Di Zaman Rasulullah, Inilah Mahar Unik Pada Saat Pernikahan

Penulis Dzikir Pikir | Ditayangkan 21 Jun 2016

Di Zaman Rasulullah, Inilah Mahar Unik Pada Saat Pernikahan
Rasulullah mengatakan bahwa wanita-wanita yang diberkahi adalah yang paling ringan maharnya
Suatu pernikahan selalu identik dengan mas kawin atau yang disebut juga sebagai mahar, karena ini adalah suatu bentuk pemberian mempelai pria kepada calon pengantin wanita. Selain itu, mahar merupakan salah satu syarat sah dalam pernikahan dimana bentuknya dapat berupa harta atau pun bentuk lainnya.

Mahar memiliki makna yang cukup dalam, dimana hikmah disyariatkannya mahar menjadi pertanda tersendiri bahwa seorang wanita memang harus dihormati dan dimuliakan.Meskipun demikian, Rasulullah mengatakan bahwa wanita-wanita yang diberkahi adalah yang paling ringan maharnya. Dikutip dari viva.co.id, di zaman Rasulullah, ada beberapa mahar-mahar unik yang diberikan oleh para mempelai pria kepada pengantin wanita. Berikut ulasan selengkapnya.

1. Sepasang sandal
Mahar unik pertama yang diberikan di zaman Rasulullah adalah sepasang sandal. Dimana pada saat itu ada seorang pengantin muslimah dari Bani Faza’ah yang dinikahi dengan mahar hanya sepasang sandal. Sebelumnya Rasulullah SAW  bertanya pada perempuan itu apakah ia ridha dengan mahar yang akan diberikan calon suaminya, yang hanya berupa sepasang sandal. Dan perempuan itu pun menjawab dengan tulus bahwa dirinya ridha.

“Dari Amir bin Rabi'ah disebutkan bahwasanya ada perempuan dari Bani Faza’ah yang dinikahkan dengan mahar sepasang sandal.  Dan Rasulullah SAW pun bertanya kepadanya, “Apakah engkau meridhai dirimu dan apa yang kau miliki dengan sepasang sandal ?” Maka perempuan  tersebut menjawa, “ya”. Dan Rasulullah pun membolehkanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Baca Juga : Rasulullah Bersabda : Jika Kita Mengerjakan Amalan Ini, Akan Mendapat Pahala 70 Orang Nabi

2. Cincin besi
Bila mahar unik sebelumnya adalah sepasang sandal, maka mahar unik yang satu ini berupa cincin besi.  Rasulullah SAW sangat mempermudah para sahabatnya untuk menikah. Bahkan, maharnya pun disesuaikan dengan kemampuan calon suami selama istri ridha menerimanya.

Rasulullah SAW bahkan menyebutkan bahwa pemberian mahar berupa cincin besi hukumnya adalah boleh bagi sahabatnya yang memang tidak memiliki harta. Sebagaimana diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,
“Berikanlah kepadanya (mahar) meskipun itu hanya sebuah cincin besi.” (HR. Bukhari-Muslim)

3. Baju besi
Mahar unik selanjutnya yang pernah diberikan di zaman Rasulullah adalah baju besi. Islam sungguh sangat memudahkan mahar dalam pernikahan. Bahkan selain bisa dibayar tunai, Rasulullah pun memperbolehkan bila mahar dibayar kemudian.

Bila mahar unik sebelumnya terjadi pada pernikahan orang lain dan dibayar tunai, maka mahar berupa baju besi ini diperuntukkan bagi putri Rasulullah yaitu Fatimah RA yang dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib beberapa waktu setelah akad nikah terjadi. 

“Dari Ibnu Abbas RA bahwasanya ketika Ali RA menikahi Fatimah RA, Rasulullah SAW berkata kepadanya, “Berikanlah ia (mahar) sesuatu”. Dan Ali menjawab, “Aku tidak memiliki apapun.” Maka Rasulullah bersabda, “Berikanlah baju besimu” (HR. An-Nasa’i)

4. Membacakan Al-Qur’an
Mahar unik selanjutnya adalah berupa bacaan Al-Qur’an. Hal ini dialami oleh seorang sahabat nabi yang memang tidak memiliki apapun termasuk cincin besi. Oleh sebab itu Rasulullah pun bertanya apakah ia hafal ayat-ayat Al-Qur’an. Dan beliau juga menyuruh sahabatnya tersebut untuk membacakan beberapa ayat Al-Qur’an yang dihafalkannya sebagai mahar.

5. Mengajarkan Al-Qur’an
Bila mahar berupa membaca hafalan Al-Qur’an kini telah sering dilakukan oleh para aktivis dakwah, namun pada zaman Rasulullah juga ada pernikahan yang maharnya berupa mengajari Al-Qur’an.  Bahkan dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwa jumlahnya 20 ayat.

Baca Juga : SUBHANALLAH : 4 Golongan Manusia Ini Berebut MASUK SURGA DAN TANPA HISAB

6. Masuk islam
Bila mahar sebelumnya unik-unik, maka mahar yang satu ini paling unik dan istimewa. Sebab, mahar ini berupa masuk islamnya seorang laki-laki kafir yang ingin menikahi seorang wanita muslimah.

Adalah Abu Thalhah, seorang duda yang ingin melamar Ummu Sulaim yang telah menjanda karena suaminya meninggal. Meskipun Abu Thalhah merupakan seorang laki-laki yang tampan, kaya dan memiliki kedudukan yang terhormat, namun Ummu Sulaim menolaknya karena Abu Thalhah masih musyrik. Oleh sebab itu, akhirnya Abu Thalhah masuk Islam dan menjadikan hal tersebut sebagai mahar pernikahan keduanya.

Pada zaman Rasulullah SAW, mahar diberikan mempelai pria sesuai kemampuan. Meskipun tidak mahal dan mewah, namun kenyataannya para sahabat-sahabat nabi tersebut dapat menjalani pernikahannya dengan bahagia. Sebab, mahar bukanlah penentu kebahagiaan seseorang didalam pernikahan. Karena sejatinya yang menentukan kebahagiaan adalah sikap dan perilaku masing - masing pasangan.
SHARE ARTIKEL