ustman hendak menyalibku di tiang kayu yang tertinggi atau di atas bukit sekalipun, tentulah saya dengar titahnya dan saya taati, saya bersabar dan sadarkan diri, dan saya meraka bahwa demikian adalah yang sebaik-baiknya bagiku.

Dan seandainya ia menyuruhku berkelana dari ujung dunia, tentulah akan sayadengar dan taati, saya bersabar dan sadarkan diri dan saya merasa bahwa demikian adalah yang sebaik-baik bagiku.

Begitupun jika ia menyuruhku pulang ke rumahku, tentulah saya akan dengar dan taati, saya bersabar dan sadarkan diri dan saya merasa bahwa demikian adalah sebaik-baiknya bagiku.”

Satu nasehat Rasulullah SAW yang pernah didengar Abu Dzar:

”...ia merupakan amanat dan dihari kiamat menyebabkan kehinaan dan penyesalan... kecuali orang yang mengambilnya secara benar, dan menunaikan kewajiban yang dipikulkan kepadanya.”


Mengajarkan Kesederhanaan


Pada suatu hari, Abu Dzar ditemui oleh Abu Musa al Asy’ari. ”Selamat wahai Abu Dzar, selamat wahai saudaraku.” Tetapi Abu Dzar menolak, katanya, ”Aku bukan saudaramu lagi. Kita bersaudara dulu sebelum kamu menjadi pejabat dan gubernur.” Bahkan kepada Abu Hurairah ra yang pekerjaan sehari-hari menjaga masjid ia enggan menemuinya karena dianggapnya sebagai pejabat yang mencari kemewahan. Tentu saja hal tersebut disanggah oleh Abu Hurairah ra.

Bukanlah Abu Dzar jika ia tidak menolak segala tawaran jabatan dan kemewahan. Ia pernah ditawari jabatan amir di Irak. ”Demi Allah, tuan-tuan takkan dapat memancingku dengan dunia tuan-tuan itu untuk selama-lamanya.”

Suatu kali orang berkata kepadanya perihal bajunya yang usang, ”Bukankah anda punya baju yang lain? Beberapa hari yang lewat saya lihat anda punya dua helai baju baru.”

Jawab Abu Dzar, ”Wahai putra saudaraku, kedua baju itu telah kuberikan kepada orang yang lebih membutuhkannya daripadaku.”
Kata kawan itu, ”Demi Allah, anda jua membutuhkannya.” Kata Abu Dzar, ”Ampunilah ya Allah. Kamu terlalu membesarkan dunia. Tidakkah kamu lihat burdah yang saya pakai ini? Dan saya punya satu lagi untuk sholat jumat. Saya punya seekor kambing diperah susunya, dan seekor keledai untuk ditunggangi. Nikmat apa lagi yang lebih besar dari yang kita miliki ini?”

Pada suatu hari Abu Dzar menyampaikan sebuah hadist wasiat Rasulullah SAW:

”Aku diberi wasiat oleh junjunganku dengan tujuh perkara. Disuruhnya aku agar menyantuni orang-orang miskin dan mendekatkan diri kepada mereka. Disuruhnya aku melihat kepada orang yang dibawahku dan bukan kepada orang yang diatasku. Disuruhnya aku agar tidak meminta sesuatu kepada orang lain, disuruhnya aku agar menghubungkan tali silaturahim, disuruhnya aku mengatakan yang haq  walaupun pahit. Disuruhnya aku agar dalam menjalankan agama Allah tidak takut dengan celaan orang. Dan disuruhnya agar memperbanyak menyebut, la haula walaa quata illaa billah.”

Imam Ali bin Abi Thalib berkata mengenai Abu Dzar, ”Tak seorang pun tinggal sekarang ini yang tidak mempedulikan celaan orang dalam menegakkan agama Allah, kecuali Abu Dzar.”

Abu Dzar pernah dilarang memberikan fatwa. Kata Abu Dzar:
”Demi Tuhan yang nyawaku berada di tanganNya! Seandainya tuan-tuan menaruh pedang di atas pundakku, sedang menurut rasa hatiku masih ada kesempatan untuk menyampaikan ucapan Rasulullah SAW yang kudengar dari padanya, pastilah akan kusampaikan juga sebelum tuan-tuan menebas batang leherku.”

