Kita Harus Bagaimana, Jika Anak Menangis ketika Shalat Jamaah? Berikut Dijelaskan!

Penulis Dzikir Pikir | Ditayangkan 30 Jun 2016

Kita Harus Bagaimana, Jika Anak Menangis ketika Shalat Jamaah? Berikut Dijelaskan!
Mengajak anak kita ke shalat berjamaah adalah hal yang diajarkan baginda Rasulullah
Setiap orang pasti ingin memberikan pendidikan yang baik untuk anaknya baik untuk bekal didunia maupun untuk kehidupan yang lebih kekal kelak. Dalam pendidikan agama ini salah satunya yang menjadi kewajiban seorang muslim adalah shalat. Tentu saja orangtua harus mengajarkan pentingnya, wajibnya, waktunya, serta syarat dan rukun shalat.

Mengajarkan anak untuk melakukan shalat berjamaah di masjid juga menjadi sunnah, yang sudah dicontohkan baginda Rasulullah SAW. Namun bagaimana bila saat kita mengajak anak untuk shalat jamaah, tapi anak menangis?

Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, yang dikutip dari konsultasisyariah, menjelaskan sebagai berikut.

Pertama

Dibolehkan membatalkan shalat jika ada kebutuhan mendesak
Dalam Hasyiyah Ibnu Abidin – kitab madzhab Hanafi – dinyatakan,

مطلب قطع الصلاة يكون حراما ومباحا ومستحبا وواجبا. نقل عن خط صاحب البحر على هامشه أن القطع يكون حراما ومباحا ومستحبا وواجبا، فالحرام لغير عذر والمباح إذا خاف فوت مال، والمستحب القطع للإكمال، والواجب لإحياء نفس.

Pembahasan tentang membatalkan shalat. Bisa hukumnya haram, mubah, mustahab (dianjurkan), dan wajib. Dinukil dari karya penulis kitab al-Bahr di catatan kaki, bahwa membatalkan shalat hukumnya haram, mubah, mustahab, dan wajib. Haram jika tanpa udzur, mubah jika untuk menyelamatkan harta, dianjurkan jika hendak menyempurnakan shalat, dan wajib untuk menyelamatkan jiwa. (Hasyiyah Ibnu Abidin, 2/52).

Kedua

Dibolehkan melakukan gerakan yang tidak berlebihan ketika shalat, ketika ada kebutuhan. Seperti menggendong anak.
Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu,  beliau menceritakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُصَلِّى وَهْوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَلأَبِى الْعَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا ، وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat menjadi imam sambil menggendong Umamah bintu Zainab bintu Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umamah adalah putri Abil Ash bin Rabi’ah. Ketika beliau sujud, beliau letakkan Umamah. Ketika beliau berdiri, beliau gendong Umamah.” (HR. Bukhari 516 & Muslim 1240)

Ketiga

Setiap orang tua bisa belajar mengenali tangisan anaknya. Ketika anak menangis dalam shalat, ada 2 kemungkinan penyebab,

1. Tangisan karena dia mengalami kondisi yang membahayakan dirinya, sehingga segera butuh pertolongan.  Seperti terjatuh, atau tangisan karena diganggu binatang.
2. Tangisan karena kecewa atau merasa bosan.

Baca Juga : Baginda Rasulullah SAW Lakukan 6 Hal Ini Sebelum Tidur.

Dalam Fatwa Islam dinyatakan bahwa
Jika anak menangis ketika shalat jamaah, sementara orang tuanya tidak bisa mendiamkannya dengan tetap bertahan shalat, dibolehkan untuk membatalkan shalat untuk menolongnya.
Dikhawatirkan dia menangis karena ada bahaya yang mengenai dirinya. Jika tangisan anak bisa ditenangkan dengan tanpa harus membatalkan shalat, misalnya dengan digendong atau ditaruh di pangkuan, itu lebih baik. (Fatwa Islam, no. 75005)

Keempat

Imam turut meringankan beban jamaah
Ketika imam mendengar ada anak menangis yang sulit untuk didiamkan, imam dianjurkan meringankan shalat jamaah. Dengan tetap memperhatikan kekhusyuan shalat.

Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّى لأَقُومُ فِى الصَّلاَةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا ، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِىِّ ، فَأَتَجَوَّزُ فِى صَلاَتِى كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ

Saya pernah mengimami shalat, dan saya ingin memperlama bacaannya. Lalu saya mendengar tangisan bayi, dan sayapun memperingan shalatku. Saya tidak ingin memberatkan (kegusaran) ibunya. (HR. Ahmad 2202 dan Bukhari 707)

Ar-Ruhaibani mengatakan,

ويسن للإمام تخفيف الصلاة إذا عرض لبعض مأمومين في أثناء الصلاة ما يقتضي خروجه منها كسماع بكاء صبي

Dianjurkan bagi imam untuk meringankan shalatnya ketika ada masalah dengan sebagian makmum pada saat shalat jamaah, sehingga mendesak makmum untuk segera menyelesaikan shalatnya, seperti mendengar tangisan bayi. (Mathalib Ulin Nuha, 1/640).

Demikian 4 hal yang dimungkinkan, jadi kita sebagai makmum boleh membatalkan shalat bila memang mendesak, atau anak menangis dalam bahaya. Dan seorang imampun harus turut meringankan shalat untuk mengurangi kecemasan ibu/bapak anak yang sedang menangis. Semoga bermanfaat.
SHARE ARTIKEL