Meninggal di Rabadzah


Seorang perempuan kurus yang berkulit kemerah-merahan dan duduk dekat Abu Dzar menangis. Ia adalah istrinya yang menatapi sang suami menghadapi sakaratul maut. Abu Dzar bertanya padanya, ”Apa yang kamu tangiskan padahal maut itu pasti datang?” Jawab istrinya, ”Karena anda akan meninggal, padahal pada kita tak ada kain kafan untukmu.”

Abu Dzar tersenyum, ia berkata, ”Janganlah menangis. Pada suatu hari, ketika saya berada di sisi Rasulullah SAW bersama beberapa orang sahabatnya, saya dengar beliau bersabda, ”Pastilah ada salah seorang di antara kalian yang akan meninggal di padang pasir liar, yang akan disaksikan nanti oleh serombongan orang-orang beriman.” Semua yang ada di majelis itu telah meninggal di kampung dan di hadapan jamaah kaum muslimin, tak ada lagi yang masih hidup di antara mereka kecuali daku. Nah, inilah daku sekarang, menghadapi maut di padang pasir, maka perhatikanlah olehmu jalan...siapa tahu kalau-kalau ada rombongan orang beriman itu sudah datang. Demi Allah, saya tidak bohong, dan tidak pula dibohongi.”

Benarlah, rombongan yang dipimpin oleh Abdullah bin Masud datang. Namun, didapatinya Abu Dzar telah berpulang ke Rahmatullah. Ia mendapati jenazahnya ada bersama istri dan seorang anak. Melihat bahwa Abu Dzar telah tiada, Ibnu Masud langsung menangis.

Benarlah ucapan Rasulullah...
Anda berjalan sebatang kara...
Mati sebatang kara...
Dan dibangkitkan nanti sebatang kara...

Ibnu Masud terduduk. Teringat olehnya pada masa perang Tabuk pada sembilan hijriah. Rasulullah SAW menitahkan untuk maju menapak dan menghadang pasukan Romawi. Kala itu musim paceklik udara begitu panas. Banyak yang merasa enggan menghadapi musuh yang begitu kuat.

Berjalanlah Rasulullah SAW bersama beberapa orang muslimin. Saat perjalanan beberapa tertinggal. Dilaporkan kepada beliau mengenai orang yang tertinggal itu. ”Biarkanlah andainya ia berguna tentu akan disusulkan oleh Allah pada kalian. Dan andainya tidak, maka Allah telah membebaskan kalian daripadanya.”

Demikianlah Abu Dzar. Keledainya mulai kelelahan dan  berjalan gontai. Maka Abu Dzar turun dari keledainya dengan mengangkut perbekalannya untuk menyusul Rasulullah SAW berjalan kaki. Pasir kala itu terasa begitu panas.

Esok paginya, kala pasukan muslimin beristirahat dan menurunkan barang bawaannya, terlihatlah dari jauh seorang yang berjalan kaki. ”Wahai Rasulullah, itu ada seorang laki-laki berjalan seorang diri.” Ujar Rasulullah SAW, ”Mudah-mudahan orang itu Abu Dzar.” Ya, Abu dzar berhasil menyusul mereka berjalan kaki.

”Wahai Rasulullah, demi Allah itu Abu Dzar,” kata seorang rombongan. Rasulullah SAW tersenyum, ”Semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepada Abu Dzar. Ia berjalan sebatang kara, meninggal sebatang kara, dan dibangkitkan nanti sebatang kara.”

Demikianlah Ibnu Masud mengingat perkataan Rasulullah SAW mengenai Abu Dzar. Ia datang kepada Rasulullah SAW untuk masuk Islam sebatang kara. Meninggal sebatang kara, dan kelak akan dibangkitkan di akhirat sebatang kara karena hanya dia satu-satunya sahabat Rasulullah SAW yang paling zuhud kehidupannya. Tak ada orang lain yang bisa menyamainya.

Rahmat, kekayaan dan kasih sayang Allah SWT semoga dicurahkan kepadamu Abu Dzar Al Ghifari.
loading...
Top